
"Darreennn,"
Abra terlonjak kaget dan langsung bangkit dari sofa saat mendengar teriakan dari Namira yang menyerukan nama putra mereka, Darren.
Dengan tergesa, Abra langsung menghampiri Namira yang terlihat tengah mengatur nafasnya yang ngos ngosan.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Abra panik.
"Darren Mas, bagaimana keadaan Darren? Aku ingat semua sekarang, pengasuh itu, dia, dia akan melukai Darren," tanya Namira dengan paniknya.
Melihat itu, Abra langsung menarik tubuh Namira untuk masuk kedalam pelukkan nya. Abra mengusapkan tangan nya dipucuk kepala Namira hingga punggung nya dengan sangat lembut.
Dan itu memberika efek ketenangan bagi Namira. Namira hanya mampu terpejam saat merasakan perlakuan hangat dan lembut itu, namun tidak berani membalas pelukkan hangat itu.
Greeepppp
"Sudah, tenanglah. Putra kita selamat sayang, dia selamat karena kamu telah melindungnya,"
__ADS_1
Deg...
"A_anak kita?" lirih Namira tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
Abra pun mengurai pelukkan nya di tubuh Namira lalu menatap lekat wajah cantik yang masih terlihat pucat itu.
"Kenapa? Apa ada yang salah? Dia memang anak kitakan? Darren, adalah putra kita,"
Namira benar benar terpaku saat mendengar penuturan Abra. Matanya mengembun saat pria itu dengan tegas mengatakan kalao Darren adalah putra mereka, bukan putra Abra seorang.
"Terima kasih, terima kasih karena sudah bertaruh nyawa demi keselamatan anak kita. Terima kasih karena sudah melindunginya," lanjut Abra langsung memajukan wajahnya menempelkan bibir kenyalnya di kening Namira.
Rasanya sudah tidak tahan lagi menahan haru atas apa yang terjadi. Dimana Darren yang ternyata selamat dari insiden penculikan itu, dan juga pengakuan Abra yang dimana dirinyalah ibu dari anak itu.
"Sudah, jangan menangis lagi. Darren baik baik saja, ya meski kemarin sempat demam tinggi. Tapi dia sudah baik baik," lanjut Abra setelah merasa jika Namira sudah cukup tenang.
"Lalu, dimana dia sekarang?"
__ADS_1
"Untuk sementara, Darren dibawa dulu untuk sementara waktu oleh Mama. Meski fisiknya baik baik saja, namun tidak dengan psikisnya. Dia mengalami trauma berat hingga Mama memutuskan untuk membawanya pulang ke London untuk menjalani pengobatan disana,"
"Ba_baiklah, jika itu yang terbaik. Aku akan menunggu nya sampai dia kembali dengan ke adaan yang jauh lebih baik,"
"Bukan cuma kamu sayang, tapi aku juga. Dan kita, kita akan menunggu dia disini sampai dia kembali dengan ke adaan sehat sikis dan psikisnya. Oh iya, Mama juga titip salam dan pesan buat kamu. Mama bilang, maaf tidak bisa menunggu sampai kamu bangun untuk menyapa dan berterima kasih karena sudah menyelamatkan cucu kesayangan nya. Tapi, Mama bilang, Mama senang karena Mama memiliki memantu yang cantik dan sangat menyayangi putranya sampai rela terluka demi dia,"
Deg...
Seketika, Namira langsung mendongak. Menatap lekat wajah Abra demi memastikan jika dia tidak salah dengar.
Melihat respon Namira yang terlihat begitu kaget, Abra hanya tersenyum tipis yang di barengi oleh anggukan kepala.
"Iya, Mama sudah tahu tentang kita. Tadi dia juga kesini tapi nunggu kamu nya nggak bangun bangun. Jadi, Mama akhirnya memutuskan untuk mengcancel pertemuan kalian dulu karena keadaan Darren yang tidak baik baik saja," jelas Abra semakin membuat Namira terenyuh.
"Sekarang, lebih baik fokus dengan pemulihan kamu dulu saja, Ok. Setelah kamu benar benar pulih, kita bisa kesana untuk menemui anak kita," lanjut Abra yang membuat benteng pertahanan Namira akhirnya runtuh.
Namira langsung menubrukkan tubuh lemah nya ke tubuh kekar Abra. Abra yang belum siap akan hal itu tentu saja merasa kaget.
__ADS_1
Namun detik kemudian, sebuah senyuman terbit di wajah tampan nya di iringi dengan membalas pelukan dari Namira.