
"Brengsek," umpat Abra langsung bangkit dari jongkok nya dan langsung bergerak ingin mendekati mobil yang kini tengah dinaiki oleh Namira dan Darren namun langsung dicegah oleh Marco.
"Tunggu dulu, jangan gegabah. Lebih baik kita ikuti kemana mereka pergi membawa Namira dan juga putramu, kita hubungi yang lain dulu. Terlalu beresiko jika kita menghadapi mereka hanya berdua saja. Tenanglah, kita pastikan jika istri dan anakmu akan selamat dan tidak terluka,"
Abra pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghampiri mobil dimana saat ini tengah membawa Darren dan Namira yang entah akan dibawa kemana.
Marco langsung masuk kedalam mobil bersama dengan Abra saat melihat mobil itu melaju dengan jarak yang cukup aman untuk di ikuti. Abra sendiri langsung menghubungi anak buah Marco untuk mengikuti kemana dirinya pergi dengan menghubungkan GPS yang terhubung dari ponselnya.
Mobil keduanya pun mulai memasuki jalan raya yang cukup ramai oleh para penghuni jalanan malam itu. Dan tentu saja hal itu akan sedikit mempersulit Marco untuk mengikuti mobil yang ada didepan nya.
Beruntung, Marco cukup memiliki kemampuan dalam sebuah misi pengintaian. Hingga dia pun tidak terlalu kesulitan. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mobil yang mereka ikuti memasuki sebuah sebuah halaman rumah yg terlihat seperti sebuah villa keluarga.
Abra mengepakan kedua tangan nya saat kembali melihat Namira dan putranya Darren diseret keluar dari dalam mobil lalu digiring masuk kedalam rumah itu.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Abra langsung menerobos masuk kedalam sana dan membawa pergi Darren dan Namira. Namun tampaknya, Abra harus sedikit bersabar, dia tidak bisa bertindak sembarangan.
Nyawa Namira dan juga Darren dipertaruhkan saat ini. Jangan sampai mereka dua orang itu celaka hanya karena Abra yang bertindak terlalu terburu buru.
"Apa mereka sudah tiba? Aku tidak bisa menunggu lagi. Anak dan istriku dalam bahaya,' tanya Abra pada Marco yang baru saja selesai menerima banggilan dari anak buahnya.
"Mereka sudah memasuki kawasan ini, ayo. Lebih baik kita kesana sekarang,"
Tidak menunggu lama lagi, Abra dan Marco pun langsung turun dari mobil dan langsung pergi ke arah rumah itu. Abra dan Marco pun langsung menerobos masuk kedalam halaman rumah itu dan hal itu, cukup mengagetkan para penjaga rumah yang sedari tadi berdiri di setia penjuru halaman.
"Tunggu, siapa kalian? Ada perlu apa kalian kemari?" tanya pria yang langsung sugap menghalangi langkah Abra dan juga Marco yang akan masuk kedalam rumah majikan mereka.
"Aku ingin membawa pulang wanita dan anak kecil yang kalian sekap didalam sana. Minggir atau kalau tidak, kalian habis ditanganku," jawab Abra yang kini sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
__ADS_1
Medengar itu, semua penjaga pun terlihat cukup kaget lalu detik kemudian. Mereka maju lalu menyerang Abra dan juga Marco. Hingga kini, adu jotos diantara mereka pun tidak terelakan lagi.
Dan tanpa Abra dan Marco sangka sangka, rupanya kelompok mereka cukup besar. Dan saat mendengar sebuah keributan yang berasal dari perkelahian antara Abra, Marco dan orang orang itu.
Semua yang tengah berjaga didalam pun berhambur keluar demi memberi pertolongan pada rekan rekan mereka.
Beruntung anak buah Marco pun datang diwaktu yang tepat. Hingga perkelahian dua kubu pun tidak bisa dihindari lagi. Setelah mendapatkan pertolongan dari anak buah Marco, Abra segera mencari celah untuk masuk kedalam rumah itu.
Sementara didalam rumah, sudah tampak kegelisahan diwajah cantik Sela yang kini sudah berubah drastis. Dari gadis yang lugu dan sederhana, kini penampilannya begitu glamor dan begitu cantik dengan polesan makeup yang cukup tebal.
"Brengsek, kita lihat saja. Tidak akan aku biarkan kamu memiliki mereka," gumam Sela sembari mengarahkan senjata api yang dipegang nya kepada Namira dan juga Darren yang duduk berdampingan dilantai dengan kaki dan tangan yang terikat.
"Hentikan,"
__ADS_1
Dorrr....