
Pagi harinya...
"Papa, ini dimana?" suara lirih itu membangunkan Abra yang masih lelap dalam tidurnya.
Abra mulai mengerjapkan matanya yang masih terasa berat itu. Entah di jam berapa matanya itu mulai terlelap, yang pasti saat itu waktu sudah menunjukan dini hari.
Pikirannya terus saja menerawang akan bagaimana hubungan nya bersama dengan Namira kedepan nya. Dan bagaimana menjelaskan status mereka pada putranya, Darren.
Belum lagi dengan si pelaku kekerasan yang sudah berani menyentuh putra kesayangan nya itu. Membuat serentetan masalah yang memenuhi benak Abra hingga pria itu susah memejamkan matanya meski rasa lelah sudah mendera tubuhnya yang sedari siang sibuk membantu menyiapkan pemakaman Bu Marni.
Abra menggerakan tubuhnya yang terasa lengkat. Tubuh keduanya dipenuhi oleh keringat karena hawa panas tubuh Abra yang bertabrakan dengan hawa panas tubuh Darren yang semalam meninggi.
"Kamu sudah bangun sayang? Bagaimana keadaan mu? Hhmm?" tanya Abra langsung mencecar beberapa pertanyaan pada putranya itu.
"Sudah lebih Papa, tapi, ini dimana?"
"Kita dirumah Ibu Nami sayang. Ayo, lebih baik kita bangun. Kita bersih bersih dan bersiap untuk pulang," jawab Abra mulai bangkit dari tidurnya namun tidak untuk Darren yang masih betah berbaring di kasur yang bahkan jauh dari kata 'nyaman'.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Abra saat melihat tidak adanya pergerakan dari Darren.
"Bisakah, aku tetap disini saja?" jawab nya lirih.
Ragu dan takut, itulah yang dirasakan oleh Darren saat ini. Bahkan saking takutnya, bocah kecil yang begitu mirip dengan sang ayah itu pun sampai enggan menatap sang ayah.
" Boleh, tentu saja boleh. Tapi, beri Papa satu alasan kenapa tidak mau pulang? Apa selalu terjadi sesuatu didalam rumah saat Papa pergi?"
Derren tertegun oleh pertanyaan yang diberikan oleh Abra padanya. Ingin rasanya mengungkapkan semuanya.
Namun, bayangan orang orang yang dia cintai pergi untuk selama lamanya kembali membungkam mulut mungil itu.
Entah harus berkata apa, ketakutan akan ancaman yang kerap dia terima membuatnya konsisten untuk bungkam.
Abra menghela nafas panjang saat mendapatkan respon seperti itu dari Darren, meski tidak sabar ingin mengetahui siapa orang dibalik perubahan sikap sang putra.
Namun Abra juga tidak bisa memaksa dan menekan terlalu dalam, takut rasa trauma pada putranya itu kian dalam dan mungkin akan sulit untuk di sembuhkan.
__ADS_1
"Baiklah, jika belum siap cerita tidak apa apa. Sekarang kita bersih bersih lalu keluar, kita temui Ibu Nami. Bagaimana? Maukan?" ucap Abra selanjutnya mencoba mengalah dan memberi waktu pada Darren untuk menyiapkan diri untuk bercerita padanya mungkin 'nanti'.
Sementara Namira sendiri kini tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk dirinya, anak dan suaminya. Namira terbiasa hidup sederhana, tentu saja menu sarapan yang tengah dia siapkan itu pun hanya menu sederhana.
Hanya nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi yang terdapat satu buah saja di piring masing masing. Sementara untuk minumnya, Namira menyiapkan satu gelas susu hangat untuk Darren, teh hangat untuk dirinya dan kopi capucino yang biasa di minum oleh Abra.
Aneh, meski kesal, benci, dan marah pada pria yang sudah memberikan nya satu orang anak itu. Namun Namira masih saja ingat kebiasaan dan apa yang menjadi kesukaan pria itu.
Usai menyiapkan sarapan di atas meja makan yang sudah mulai usang itu. Namira pun mulai beranjak menuju ke arah kamarnya untuk membangunkan kedua pria beda usia yang kini menguasai kamar pribadinya itu.
Namun langkah Namira terhenti saat melihat Abra keluar kamar dengan menggandeng tangan putranya, Darren yang kini sudah jauh lebih baik. Bahkan wajahnya pun sudah mulai kembali ceria.
"Ibu," seru Darren melepaskan tangan nya dari gengaman Abra lalu berhambur kedalam pelukan Namira.
"Sayang, sudah bangun ternyata. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa masih ada yang sakit?"
"Tidak Ibu, Papa sudah memberikan obat paling manjur untukku. Jadi aku bisa langsung sehat disaat pagi hari,"
__ADS_1
"Syukurlah, kalau begitu bagaimana kalau kita sarapan? Tapi, Ibu hanya bikin nasi goreng. Tidak apa apa kan?"
"Tidak apa apa, aku membiasakan dia untuk makan apa saja yang ada. Selama makanan itu sehat dan bersih, aku tidak membatasinya untuk makan apa yang dia mau,"