
"Tidak ada yang aneh dari semua rekaman ini. Semua berjalan baik baik saja, bahkan putramu bersiap seperti tidak pernah terjadi apa apa disini. Lalu, dari mana dia mendapatkan semua luka lebam itu. Bukan nya dari cerita yang Namira katakan semua itu dilakukan dirumah oleh Alma, jika benar. Kenapa terasa aneh Ham, kalau memang Alma yang melakukan nya itu kapan? Wanita itu saja terlihat jarang dirumah, hanya ada putramu dan juga pengasuh nya," jelas Marco, pria bertato yang sengaja Abra pintai bantuan untuk mengusut permasalahan yang tengah putranya hadapi.
Bukan tidak mampu untuk lpor polisi, hanya saja. Abra diharuskan menjaga nama baik keluarga yang begitu terpadang dan juga bersih dari kasus.
Tentu saja itu menjadi pertimbangan tersediri untuk Abra sampai memanggil sahabatnya yang memang memiliki kemampuan di bidang menyelidiki kasus kasus yang dirahasiakan dari publik.
Abra tampak berpikir, benar apa yang di katakan oleh Marco. Ada yang aneh dari pernyataan sang anak prihal pelaku kekerasan itu.
Jika memang benar Alma, kapan wanita itu melakukan nya. Sedangkan keseharian nya saja dia selalu pulang malam dan bangun saat Darren sudah tidak dirumah lagi.
Dan aneh nya lagi, cctv dirumah yang Abra pasang. Tampak menampilkan keseharian yang biasa saja, tidak ada ke anehan sama sekali disana.
Sementara Darren sendiri, kini tengah ada di apartemen yang dulu pernah Namira tempati saat dia hamil.
Anak kecil itu menolak keras untuk kembali kerumah meski ada sang ayah disana. Tergambar jelas ketakutan yang selama ini dia sembunyikan.
Entah apa yang terjadi padanya hingga membuatnya trauma seperti saat ini. Bahkan sudah dua hari ini, Darren tidak mau pulang dan tidak mau bertemu siapapun.
Hanya Namira yang dia ijinkan masuk kedalam kamar nya yang ada disana. Bahkan sang ayah pun dia tolak keras kedatangan nya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa dia masih menolak untuk bertemu dengan ku?" tanya Abra begitu melihat Namira keluar dari kamar Darren membawa nampan bekas makan siang dirinya dan juga putranya itu.
Namira menatap datar pria yang sudah dua hari ini begitu kelimpungan karena kehadiran nya selalu ditolak oleh sang anak.
Namira hanya berdehem lalu beranjak dari sana meninggalkan Abra yang terlihat begitu tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan putrany, Darren.
"Tolong bujuk dia Nami, aku sangat merindukan nya," lirih Abra mengikuti langkah Namira menuju ke arah dapur.
"Aku sudah coba, tapi dia tetap menolak. Mungkin, untuk saat ini lebih baik Darren ikut bersamaku dulu. Aku juga tidak bisa terus menerus tinggal disini, aku takut Ibu curiga. Apalagi kamu yang terus saja keluar masuk apartemen ini, apa kata orang jika melihat kita begini," jawab Namira tanpa menoleh sedikit pun pada pria yang berdiri tepat dibelakang nya.
"Memang nya kenapa kalau orang lain melihat kita begini? Kita ini suami istri yang sah dimata hukum dan agama. Kenapa harus repot memikirkan pendapat orang lain?"
Bukan bentakan yang Namira lakukan yang membuat Abra dibuat kaget. Melainkan nama panggilan yang Namira sematkan lah yang membuatnya tertegun tak percaya.
'Mas? Dibilang Mas tadi? Benarkah, aku tidak salah dengarkan?' gumam nya menatap tak percaya pada wanita yang saat ini menatapnya juga, dengan tatapan penuh amarah.
Namun Abra mengabaikan itu, hatinya masih terisi penuh oleh bunga bunga saat Namira akhirnya memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.
.
__ADS_1
***
***
Sementara ditempat lain...
Tok
Tok
Tok
Ceklek...
"Maaf, siapa ya? Dan, mau mencari siapa?" tanya wanita paruh baya berwajah pucat saat membuka pintu rumah nya yang diketuk oleh seseorang.
"Saya ingin bertemu dengan Ibu, ada yang ingin saya sampaikan tentang putri Ibu, Namira. Apa boleh saya masuk?"
.
__ADS_1
***