
"Lepaskan aku brengsek, akan aku pastikan jika kamu akan mati ditanganku," Marco mengabaikan teriakan penuh dengan ancaman yang diucapkan oleh Amanda padanya.
Pria bertubuh kekar dengan tato yang memenuhi tubuhnya, Marco langsung masuk kedalam mobil yang berbeda dengan yang dinaiki oleh Amanda.
"Lepas brengsek, biarkan aku keluar kalau tidak akan aku____"
Bugghhh
"Heekkk,"
Set....
Seketika umpatan yang keluar dari mulut Amanda terhenti saat salah satu yang bertugas menjaga nya memukul tengkuk wanita itu hingga pingsan.
"Hei, apa yang kau lakukan? Jangan menyakitinya," ucap pengawal lain saat melihat teman nya memukul wanita itu hingga pingsan.
"Tenang saja, dia hanya pingsan. Aku sudah tidak tahan mendengar teriakan nya, lagi pula dengan membiarkan nya terus memberontak seperti itu yang celaka bukan hanya dia, tapi kita juga. Biarkan dia seperti itu, setidaknya kita akan aman dalam perjalanan,"
Semua anak buah yang membantu pun mulai memasuki mobil masing masing dan pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan orang orang yang sudah mereka lumpuhkan sebelumnya dan mengunci orang orang itu didalam rumah.
Toh semua yang tergeletak disana hanya tidak sadarkan dirinya saja karena dihajar habis habisan oleh orang orang yang Marco bawa.
__ADS_1
Selanjutnya, mobil yang berjumlah lima mobil itu mengikuti arahan sang atasan menuju kesuatu tempat yang mungkin hanya Marco dan Abraham yang tahu.
.
***
.
Sementara mobil yang membawa Abra dan Namira, baru saja memasuki halaman rumah sakit. Boy yang saat ini membawa mobil itu langsung menuju ke IGD rumah sakit itu.
Setibanya didepan IGD, Abra langsung membawa masuk tubuh Namira dalam gendongan nya menuju ke ruang penanganan pasien darurat.
"Dokter, Suster tolong. Tolong istri saya terluka," seru Abra berteriak setengah putus asa saat melihat wajah Namira kian pucat pasi.
Mendengar teriakan minta tolong dari seseorang, semua tenaga medis yang tengah berjaga pun berhamburan keluar dengan membawa satu buah brangkat.
"Mari tuan, baringkan disini. Kami akan segera memerikasanya dan anda mohon tunggu diluar," ucap salah satu dokter yang datang membantu.
Dengan tubuh yang bergetar, Abra pun akhirnya hanya bisa pasrah saat pintu ruangan itu mulai tertutup rapat.
Abra menjatuhkan tubuh kekarnya di kursi tunggu pasien yang ada didepan ruangan penanganan dimana Namira tengah ditangan oleh para tenaga medis disana.
__ADS_1
"Papa,"
Sebuah seruan lirih dengan nada sedikit bergetar membangunkan Abra dari rasa ketakutan nya akan apa yang terjadi pada Namira.
Abra menoleh ke arah kiri dan mendapati sang anak dengan wajah yang tidak kalah pucat dengan Namira tadi, sebelum wanita itu dibawa masuk untuk ditangani.
Tenaga Abra yang awalnya serasa menghilang pun kini kembali ada saat melihat sang anak. Abra langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Darren yang masih ada didalam gendongan Boy.
"Sayang, kamu tidak apa apa Nak? Maaf, tadi Papa terlalu fokus pada Ibu Nami karena dia terluka," ucap Abra membawa Darren dalam pelukkan nya. Didekapnya erat tubuh mungil itu.
"Kamu tidak apa apa kan sayang? Apa ada yang terluka?" tanya Abra lagi setelah mendudukan diri dengan Darren yang ada diatas pangkuan nya.
"Tidak Papa, aku hanya takut. Suster Sela ingin menembakku Pa, aku takut," gumam anak itu semakin mengeratkan pelukkan nya di leher Abra.
Tangan kecil itu membelit kuat dileher sang ayah tatkala mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana dirinya hampir terluka, jika saja Namira tidak menghalanginya.
"Tenanglah, semua sudah aman. Kamu dan Ibu Nami akan baik baik saja," ucap Abra semakin mendekap erat tubuh Darren dan mengusap lembut punggung sang anak demi memberikan ketenangan untuknya.
Sementara Namira sendiri harus langsung menjalani operasi demi mengeluarkan peluru yang kini ada didada sebelah kirinya.
Dan setelah mendapatkan persetujuan dari Abra selaku wali dari Namira saat ini. Namira pun langsung digiring keruang OK untuk menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang ditubuhnya.
__ADS_1