
"Se_sejak ka_kapan Ibu, tahu akan hal ini Bu?" tanya Namira dengan suara yang lirih dan terbata setelah sekian lama diam. Larut dalam tangisnya.
Sepeninggalan Abra, akhirnya Namira memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya dan bertanya pada sang ibu, prihal rahasia yang ternyata sudah ketahuan sejak lama.
"Saat kamu menyembunyikan kehamilan kamu Nak. Saat itu, ibu merasa bosan dan untuk membunuh rasa bosan. Ibu mencoba membersihkan semua isi rumah termasuk kamar dan lemari pakaianmu.
Saat menemukan satu laci yang terkunci, ibu merasa ada yang aneh. Dan setelah berusaha keras mencari kuncinya akhirnya ibu menemukan nya dibawah nakas samping tempat tidurmu.
Jujur, saat itu ibu sangat marah dan kecewa. Bahkan ibu sempat drop dan kembali masuk rumah sakit tapi Ibu tidak memberi tahumu akan hal itu,"
Deg...
Seketika Namira yang masih setia dengan menundukkan kepalanya langsung mendongak saat mendengar jika sang ibu pernah drop dan masuk rumah sakit saat mendapati kenyataan jika sang putri melakukan pernikahan kontrak dengan seorang pria asing yang tidak Bu Marni ketahui siapa itu.
Yang pasti, pria asing itu menbayar cukup mahal untuk pernikahan kontrak yang mereka lakukan. Semua bukti yang bersangkutan dengan pernikahan rahasia putrinya dan juga kwitansi pembayaran seluruh biaya yang Namira keluarkan selama dirinya dirawat dirumah sakit semua ada didalam laci yang Namira kunci itu.
Namira tidak menyangka, jika sang ibu nekad membuka laci itu padahal sebelum sebelum nya tidak pernah dilakukan nya.
Makanya Namira menyimpan semuanya disana, karena dia yakin jika sang ibu tidak akan pernah membuka laci itu.
"Awalnya Ibu begitu marah dan ingin menyusul kamu ketempat dimana kamu tinggal saat itu. Tapi, setelah pulang dari rumah sakit dan melihat semua itu kembali. Jujur, Ibu merasa hancur dan malu, Ibu merasa malu karena gagal menjaga dan merawat putri ibu satu satunya.
__ADS_1
Dia bahkan rela mengorbankan masa depan nya demi menyelamatkan nyawa ibu dan memberikan tempat peristirahatan yang layak untuk Bapak, padahal Bapak sendiri tidak pernah memberikan tempat yang layak untuk kamu tinggali Nak.
Maafkan Ibu, Ibu benar benar minta maaf. Karena ibu kamu harus melakukan semua itu dan kamu haus menderita seorang diri,"
Tidak tahan lai mendengar semua yang dikatakan oleh sang ibu, akhirnya Namira pun bangun lalu berhambur kedalam pelukan Bu Marni.
Ibu dan anak itu tampak menumpahkan semua rasa sesak didada dalam sebuah tangisan. Meski merasa sangat menyakitkan, namun ada juga rasa lega yang keduanya rasakan. Karena kini di antara mereka sudah tidak ada lagi yang harus ditutup tutupi.
.
***
***
.
Namun, saat tiba didepan pintu kamar sang anak. Abra terlihat kebingungan, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan saat membujuk sang anak untuk ikut dengan nya ke rumah sakit.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Meski begitu, Abra memberanikan diri mentuk pintu kamar yang tertutup rapat itu.
"Darren, ini Papa sayang. Ada yang mau Papa bicarakan, bisa buka pintunya sebentar?" seru Abra berusaha membujuk sang anak.
"Sejak tadi dia tidak pernah keluar kamar, bahkan dia menolak makan siang nya," jelas Marco yang masih setia menunggui anak kecil itu.
"Masuklah, katakan padanya jika Namira masuk rumah sakit. Aku harus membawanya kerumah sakit sekarang juga,"
"Namira sakit? Bukan nya tadi dia baik baik saja?'
"Hhssttt, bukan begitu. Pokoknya, lakukan apa yang aku katakan tadi agar dia mau keluar kamar dan ikut denganku kerumah sakit,"
"Ck, merepotkan. Padahal aku tidak ikut menikmati kenikmatan yang kamu rasakan saat kamu membuat itu bocah. Kenapa aku harus merasakan repotnya menghadapi mood anakmu itu?" gerutu Marco yang tentu saja hal itu di abaikan oleh Abra.
Toh pria bertubuh kekardan bertato itu tetap melakukan apa yang Abra perintahkan padanya. Seketika Abra dibuat terkesiap, saat dengan mudahnya pria sangar itu membujuk sang anak yang begitu keras kepala saat berhadapan dengan nya.
Entah apa yang dikatakan pria bertato itu hingga tidak butuh waktu lama untuk dirinya membujuk Darren untuk keluar kamar dan ikut dengan sang ayah.
"Ayo sana pergi, kenapa malah bengong?"
__ADS_1