Aku Ibunya

Aku Ibunya
35.Terluka Lagi?


__ADS_3

Namira mengerutkan dahi nya saat melihat wajah Darren yang sesekali meringis seperti menahan sakit di badan nya.


Namun rasa penasaran itu harus dia tahan karena waktu nya mengajar masih belum usai. Usai jam pelajaran selesai, tidak menunggu waktu lagi.


Namira pun langsung membawa Darren ketempat yang menurutnya aman untuk berbicara dari hati ke hati bersama dengan putranya itu.


"Ikut Ibu Darren," ucap nya langsung menarik tangan mungil itu untuk mengikutinya.


Namira membawa putranya ke klinik yang ada disekolahan itu dan meminta ijin pada dokter Andra untuk memberi ruang agar mereka berdua bisa bicara sembari mengobati luka yang ada ditubuh sang anak.


'Luka?' iya luka. Karena Namira yakin kini putranya kembali terluka hingga membuat wajah tampan nya memucat dan beberapa kali terlihat meringis menahan sakit.


"Permisi Pak, apa ruangan kesehatan nya kosong?" tanya Namira pada dokter Andra yang memang selalu ada disana setiap harinya.


"Eh Ibu Nami, silahkan masuk Bu. Kebetulan lagi kosong, ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?"


"Biasa saya pinjam dulu ruangan nya?"


"meminjam ruangan? Untuk apa ya?"


"Ada hal pribadi yang harus saya bicarakan dengan Darren. Dan saya rasa, hanya tempat ini yang saat ini aman untuk kami berbincang,"

__ADS_1


"Oh, begitu. Baiklah, silahkan masuk. Kebetulan saya juga mau ke kantin mau makan siang, sekalian minta tolong jagaian ruangan nya ya?"


"Iya, baik Pak. Terima kasih,"


"Iya, sama sama,"


Dokter Andra pun langsung keluar meninggalkan ruang kerjanya. Sekilas dokter Andra melirik Darren yang memang kembali terlihat tidak baik baik saja.


Entah apa yang terjadi pada putra dari seorang konglomerat itu hingga wajahnya jarang sekali terlihat bahagia.


Bahkan murung dan tertekan begitu dominan ditampilkan oleh wajah tampan yang begitu mirip dengan sang ayah, Abraham Adhijaya.


Sepeninggalan dokter Andra, Namira pun langsung membawa Darren masuk lalu menutup pintu ruangan itu rapat rapat.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari, Namira kembali menghampiri Darren yang menatap nya penuh tanya.


"Ayo, lepas baju mu sayang. Biar Ibu bantu mengobati lukanya," ucap Namira tiba tiba yang menbuat Darren tersentak kaget.


"Ma_maksud Ibu apa? Luka? Luka apa Bu?" tanya Darren gelagapan, mencekal jaket bomber yang dia kenakan.


"Sayang, kamu percaya kan sama Ibu? Ibu, akan selalu ada bersama kamu dan menjagamu Nak. Sekarang sudah waktunya kamu bicara apa yang terjadi pada kamu selama ini. Darren maukan bicara jujur sama Ibu apa yang terjadi selama ini?" bujuk Namira menyentuh tangan Darren yang mencekal jaketnya agar tidak dibuka oleh siapapun.

__ADS_1


Darren menatap nanarkearah wajah Namira yang juga tengah menatapnya penuh dengan luka. Alangkah bodohnya dia dulu yang tega meninggalkan putranya untuk hidup bersama dengan sang ayah yang kini membuat anak itu terluka verbal dan non verbal, hingga menimbulkan trauma.


Bukan nya menjawab, Darren malah berhambur masuk kedalam pelukan Namira. Darren menangis sejadi jadinya didalam pelukan sang ibu untuk pertama kalinya.


Wajah yang biasa nya memperlihatkan ketegaran dan kedewasaan kini basah oleh air mata kesakitan yang selama ini dia pendam sendiri.


Namira membiarkan putranya mengeluarkan semua risalah hatinya dengan menangis sepuasnya didalam dekapan orang yang baru beberapa minggu dia kenal namun begitu membuat nya nyaman.


Bahkan kalau bisa, Darren ingin terus berada disamping wanita itu. Sentuhan nya,belaian nya dan juga pelukkan nya begitu hangat dan juga begitu menenangkan.


Sungguh, jika boleh meminta. Darren ingin hidup bersama dengan wanita asing ini saja, dari pada bersama dengan kedua orang tuanya yang hidup penuh dengan kepalsuan.


Setelah merasa tenang, akhirnya untuk pertama kalinya. Mulut bocah kecil itu bercerita tentang kisah hidupnya yang memang bergelimangan harta namun miskin akan kasih sayang.


Meski sang ayah begitu mencurahkan semua kasih sayang nya padanya. Namun keberadaan pria itu yang jarang sekali ada dirumah membuatnya kesepian.


Belum lagi rasa tersiksa yang dia rasakan saat sang ibu yang meampiaskan segala amarahnya pada Darren semakin membuat anak kecil itu tidak bisa menampilkan senyum bahagia diwajahnya meski kehidupan nya begitu nyaris sempurna, dimata orang lain.


.


*****

__ADS_1


"Mohon maaf ya, kemarin Othor tidak sempat up. Berhubung ada acara keluarga yang membuat Othor tidak sempat up karena kelelahan šŸ™šŸ™šŸ™."


__ADS_2