
Menjelang sore, kediaman Namira pun kembali terlihat ramai yang didominasi oleh ibu ibu. Warga setempat sepakat akan setia hari membantu Namira untuk menyiapkan segala keperluan untuk acara tahlilan yang akan digelar hingga 7 hari kedepan.
Semua ibu ibu sibuk menyiapkan kudapan untuk menjamu para bapak bapak yang akan datang pada saat acara tahlilan nanti malam.
Acara tahlilan itu rencana nya akan dilaksanakan selepas sholat isya dan setelah doa bersama selesai, semua tamu akan dijamu dengan makanan ringan yang sengaja disiapkan oleh pemilik acara.
Namira sendiri masih didalam kamar, menemani Darren yang ternyata tengah demam. Dan untuk Abra sendiri, tampak menemani para tamu bapak bapak yang rupanya kepo juga dengan kehadiran nya dan juga Marco disana.
"Maaf, Mas Mas ini siapa ya? Soalnya kami disini baru lihat Mas Mas ini disini," tanya Pak rt yang sudah banyak dan masih ada di rumah duka menemani para ibu ibu yang tengah bekerja sama untuk membuat makanan untuk acara tahlilan nanti malam.
"Oh maaf, tadi langsung sibuk jadi tidak bisa memperkenalkan diri. Saya Abraham, Pak. Dan ini Marco teman saya,"
"Oh iya iya tidak apa apa. Perkenalkan saja Burhan, salah satu pengurus dilingkungan ini. Kalau boleh tahu, Nak Abraham ini siapa nya Namira ya? Kok terlihat dekat?"
Seketika pertanyaan itu membuat Abra kebingungan untuk menjawabnya. Abra lalu melirik Marco yang selalu setia ada disamping nya sejak kepulangannya ke tanah air.
Dan sebuah anggukkan kecil pun terlihat dilakukan oleh Marco demi meyakinkan sang sahabat jika keputusan nya kali ini sudah benar
"Saya, sebenarnya saya suami nya Namira Pak. Hanya saja saya baru pulang dari luar negri untuk bekerja jadi maaf jika kehadiran saya membuat warga disini sedikit kaget dan bertanya tanya prihal kehadiran saya," jlas Abra yang tentu saja membuat warga yang mendengarkan percakapan itu dibuat kaget.
__ADS_1
"Oalah gitu toh, tapi dari informasi data diri yang Namira lampirkan pada saya, dia masih berstatus lajang? Itu bagaiman ceritanya? Kenapa kalau sudah menikah tapi masih menggunakan ktp lajang?"
"Mungkin belum sempat diperbarui Pak, karena seminggu setelah menikah saya langsung berangkat. Namira juga fokus kuliah hingga mungkin dia lupa,"
"Baiklah, kalau bisa segera diperbarui ya. Tidak baik, apalagi Nak Nami memiliki wajah yang cantik. Bisa saja kan ada pria yang memang masih menganggap Ibu Nami masih lajang dan mencoba mendekatinya. Hati hati loh Mas nya, nanti bisa banyak saingan kalau di ktp status Nak Nami masih lajang,"
Abra tersenyum kecut saat mendapat kan kata peringatan itu dari Pak Burhan tadi. Dan sialnya, saat ini Abra terus kepikiran dengan kata kat itu.
Bahkan saat acara doa bersama dimulai pun Abra beberapa kali terlihat melamun dan tidak fokus dengan acara tahlilan itu.
Sampai semua para warga berpamitan untuk pulang pun Abra masih saja kepikiran tentang apa yang Pak Burhan katakan tadi.
"Kamu tidak pulang?" tanya Marco yang sudah bersiap untuk pulang.
"Tidak, aku akan menginap disini. Pakai saja mobilku, besok jangan lupa jemput aku dan bawakan baju gantiku,"
"Ck, bisa nggak sih sekali saja kalau kamu ngomong, tidak mengeluarkan kata perintah? Menyebalkan," gerutu Marco yang langsung pergi begitu saja dengan menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.
Abra sendiri hanya terkekeh melihat sang sahabat yang menggerutu kesal namun Abra yakin, jika Marco tetap akan melakukan apa yang dia suruh.
__ADS_1
Setelah rumah sepi dan hanya meninggalkan dirinya dan juga istri serta anaknya. Abra pun memberanikan diri mendatangi kamar Namira untuk menanyakan prihal sang anak yang tadi sempat demam.
Tok
Tok
Tok
Ceklek...
"Ada apa Mas? Mau pulang ya?" tanya Namira saat membuka pintu kamarnya.
"Tidak, aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan Darren. Apa demam nya sudah turun?"
"Sudah lebih baik dari tadi. Jika Mas mau pulang, pulang saja. Darren biarkan menginap disini bersama dengan ku,"
"Tidak, siapa bilang aku mau pulang. Aku juga akan mengina disini,"
"HAH? APA?"
__ADS_1