Aku Ibunya

Aku Ibunya
73.Oleh Oleh ala Darren


__ADS_3

***


Tok


Tok


"Kamu lagi apa sayang? Kenapa lama? Kamu, baik baik saja kan?" tanya Abra pada Namira yang sudah hampir satu jam menghabiskan waktu didalam kamar mandi.


Ceklek


Akhirnya pintu yang sejak tadi tertutup rapat itu terbuka dan menampilkan wajah cantik Namira meski tanpa polesan makeup.


"Kamu, kenapa? Kamu, nggak apa apa kan? Kenapa lama sekali?" tanya Abra lagi saat melihat Namira keluar dari kamar mandi.


"Tidak Mas, aku baik baik saja."


"Lalu, kenapa lama sekali? Bikin khawatir saja,"


Tanpa menjawab Namira pun langsung beranjak menuju ke arah ranjang yang akan mereka tempati malam ini untuk beristirahat.


"Sudah malam, sebaiknya kita istirahat Mas," jawab Namira tanpa menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh suaminya itu.


Namun gerakan Namira yang akan merangkak naik ke atas ranjang pun terhenti saat Abra memeluknya dari arah belakang.


Greepppp


"Tapi kangen sayang," bisik Abra tepat dibalik telinga Namira yang membuat tubuh wanita itu meremang.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama lagi, Abra pun langsung membalik tubuh Namira dan mempertemukan bibir mereka untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama terpisah.


Namira yang awalnya kaget pun akhirnya hanya bisa pasrah saat Abra mulai mengeksplor setiap sudut rongga mulutnya. Bahkan ******* dan lenguhan pun akhirnya lolos juga dari mulut Namira.


"Aku menginginkan mu Namira, apa aku bisa meminta hak ku sebagai seorang suami malam ini juga?" bisik Abra lagi disela deru nafas yang masih memburu akibat pergulatan lidah yang keduanya lakukan barusan.


Namira sendiri tidak menjawab dengan kata kata permintaan dari suaminya itu. Namun, dari gestur tubuhnya yang merespon baik setiap sentuhan yang dilakukan oleh pria itu seolah tanda jika Namira sudah memberikan nya lampu hijaunya pada Abra.


Abra semakin mengembangkan senyum diwajahnya saat sebuah anggukan kepala di tunjukan oleh Namira saat Abra menatapnya penuh damba. Melihat persetujuan itu, Abra pun langsung mendorong lembut tubuh Namira hingga terlentang di atas ranjang king size itu.


"Bismillah, aku mulai ya sayang," lanjut Abra masih dengan berbisik meminta persetujuan dari sang istri untuk memulai menjamah tubuh ramping itu.


Akhirnya, setelah sekian puluh purnama di lalui dengan kehampaan. Kini keduanya bisa kembali meraup manisnya madu pernikahan.


Saling melepas rindu yang membelit asa, meluapkan semua rasa yang dulu terpendam kini bisa mereka terealisasikan pada si pemilik rindu itu sendiri.


*


*


"Sabar sayang, Papa dan Mama kan lagi berusaha untuk membuatkan adek bayi untuk Darren. Jadi jangan ganggu Papa sama Mama dulu ya? Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama dan pulang dengan membawa adek bayi dalam perutnya Mama," bujuk sang nenek yang telinganya sudah mulai panas dengan pertanyaan yang yang sama dan berulang kali dilayangkan sang cucu padanya.


"Tapi aku kangen mereka Oma,"


"Bagaimana kalau kita telpon saja mereka, siapa tahu bisa mengurangi rasa rindu kamu, sayang,"


"Iya Oma, aku mau. Aku mau video call Papa dan Mama,"

__ADS_1


"Boleh, baiklah. Tunggu sebentar, Oma akan sambungkan dulu telpon nya pada ponsel Papa, ya?"


Tuutttt


Tuutttt


Klik


"Halo, assalamu'alaikum," sapa Namira yang mengangkat sambungan video call yang dilakukan oleh mama Wanda pada ponsel Abra.


"Wa'alaikumsalam, maaf sayang Mama mengganggu,"


"Tidak Ma, ada apa ya?"


"Mama ini Darren, Mama sama Papa kapan pulang? Darren kangen sama Mama dan Papa," kini yang menjawab bukan lagi Mama Wanda, melainkan Darren yang sudah merebut ponsel itu dari mama Wanda.


"Halo sayang, sama Mama juga sudah kangen Nak. Nanti Mama akan coba bujuk Papa ya, biar bisa pulang secepatnya,"


"Baiklah, jangan lupa bawa oleh oleh ya Ma,"


"Boleh, memangnya anak kesayangan Mama ini mau dibawakan apa?"


"Bawakan aku adek bayi yang banyak Ma,"


.


***

__ADS_1


__ADS_2