
***
"Assalamu"alaikum," seruan salam yang berasal dari luar mengalihkan perhatian tiga orang yang tengah berkumpul diruang keluarga rumah utama milik Abra.
Semuanya tampak kompak menoleh kesumber suara sembari menjawab salam. Binar bahagia pun langsung terpancar di wajah tampan Darren saat melihat sang Papa sudah kembali dari luar kota.
"Wa"alaikumsalam," jawab ketiganya serempak.
"Papa,"
Anak kecil yang sudah hampir satu bulan itu berpisah dari sang ayah itu pun langsung berlari dan berhambur kedalam pelukkan sang ayah.
"Hey jagoan Papa, kamu sudah kembali? Bagaimana kabarmu, hhmm?" tanya Abra sembari mengangkat dan membawa tubuh kecil itu dalam gendongan nya.
"Baik Papa, kata dokter, aku masih harus rajin periksa. Tapi, aku tidak mau disana. Aku mau disini sama Papa dan Mama,"
"Ma_Mama? Tapi____"
__ADS_1
"Mama Nami Papa, aku ingin berobat disini saja. Sama Papa dan Mama Namira,"
Deg...
Seketika Abra pun langsung menoleh ke arah Namira dan juga Mama Wanda. Abra begitu kaget saat Darren memanggil Namira dengan panggilan Mama, dan tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Ibu guru, seperti biasanya.
Namira dan mama Wanda hanya tersenyum tipis dengan anggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan yang Abra layangkan lewat sorot matanya. Entahlah, entah apa yang harus Abra katakan sekarang. Perasaannya terlalu berbunga saat ini hingga dia tidak mampu lagi berkata kata.
"Iya sayang, mulai sekarang Darren akan tinggal bersama dengan Papa dan Mama Namira," jawab Abra langsung menghujami ciuman di wajah mungil yang begitu mirip dengan nya itu, lalu kembali mendekap erat tubuh mungil Darren.
*
*
Abra kembali keluar kamar setelah menemani sang anak bermain hingga akhirnya tertidur dengan pulas, lalu Abra pindahkan tubuh mungil itu kekamar miliknya.
Abra pun langsung meminta penjelasan pada sang ibu yang sesaat setelah di kembali dari kamarnya.
__ADS_1
"Darren sudah mengetahui hal ini sejak dia tinggal di apartemen. Dia tidak sengaja menemukan surat perjanjian kalian berdua sepekati. Itulah mengapa dulu saat dia disana, dia terus mengurung diri didalam kamar kan? Itu Dia lakukan, karena dia begitu kecewa dengan kalian berdua yang tidak jujur padanya, apa kamu masih ingat bagaimana reaksi Darren saat dipertemukan dengan almarhumah Bu Marni?"
"Tidak bereaksi apa apa, dia hanya tersenyum pada almarhumah Mama, lalu tidak lama dari itu Mama pergi dan aku tidak tahu lagi bagaimana keadaan nya karena saat itu aku jatuh pingsan dan saat bangun Darren sudah dibawa pulang oleh Bang Marco, Ma," jelas Namira.
"Itu karena dia sudah tahu kalau yang dia temui saat itu adalah nenek nya. Biasanya dia akan menolak bahkan dia akan memberontak jika dipaksa untuk bertemu dengan orang yang tidak dia kenali. Dia juga cerita, jika dia semakin dibuat kecewa dan marah saat kalian tidak mengikut sertakan dia dalam acara pemakaman almarhumah Bu Marni,"
Abra dan Namira sama sama terdiam saat mendengarkan penjelasan dari mama Wanda prihal Darren yang sudah tahu jika Namira adalah ibu kandung nya. Ini pertama kalinya mama Wanda memberitahu semuanya.
Kemarin, saat menjemput Namira dan membawa wanita itu kerumah utama. Mama Wanda belum memberitahukan semuanya, wanita paruh baya itu hanya bercerita jika Darren sudah tahu jika Namira adalah ibunya.
Namun tidak mengatakan dari mana sang anak mengetahui hal itu dan sejak kapan Darren tahu akan hal itu. Mama Wanda bilang, dia akan menjelaskan semua nya saat Abra pulang dari luar kota.
"Lalu, bagaimana Mama bisa tahu dimana rumah Namira dan membawanya kemari? Bahkan Mama tidak menghubungiku lebih dulu, membuat aku takut saja. Untung ada tetangga yang memberitahu kemana Namira pergi,"
"Salah sendiri. Sama orang tua kok main rahasia rahasian, menyebalkan."
"Iya maaf, Abra juga berniat mempertemukan Mama dan Namira. Hanya saja, pekerjaan ku akhir akhir ini banyak sekali jadi maaf aku belum sempat membawa istriku ini pada Mama,"
__ADS_1
*
***