
Desas desus prihal kehadiran dua pria asing yang membantu pemakaman Bu Marni pun mulai terdengar.
Tidak hanya satu, dua warga saja. Namun hampir semua tetangga yang melihat kehadiran Abra dan Marco berbisik bisik dan bertanya tanya, siapakah kedua pria asing yang memiliki tampilan berkelas itu.
Bahkan banyak juga orang orang yang berlalu lalang yang membantu dirumah duka berdecak kagum saat melihat penampilan Abra yang dari atas hingga bawah mengenakan barang barang branded dengan harga yang tidak masuk akal.
Namun satu hal yang membuat warga sekitar cukup merasa kagum pada pria dari kalangan atas itu. Dia tidak segan segan untuk masuk kedalam liang lahat guna membantu menurunkan jenazah Bu Marni dan tidak peduli jika kemeja dan celana mahal yang dia kenakan akan kotor terkena tanah pemakaman.
Bahkan dari raut wajah nya pun, Abra tidak menunjukan rasa jijiknya sama sekali. Abra bahkan terlihat menggunakan cangkul untuk membantu menutup jasad Bu Marni dengan tanah.
Namira pun merasa terharu dengan apa yang dilakukan Abra. Dia tidak menyangka jika pria se arogan Abra bisa turun langsung dalam proses pemakanan sang ibu.
Seketika pandangannya terhadap ayah dari anaknya itu pun sedikit berubah. Meski begitu, Namira masih menyimpan rasa kecewa atas kejadian 6 tahun yang lalu.
Dimana dia harus pergi meninggalkan putra yang bahkan belum sempat dia lihat dan di susui. Usai pemakaman selesai, Namira tidak langsung pergi begitu saja.
Namira masih terlihat anteng duduk disamping pusara sang ibu. Meski sudah tidak menangis, namun kesedihan di matanya masih terlihat dengan begitu jelas.
__ADS_1
Abra pun berjalan mendekat dan ikut duduk disamping Namira saat ini.
"Ayo pulang, masih ada yang harus kita urus dirumah. Biarkan Ibu tenang ditempat peristirahatan terakhirny," bujuk Abra yang tidak dihiraukan oleh Namira.
Gadis itu masih betah duduk menatap sendu batu nisan yang bertuliskan nama sang ibu. Sungguh, Namira tidak pernah menyangka jika kini dirinya seorang anak yatim piatu dan hidup seorang diri.
Namira tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia beranjak untuk kembali kerumah sederhana nya. Abra sendiri masih setia menemani nya.
Abra berjalan tepat dibelakang Namira, dan saat memasuki area perumahan, tiba tiba indra pendengar nya menangkap sebuah percakapan antara dua orang wanita yang duduk diteras warung.
"Kemarin, sebelum pingsan saya lihat jika rumah Bu Marni kedatangan tamu wanita cantik. Entah apa yang mereka bicaakan yang membuat Bu Marni jatuh pingsan setelah wanita muda itu pergi,"
"Tapi, ada masalah apa ya? Kok Bu Marni tiba tiba didatangi anak orang kaya?"
"Tidak tahu, eh tapi. Kamu lihat nggak tadi, ada dua pria asing yang penampilan nya keren abis. Apa Namira merebut suami wanita yang kemarin datang itu ya?"
"Oh iya, bisa jadi sih,"
__ADS_1
"Selama ini mereka emang tertutup banget kan. Itu bisa saja karena memang mereka lagi sembunyi atau apalag gitu, biar nggak ketahuan,"
"Oh iya ya, kamu benar. Bisa saja begitu,"
Seketika semua ucapan itu membuat hati Namira kembali terluka. Namun ingin marah pun tidak bisa, toh apa yang mereka bicarakan benar adanya.
Meski dengan cara yang terpaksa, namun tetap saja Namira sudah masuk kedalam rumah tangga seseorang dan menjadi orang ketiga di antara mereka.
Seandainya takdir tidak menyimpan nya dalam keadaan sulit, mungkin hala ini tidak akan pernah Namira lakukan.
Lebih baik hidup sebagai seorang kuli yang hidup pas pasan namun tidak meruksak rumah tangga orang lain. Dari pada hidup serba berkecukupan namun ada hati yang dia sakiti dan ada rumah yang dia hancurkan kebahagiaan nya.
Lain Namira lain juga Abra. Jika Namira larut dalam perasaan bersalah dan peneyesalan. Abra malah fokus dengan orang yang mendatangi mertuanya itu.
Wanita cantik dan berkelas, seketika ingatan nya tertuju pada satu wanita. Alma, iya Alma. Saat ini Abra hanya memikirkan satu wanita saja, yaitu Alma.
Namun Abra juga tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan. Toh permasalahan dengan Darren pun masih menimbulkan tanda tanya besar untuknya.
__ADS_1
Dimana masih terdapat beberapa kejanggalan dari setiap keterangan yang Darren ungkapkan. Dan mungkin saat ini, yang harus Abra lakukan adalah, menyelediki semuanya dengan lebih teliti lagi agar semua yang terjadi akhir akhir ini bisa terjawab.