Aku Ibunya

Aku Ibunya
41.Sudah Tahu


__ADS_3

"Kenapa harus menunggu sampai enam tahun untuk kalian berkata jujur dengan Ibu?"


Deg...


Pertanyaan yang keluar dengan suara yang lirih itu kembali menghantam jantung Namira dan juga Abra.


Keduanya kini sudah duduk berdampingan disamping brangkar yang ditempati oleh Bu Marni.


Namira menunduk dalam, kedua tangan nya yang saling tautan dia remas kuat. Entah harus mulai dari mana dia memulai menceritakan kisah pilu enam tahun yang lalu pada sang ibu.


"Ada kesalahpahaman dan kurang nya komunikasi antara kami Bu. Hingga setelah melahirkan, Namira pergi begitu saja. Bahkan mengabaikan kesehatan nya masih belum pulih benar pasca melahirkan, bahkan sebelum melihat bagaimana wajah putra kami," jawab Abra dengan nada penuh penyesalan.


Namira sendiri di seribu bahasa, kepalanya masih menunduk dalam dengan derai air mata yang tidak bisa dia tahan sedari tadi.


Saat sang ibu ternyata sudah mengetahui rahasia besar nya selama ini. Bodohnya, Namira mengira, jika diam nya sang ibu adalah sebagai ketidak tahuan tentang apa yang terjadi di enam tahun yang lalu.

__ADS_1


Namun dia salah besar, sang ibu diam bukannya tidak tahu. Namun menunggu sebuah pengakuan dan kejujuran yang harus nya Namira lakukan sejak awal, saat mereka memutuskan untuk menetap di kota kembang itu.


"Maafkan Nami Bu, sungguh. Nami tidak bermaksud menyembunyikan semuanya, kondisi kami saat itu yang mengharuskan kami bersembunyi. Bukan hanya pada ibu, namun pada seluruh dunia," lirih Namira disela isak tangis nya.


"Ibu sudah memaafkan mu Nak, sudah dari dulu Ibu memaafkan. Toh apa yang kamu lakukan juga demi Ibu dan Bapak, terima kasih. Terima kasih, karena pengorbananmu Bapak bisa dimakamkan dengan layak dan Ibu bisa kembali bernafas sampai detik ini,"


Tangis Namira kian pecah saat sang ibu malah berterimakasih atas apa yang telah dia lakukan selama ini.


Menikah diam diam, hamil, lalu melahirkan juga diam diam dan yang lebih parah, Namira melakukan semua itu dengan pria beristri yang tentu saja sangat tidak akan mungkin Bu Marni setujui jika dirinya dulu dalam ke adaan sehat.


Meski sangat kecewa dengan sikap sang anak yang tidak pernah berkata jujur padanya. Namun Bu Marni tetap memaklumi hal itu. Toh itu semua tidak mungkin putrinya lakukan jika saja mereka memiliki uang yang cukup untuk pengobatan nya dan juga pemakanan sang suami dulu.


Meski apa yang dilakukan oleh Namira salah besar, namun Bu Marni tetap harus berterima kasih pada putrinya itu.


Karena pengorbanan sang putrilah, sang suami bisa dimakamkan dengan layak dan dia bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik dari rumah sakit besar yang memiliki tagihan yang mungkin tidak akan sanggup dia bayara jika hanya dengan menggunkan gajih Namira sebagai seorang OG.

__ADS_1


"Lalu, dimana cucu Ibu sekarang? Bisakah Ibu bertemu dengan nya?"


"Bisa Bu, segera. Akan segera saya bawa dia kemari, I_Ibu tunggu ya. Saya akan kembali secepatnya dengan membawa Darren kemari untuk bertemu dengan Ibu,"


Lagi dan lagi, hanya Abra yang mampu menjawab semua pertanyaan yang Bu Marni layangkan.


Namira sendiri lebih memilih diam, tenggelam dalam rasa bersalah nya pada sang ibu yang kini terbaring kembali di ruangan ICU, hanya karena sebuah rahasia yang selama ini dia sembunyikan.


Setelah mendengar permintaan dari Bu Marni, Abra pun langsung undur diri untuk menjemput putranya Darren yang saat ini masih di apartemen dengan ditemani oleh Marco, sahabat Abra.


Meski masih bingung apa yang harus dia katakan pada putranya prihal status Bu Marni dan Namira. Namun satu hal yang ingin Abra lakukan saat ini.


Dia ingin mempertemukan cucu dan neneknya. Cucu yang selama 6 tahun ini tidak pernah tahu bagaimana wajah nenek dari sang ibu kandung.


Meski Darren juga mungkin belum tahu, jika Namira bukan hanya sekedar ibu guru untuknya. Namun Namira juga adalah ibu yang selama ini mengandung dan melahirkan dirinya.

__ADS_1


.


***


__ADS_2