Aku Ibunya

Aku Ibunya
43.Pesan Terakhir


__ADS_3

"Ayo sana pergi, kenapa malah bengong?"


Seketika Abra terbangun dari keterkejutan nya pada Darren yang langsung keluar saat Marco membujuknya.


Berbeda saat berhadapan dengannya, bahkan tenggorokan Abra sampai kering untuk membujuk nya keluar namun anak kecil itu masih saja betah mengurung diri didalam kamar nya.


Menyadari jika sang anak sudah lebih dulu bejalan keluar dari apartemen, Abra pun langsung menyusul anak kecil itu yang saat ini tengah menunggunya didepan lift.


Tanpa banyak kata, Abra pun langsung menekan tombol lift agar pintu nya terbuka. Darren masuk lebih dulu setelah pintu lift itu terbuka. Keduanya masih sama sama bungkam, bahkan sampai mobil yang membawa mereka sampai dihalaman rumah sakit.


Masih belum ada suara yang keluar baik dari Abra atau pun Darren yang entah kenapa tidak bertanya sama sekali, untuk apa dia dibawa kerumah sakit.


Ekspresi wajahnya yang datar membuat Abra bingung apa yang sebenarnya dirasakan oleh bocah kecil itu.


Namun, mode marah sang anak kenapa terlihat begitu menggemaskan di mata sang ayah. Sampai didepan pintu ruangan dimana Bu Marni di rawat.


Abra pun menghentikan langkahnya sejenak, lalu terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutar handel pintu.


"Assalamu'alaikum, Ibu aku sudah kembali bersama dengan Darren," ucap Abra begitu dia masuk kedalam ruangan itu.


Abra terlihat mengerutkan dahinya saat melihat keadaan Bu Marni yang semakin lemah dengan wajah yang semakin pucat.

__ADS_1


Namun wajah yang sudah dipenuhi dengan kerutan itu tetap memaksakan diri untuk menampilkan senyum diwajah pucat nya.


"Ayo Nak, kenalkan. Ini Bu Marni, dia ingin bertemu dengan mu," ucap Abra pada sang anak dan menuntun bocah kecil itu untuk maju lebih mendekat lagi.


"Aku sudah tahu Papa, kami sudah saling mengenal," jawab Darren dengan nada ketus nya.


Sejenak Abra di buat tertegun dengan jawaban yang diberikan oleh putranya itu. Selain dengan nada ketus, Darren juga mengatakan jika mereka sudah saling mengenal.


Tampaknya Abra melupakan jika Darren pernah ikut pulang bersama dengan Namira, bahkan putra itu sampai menginap dirumah sederhana milik Namira sebelum mereka berlibur bersama ke Puncak.


"Halo Nek, bagaimana ke adaan Nenek sekarang? maaf, Darren baru bisa menjenguk Nenek," ucap Darren yang sudah terlihat begitu akrab dengan Bu Marni.


Namira semakin mengeratkan genggaman tangannya ditangan Bu Marni, seolah olah menahan sang ibu agar tidak pergi dari sisinya.


"Nak Abra, kemarilah. Ada yang ingin Ibu sampaikan," lanjutnya dengan suara yang kian lirih.


Abra pun berjalan mendekati brangkar dimana Bu Marni terbaring. Dengan sisa tenaga yang dia punya, Bu Marni memberikan pesan agar mulai saat ini Abra bisa menjaga dan melindungi Namira sepenuhnya.


"Apa yang ingin Ibu sampaikan? Silahkan, katakan saja Bu," jawab Abra ikut menggengam tangan Bu Marni yang dia tumpukan di atas tangan Namira yang begitu enggan melepaskan genggaman tangan nya ditangan sang ibu.


"Ada yang ingin Ibu pinta dari Nak Abra, anggap saja ini sebagai permintaan terakhir dari Ibu," lirih nya lagi.

__ADS_1


"I_Ibu, jangan begini Bu. Nami mohon," lirih Namira disela tangisnya.


Namun keluhan yang Namira layangkan tidak dihiraukan oleh sang ibu. Bu Marni langsung mengutarakan keinginan nya sebelum dia benar benar pergi.


"Tolong jaga dan lindungi anak Ibu ya Nak, mulai saat ini. Tanggung jawab Namira Ibu serahkan pada Nak, yang masih sah sebagai suaminya. Dan sebagai seorang suami, Ibu mohon, tolong jaga dan lindungi dia karena saat ini keluarga nya yang tersisa mungkin hanya kamu saja. Maka dari itu, Ibu titip dia ya Nak. Waktu ibu sudah tidak lama lagi dan Ibu sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi," jelas Bu Marni dengan nafas yang kian memberat.


"Nami mohon Bu, bertahan lah. Jangan tinggalkan aku sendiri,"


Tangis Namira kian pecah saat genggaman tangan dari Bu Marni semakin melemah. Dengan segera Abra menjawab dan menyanggupi permintaan dari ibu mertuanya itu.


"Ibu tenang saja, saya berjanji akan menjaga dan melindungi anak dan cucu Ibu dengan baik. Jika Ibu memang sudah ingin berpulang, maka. Ibu bisa beristirahat dengan tenang, karena anak dan cucu Ibu sudah ada ditangan yang tepat yang akan selalu menjaga dan melindungi mereka,"


"IBUUUU,,,,"


Bruggghhh


"Astaghfirullah, Namira."


.


***

__ADS_1


__ADS_2