Aku Ibunya

Aku Ibunya
38.Ketegasan Yang Terlambat


__ADS_3

Seorang wanita muda tampak berdiri dengan tubuh yang bergetar, dia meremas tangan nya yang saling bertautan.


Air matanya sudah turun deras sedari tadi hingga membasahi wajah ayu nya. Namun sang majikan masih saja mengintimidasi nya sebelum dia puas mendengar jawaban atas pertanyaan yang dia layangkan.


"Maafkan saya tuan, saya benar benar tidak bisa mencegah apa yang nyonya lakukan pada tuan muda Darren. Saya sering mendapat ancaman dari nyonya, maka dari itu saya tidak berani menghentikan nya menyakiti Darren," lirih nya mencoba menutupi apa yang terjadi pada Darren dengan melempar semua kesalahan pada Alma.


Inilah yang selama ini Sela tunggu tunggu. Dimana dirinya ditanyai prihal kekerasan yang dilakukan oleh Alma pada putra dari majikan nya itu.


Maka dengan melempar semua kesalahan pada Alam, maka dia bisa menutupi prilakunya kasarnya pada Darren. Sela? Iya, Sela. Saat ini Abra tengah mengintrorasi sang baby sister yang sudah dua tahun ini menjaga putranya Darren.


Semenjak Mbok MInah meninggal, maka Sela lah yang menggantikan wanita paruh baya itu untuk menjaga dan merawat Darren.


Namun, tanpa kedua majikan nya ketahui. Jika selama ini Sela pun melakukan hal yang sama dengan Alma. Yaitu, selalu bersikap kasar pada bocah kecil itu dan juga kerap mengancamnya.

__ADS_1


Agar apa yang dia lakukan tidak diketahui oleh Abra atau pun Alma. Bahwa selama ini dia selalu bersikap semena mena pada anak majikan nya itu.


Melihat Alma memperlakukan Darren dengan kasar, Sela pun merasa tidak perlu lagi bersikap baik pada anak majikan nya itu.


Apalagi saat tidak sengaja dia tahu jika Darren bukanlan anak dari Alma, maka semakin menjadi jugalah sikap kasarnya pada Darren.


"Ok, aku percaya padamu. Sekarang, keluarlah dan lakukan tugasmu dengan baik," jawab Abra pada Sela yang sudah terlihat sangat ketakutan itu.


"Berhasil, rencanaku berhasil. Sebentar lagi, akan aku pastikan jika wanita mandul itu ditendang dari rumah ini. Lihat dan tunggu saja, waktu mu tidak akan lama lagi disini," gumamnya dalam hati sembari melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja milik Abra.


Sementara Abra sendiri masih duduk tenang di kursi meja kerjanya yang ada didalam rumah megahnya itu.


"Keluarlah, kamu lihat dan dengar sendirikan apa yang dia katakan? Kamu yakin dia tidak tahu apa apa?" tanya Abra pada seorang pria bertubuh kekar dengan tangan dipenuhi oleh tato naga yang menutupi penuh satu tangan nya.

__ADS_1


"Sangat meyakinkan, tapi. Kamu tidak boleh percaya begitu saja, selidiki lebih lanjut apa yang terjadi pada putramu. Ck, ayah macam apa kamu ini, bahkan anak kamu di aniaya seperti itu kamu tidak tahu. Dan yang lebih memalukan, kenapa harus Namira yang menemukan semua ini lebih dulu? Sebagai seorang ayah dan suamu kamu benar benar payah Ham," cebiknya pada sang sahabat.


"Diamlah, jangan buat kepalaku semakin mau pecah saja. Tapi, terima kasih kamu sudah mau datang kemari,"


"Mana bisa aku menolahmu Ham, katakan saja. Apa yang bisa aku bantu,"


"Alma, tolong pastikan dia tidak datang kerumah utama Adhijaya. Kondisi Mama sedang memburuk, jadi pastikan dia tidak mengadu aneh aneh pada Mama,"


"Ok, kenapa tidak kamu ceraikan saja wanita itu. Toh dia tidak bisa jadi istri dan ibu yang baik,"


"Seandainya bisa, sudah aku lakukan dari dulu saat aku jatuh cinta dengan ibu dari anakku. Tapi, kamu tahu sendiri bagaimana sayang nya Mama pada Alma. Apalagi saat tahu jika Alma sudah berhasil memberiku seorang anak, Alma sudah seperti nyawanya sendiri. Meski berat, aku tetap harus memepertahankan pernikahan ini demi kelangsungan hidup Mamaku," lirih Abra dengan helaan nafas yang berat dan juga panjang.


Terlihat jelas jika beban yang dia pikul tidaklah ringan, apalagi ini bersangkutan dengan sang ibu. Dimana Abra menempatkan sang ibu untuk dijadi prioritas nomor satu untuknya. Dengan resiko, Abra harus mengorbankan kebahagiaan nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2