Aku Ibunya

Aku Ibunya
49.Menu Sederhana Membawa Nikmat


__ADS_3

"Tidak apa apa, aku membiasakan dia untuk makan apa aja yang ada dan yang dia suka. Selama makanan itu sehat dan bersih, aku tidak membatasinya untuk makan apa yang dia mau,"


Namira tertegun saat mendengar jawaban dari Abra. Dia tidak menyangka jika seorang Abraham Adhijaya, pria yang terlahir dari kalangan atas dan seorang konglomerat akan membebaskan anaknya untuk makan makanan yang dia sukai.


Setahunya, dan biasanya. Orang orang kalangan atas itu, apalagi konglomerat seperti Abra. Biasanya akan membatasi anak anaknya untuk tidak makan sembarangan. Namun berbeda dengan Abra yang membebaskan putra nya untuk makan makanan yang sang anak sukai, meski mungkin itu kurang sehat.


"Aku hanya ingin dia seperti ibunya. Yang begitu menikmati makanan yang disantap, meski itu hanya nasi putih hangat dengan lauk telur dadar saja. Kamu terlihat begitu cantik saat makan dengan lahap," seketika tubuh Namira dibuat meremang oleh bisikan yang Abra lakukan tepat dibelakang tengkuk lehernya.


Saat berjalan menuju ke meja makan dan melewati tubuh Namira, Abra sengaja membisikan kata kata itu. Abra kembali teringat bagaimana terpesonanya seorang Abraham pada sosok wanita muda yang tengah makan dipinggir jalan dengan menu sederhana namun begitu menikmati apa yang dia santap.


Hingga saat itulah Abra pun mulai membebaskan sang anak untuk makan apapun yang dia mau. Selama itu bersih dan sehat, tidak ada larangan untuk Darren dalam hal makanan.


Abra berjalan menuju ke meja makan untuk menyantap menu sarapan nya pagi ini. Abra tersenyum tipis saat di atas meja sudah tersedia kopi yang biasa dia minum sejak berpuluh puluh tahun yang lalu dan tidak pernah menggantinya.

__ADS_1


Dia tidak menyangka jika Namira masih saja mengingat apa yang setiap pagi dia minum. Dan itu adalah sebuah kewajiban untuk pria itu sebelum memulai aktifitasnya, bergelut dengan berkas berkas dan dokumen dokuman diatas meja kerjanya.


Namira pun menyusul bersama dengan Darren yang berjalan dengan saling bergandengan tangan. Sungguh gambaran keluarga kecil yang harmonis. Sayangnya, itu masih ada dalam angan saja. Karena faktanya, Namira masih enggan menerima statusnya sebagai istri dari Abra.


Sementara untuk Darren sendiri, tentu saja masih belum mengetahui kebenaran akan keberadaan Namira dan status apa yang harusnya disandang oleh wanita itu.


"Terima kasih sayang, ternyata, kamu masih ingat semua kesukaan **dan kebiasaan**ku,"


Uhuukkk


Uhuukkk


Uhuukkk

__ADS_1


"Kamu kenapa? Pelan pelan dong makan nya, tidak akan ada yang merebutnya darimu," ucap Abra belaga tidak tahu apa yang membuat Namira tersedak.


"Ini, minum dulu," lanjutnya menyodorkan satu gelas air putih miliknya.


Tanpa pikir panjang, Namira pun langsung mengambil dan meminum air didalam gelas itu hingga tandas. Bahkan tanpa sadar, Namira meletakan bibirnya dibekas bibir Abra yang sebelum nya sudah lebih dulu meminum air didalam gelasnya itu.


Abra pun tersenyum tipis saat menyadari jika bibir Namira kini ada tepat diatas bekas bibirnya, saat wanita itu meminum air yang tadi dia berikan.


Entah mengapa, dengan hal sekecil itu pun membuat Abra merasa jika didalam hatinya kini didatangi ribuan kupu kupu dan juga ribuan bunga bunga yang bermekaran.


Hingga menu sarapan nasi goreng yang sederhana itu pun terasa begitu nikmat, mengalahkan nikmatnya steak mahal yang biasa Abra santap disetia harinya.


"Jadi begini ya rasanya makan dengan orang orang terkasih? Meski dengan makanan yang seadanya, namun terasa begitu nikmat saat dinikmati bersama," Gumam Abra saat mulai memakan menu sarapan miliknya.

__ADS_1


__ADS_2