
"Ibu tenang saja, saya berjanji akan menjaga dan melindungi anak dan cucu Ibu dengan baik. Jika Ibu memang sudah ingin berpulang, maka. Ibu bisa beristirahat dengan tenang, karena anak dan cucu Ibu sudah ada ditangan yang tepat yang akan selalu menjaga dan melindungi mereka,"
Usai mendengar jawaban dari sang menantu, Bu Marni pun mengangguk lemah, lalu perlahan matanya tertutup dan tenaganya menghilang begitu saja.
Bahkan tangan yang ada didalam genggaman Namira pun langsung terjatuh begitu saja. Akhirnya, hari itu juga Bu Marni menghembuskan nafas terakhirnya setelah menitipkan sang anak dan cucu nya pada pria yang sudah menjadi menantunya sejak 7 tahun yang lalu namun, ini adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan pria yang sudah menikahi putrinya itu.
Melihat itu, Abra pun langsung memanggil pihak dokter untuk memeriksa keadaan Bu Marni dan memastikan kondisinya saat ini.
"Innalillahi wa innailaihi rajiun, maaf. Ibu Marni sudah berpulang Bu, Pak," ucapan Dokter barusan, seketika saja membuat dunia Namira menggelap.
"IBUUUU,,,,"
Bruggghhh
"Astaghfirullah, Namira." seru Abra yang lansung menangkap tubuh Namira yang terkulai lemas, hampir saja jatuh tersungkur kelantai jika saja Abra tidak menangkap tubuhnya.
Abra langsung mengangkat tubuh Namira untuk dibaringkan di sofa yang ada diruangan itu. Sementara si kecil Darren masih terlihat bingung dengan situasi yang terjadi diruangan yang baru beberapa menit saja dia datangi itu.
__ADS_1
Abra pun langsung menghubungi Marco untuk membantunya mengurus kepulangan jenazah Bu Marni ke rumah duka.
Dengan sigap, pria itu langsung datang kerumah sakit dan membantu mengurus kepulangan Bu Marni untuk segera dikebumikan.
Semenetara Abra sendiri masih mencoba menenangkan Namira yang masih menangis histeris diruangan Bu Marni.
Gadis itu menangis pilu didalam pelukan suaminya. Dunia nya hancur sudah dengan berpulang nya sang ibu kepangkuan sang maha kuasa.
"Sabar dan tegarlah. Ini sudah ketentuan dari Allah, ikhlaskan agar Ibu pergi dengan tenang,"
"Tapi sekarang aku sendiri Mas, aku tidak punya siapa siapa lagi. Lalu bagaimana bisa aku lanjutkan hidupku jika tujuan ku untuk bertahan dan berjuang sudah tidak ada,"
Jantung Abra seakan menari nari didalam sana saat Namira kembali memanaggilnya dengan sebutan 'Mas'.
Kurang ajar memang, saat sang istri menangis karena ditinggal sang ibu. Abra malah berjingkrak senang hanya karena Namira memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.
"Jangan bicara seperti itu, masih ada aku dan Darren. Apa kamu lupa jika kamu memiliki seorang anak dan suami? Tegarlah, kasihan ibu jika kamu terus seperti ini," bujuk Abra lagi mencoba membuat Namira tenang.
__ADS_1
Setelah merasa jika Nanira sudah lebih tenang, Abra pun langsung mengajak Namira untuk pulang kerumah guna mengurus pemakaman sang ibu.
Dengan menggunakan mobil yang di bawa tadi, Abra membawa pulang Namira dan juga Darren sang anak ke rumah duka.
Sedangkan Marco berada diambulan bersama dengan jenazah Bu Marni. Kedua mobil itu berjalan dengan saling beriringan dengan mobil Abra berjalan tepat di belakang ambulan yang membawa jenazah sang ibu mertua.
Tidak lama, kedua mobil itu pun sudah tiba dilingkungan tempat tinggal Namira dan sang ibu selama ini.
Kehadiran mobil ambulan dan juga mobil Abra langsung disambut oelh para warga setempat yang akan membantu proses pemakamana setelah Marco sebagai perwakilan dari Namira dan Abra menghubungi pengurus setempat untuk membantu proses pamakaman Bu Marni.
Tidak hanya satu dua orang yang melihat aneh, penuh dengan tanya. Saat Namira keluar dari dalam mobil mewah bersama dengan seorang anak kecil yang ada didalam gendongan nya.
Anak itu tempak masih tertidur lelap saat Namira turun dari mobil Abra. Abra langsung mengambil alih tubuh mungil Darren dari tangan Namira lalu ikut berjalan membelah kerumunan warga untuk masuk kedalam rumah sederhana milik Namira.
"Dimana kamarmu? Aku ikut menidurkan Darren disana, sepertinya dia kelelahan dan masih butuh waktu untuk tidur," tanya Abra saat keduanya sudah ada didalam rumah.
"Biar aku saja menidurkannya, Mas tolong bantu aku kosongkan ruangan ini saja. Kursi kursinya untuk sementara disimpan diteras saja, agar ruangan nya lebih luas untuk para pelayat," jawab Namira sendu, sembari mengambil alih tubuh Darren dari tangan Abra untuk dibawa masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Abra langsung memanggil Marco dan beberapa orang warga untuk membantunya mengosongkan ruang tamu dirumah itu untuk dipakai menyimpan jenazah sebelum dikebumikan.