
Namira dan juga Abra berlari menelusuri lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan Bu Marni yang dikabarkan masuk rumah sakit.
Saat masih di apartemen milik Abra, Namira mendapatkan telpon dari salah satu tetangga nya yang mengabarkan jika sang ibu ditemukan oleh para tetangga nya, pingsan di ambang pintu rumah.
Memdapat kabar itu, Namira yang di antar langsung oleh Abra bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang ibu.
"Permisi sus, pasien yang bernama Marni ada diruangan apa ya?" tanya Namira dengan nafas yang ngos ngosan karena berlari mencari keberadaan sang ibu.
"Oh ibu yang tadi dibawa warga ya Bu? Ibu itu sekarang ada di ICU, kondisinya cukup serius dan diharuskan masuk ICU," jawab suster yang kebetulan ikut menangani Bu Marni saat tiba dirumah sakit tadi.
Deg...
Seketika kaki Namira pun menjadi lemas. Hatinya bak dihantam batu besar saat mendapati kabar jika sang ibu kembali masuk ruang ICU.
Tubuhnya bahkan sampai limbung jika saja Abra atidak siap tanggap, mungkin saja Namira saat ini sudah jatuh tersungkur dilantai.
"Tenangkan dirimu, lebih baik sekarang kita cari keberadaan Ibu agar kita tahu bagaimana kondisi nya saat ini," ucap Abra menenangkan Namira yang terlihat begitu shock mendapati kabar jika sang ibu kembali masuk ruang ICU.
Namira tampak mengangguk pasrah. Bahkan tanpa sadar tangan nya terus saja menggenggam erat tangan Abra dan tentu saja pria itu tidak keberatan sama sekali.
Ada rasa lega di hati pria bertubuh kekar itu saat tangan nya di genggam erat oleh tangan mungil Namira. Ini adalah sentuhan terlembut sepanjang mereka saling mengenal.
__ADS_1
Dan hal itu, menimbulkan rasa hangat yang masuk menjalan keseluruh dalam hati seorang Abraham Adhijaya.
Setelah berjalan menelusuri lorong dan melewati beberapa pintu ruangan lain nya. Akhirnya, Namira dan Abra pun tiba di depan pintu ruangan dimana sang ibu dirawat.
Namira sempat menghentikan langkah kakinya, lalu mengatur nafas nya sebelum dia masuk kedalam ruangan itu di ikuti oleh Abra di samping nya.
"Ibu," lirih Namira saat melihat sang Ibu terbaring lemah di atas brangkar dengan selang infus menghiasi tangan keriputnya.
Namira langsung melepaskan tangan nya dari genggaman tangan Abra begitu masuk kedalam ruangan itu. Namira langsung menggenggam tangan lemas sang ibu yang begitu tidak bertenaga.
"Bagaimana kabar Ibu? Kenapa bisa begini Bu? Padahal tadi pagi Ibu terlihat baik baik saja?" cecar Namira membuat wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
"Kenapa hanya berdiri disitu? Kemarilah, mendekatlah Nak," lirihnya yang ditujukan pada Abra.
Deg...
Seketika jantung Namira dan juga Abra seakan terhenti berdetak. Oksigen didalam ruangan itu pun seakan menghilang hingga menimbulkan rasa sesak yang menghimpit.
Perlahan, Abra pun mulai berjalan mendekati brangkat. Abra masih terpaku, diam membisu didepan ibu mertunya itu.
"Apa, tidak ada yang ingin kalian jelaskan pada Ibu?" tanya masih dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Deg...
Lagi lagi, Abra dan Namira dibuat kaget oleh pertanyaan yang Bu Marni layangkan. Abra tampak menghela nafas sebelum akhirnya dengan berani mengatakan apa yang terjadi.
"Maafkan saya Bu, semua ini berawal dari saya yang terlalu menginginkan seorang anak namun istri saya tidak bisa hamil karena sudah kehilangan rahimnya. Hingga akhirnya saya menyeret Namira masuk kedalam polemik yang terjadi dalam rumah tangga saya," jawab Abra jelas jelas membuat Namira terkesiap.
"Kami sudah menikah Bu, kami sudah menikah dari 7 tahun yang lalu. Dan maaf, maafkan saya karena sudah lancang menikahi putri Ibu tanpa meminta restu dari Ibu," lirih Abra merasa begitu menyesali perbuatan nya dulu yang tidak menghargai keberadaan Namira.
Dan lagi lagi, hal itu membuat Namira kian sesak dan panik.
Wajah panik itu pun tergambar jelas di wajah cantiknya saat bersitatap dengan sang Ibu. Namun, Namira kembali dibuat terkesiap saat melihat senyum tipis diwajah Bu Marni.
Bukan nya marah tapi Bu Marni malah tersenyum setelah mendengar kejujuran yang Abra ungkapkan. Sebuah rahasia tentang dosa besar yang selama ini Namira sembunyikan dengan baik dan rapih. Hingga sang Ibu tidak pernah mengetahui hal itu.
Namun, tanda tanya besar kini hadir didalam benak Namira saat sebuah senyuman penuh rasa lega muncul diwajah pucat sang ibu.
.
***
..."Nih, aku dobeul ya. Semoga suka 🥰🥰 dan terima kasih untuk dukungan nya, love kalian banyak banyak ♥️♥️♥️."...
__ADS_1