Aku Ibunya

Aku Ibunya
Extra Part 2


__ADS_3

***


Ingin sekali aku berkata jujur pada Papa tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun lagi lagi, ancaman dari nenek sihir itu kembali terngiang ngiang ditelinga ku hingga aku pun terpaksa kembali bungkam.


"Bisa cerita sama Papah, apa yang terjadi sayang? Dari mana luka lebam itu?" tanya Papa saat dia sudah ada di dekatku.


Namun karena rasa takut, aku pun hanya merespon dengan sebuah gelengan kepala.


"Emmm, baiklah. Jika belum mau bicara sama Papa dan juga ibu tidak apa apa. Darren mau ikut Ibu nggak?"


Seketika aku pun menoleh ke arah guru baruku itu. Dia menawarkan aku untuk ikut dengan nya.


"Besok kan weekend, Ibu mau pergi jalan jalan ke daerah Lembang, jika Darren mau, kita bisa pergi bersama. Di Sana ada tempat wisata yang menampilkan miniatur dari beberapa negara, ada juga mini zoo, ada juga taman rekreasi berkuda. Darren tinggal pilih mau kemana biar Ibu temani, bagaimana?" lanjutnya lagi dan tentu saja itu membuatku senang.


Selama ini aku hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan sekolah. Dan sama sekali tidak pernah piknik bersama keluarga.


Hingga aku pun setuju untuk ikut bersama dengan Bu Nami. Namun aku tidak mampu berkata kata dan hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Ok, kalau begitu besok kita bertemu disini ya, di pintu gerbang depan. Sekarang Darren pulang dulu dengan Papah, istirahat biar besok semangat pergi liburan nya," Namun aku kembali gelengan kepala.


Aku benar benar tidak mau pulang, aku tidak mau bertemu dengan kedua nenek sihir itu. Aku ingin tidur dengan tenang, aku lelah terus saja dihantui oleh mereka berdua hingga untuk tidur pun aku sungguh kesulitan.


"Sayang, kenapa? Bicara dong sayang, biar kami mengerti," bujuk Papa lagi yang akhirnya membuat aku membuka mulutku. Menyuarakan pendapat dan keinginan ku.


"Aku mau ikut Ibu guru pulang Pa, tolong, ijinkan aku menginap di rumah Ibu guru Papa. Kali ini aja, Darren minta Papa ijinkan Darren menginap di rumah Ibu guru ya."


"Kamu yakin sayang?" tanya papa lagi dan aku kembali menganggukkan kepala ku.


Seperti mendapatkan sosok ibu yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari Mama Alma. Dan entah karena alasan apa juga, Mama Alma begitu membenci ku.


Aku sungguh tidak tahu kenapa dia sampai membenciku dan membiarkan wanita gila itu terus merundung ku.


Dan kini, disinilah aku. Kedatangan ku disambut baik oleh seorang nenek yang ternyata itu adalah ibu dari Bu Nami.


Wanita paruh baya yang sudah ringkih namun tetap bersemangat melakukan kegiatan didalam rumah. Disini, aku diperlakukan dengan begitu baik.

__ADS_1


Sampai sampai rasanya aku tidak ingin pulang dan ingin menetap disini saja selama nya. Rumah ini jauh lebih sederhana dari rumahku.


Namun, kehangatan didalam nya jauh lebih baik dari pada di rumah mewah milik keluarga ku. Jika bisa, aku akan menukar semua ini dengan apapun yang aku punya agar aku bisa bersama dengan keluarga yang hangat ini.


Bahkan menu makan malam yang aku santap saat ini jauh dari kata mewah dan mahal. Hanya menu sederhana namun membuat aku sangat lahap saat memakan nya.


Ternyata seperti ini ya makan malam bersama dengan keluarga yang saling menyayangi? Ternyata menu sederhana jauh lebih nikmat dari pada makanan mahal, jika kita memakan nya bersama dengan orang orang yang saling menyayangi satu sama lain.


Sungguh, aku merasa sangat iri pada Bu Nami. Dia tidak memiliki apa yang aku miliki saat ini, tapi Bu Nami tampak begitu bahagia.


Sangat kontras dengan aku yang memiliki segalanya namun hidupku tidak pernah merasa bahagia meski itu hanya sebentar saja.


Jika bisa meminta, bolehkah jika Ibu Namira menjadi ibuku saja, ya tuhan? Aku menginginkan nya untuk menjadi sosok Mama yang selama ini aku rindukan.


*


***

__ADS_1


__ADS_2