
Darren mengerutkan dahi nya saat melihat Sela datang di jam pulang sekolah. Dengan senyum mengembang di wajah ayu nya, Sela tampak percaya diri berjala mendekati Darren yang berdiri di teras sekolah.
"Hai Darren, ayo kita pulang," ajak wanita muda itu mengulurkan tangan nya untuk di raih oleh bocah kecil itu.
Seketika wajah Darren tampak memucat dan tegang. Dan refleks, saat Sela mendekat tubuh Darren akan merespon dengan langkah mundur. Sebagai sebuah tanda penolakan yang dilakukan oleh gerak tubuh.
Melihat itu, Namira pun tidak tinggal diam. Setelah selesai mengemas barang barang nya, Namira langsung menghampiri Darren yang terlihat tidak baik baik saja itu.
"Kenapa sayang? Papa, belum jemput ya?" tanya Namira setelah berada disamping sang putra.
"Maaf Bu, tadi tuan menyuruh saya yang jemput. Tuan bilang, beliau masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal," jelas Sela saat Namira menanyakan prihal kedatangan Abra pada Darren.
"Oh, begitu. Darren mau pulang sama siapa? Kalau ikut ibu saja gimana? Nanti setelah Papa selesai bekerja suruh jemput Darren dirumah Ibu, ya?" ajak Namira merasa kurang nyaman meninggalkan anaknya bersama wanita muda itu.
"Maaf Bu, tapi tuan muda harus pulang tepat waktu. Dan saat ini ada jadwal les yang tidak boleh dilewatkan. Darren ingatkan pesan Papa dan bagaimana Papa saat marah jika Darren melewatkan perintahnya," jelas Sela penuh penekanan yang membuat bocah kecil itu dengan sendirinya mengerti jika apa yang dikatakan wanita itu tidak boleh diabaikan.
Meski penuh rasa takut, Darren pun akhirnya mengangguk setuju untuk ikut bersama dengan Sela dan juga supir pribadi yang sengaja Abra baar untuk menjemput Darren jika memang diriny berhalangan datang untuk menjemput.
__ADS_1
Dan Darren sudah cukup mengenali pria paruh baya itu. Seorang ayah yang baik dan juga pekerja keras, membuat Darren percaya kepada nya. Setidaknya, mungkin akan ada yang melindunginya saat Sela melakukan sesuatu.
Tanpa kata Darre pun berjalan menuju ke mobil yang memang biasa dia pakai untuk berangkat dan pulang dari sekolah jika sang ayah tengah berada diluar kota. Sebelum masuk kedalam mobil, Darren sempat melirik Namira dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Namira ingin sekali mencegah agar Sela tidak membawa Darren pergi, namun apa yang Sela katakan barusan bukan hanya berpengaruh pada Darren tapi pada Namira juga.
Namira ingat betul bagaimana Abra saat sedang marah karena ke inginan nya tidak dipenuhi. Atau apa yang terjadi tidak sesuai harapan nya. Maka dari itu, Namira pun membiarkan Darren pergi bersama dengan sang pengsuh.
.
***
***
.
Braaakkkkk
__ADS_1
Seketika perhatian Abra yang tengah fokus pada layar laptopnya teralihkan pada suara pintu yang dibuka paksa oleh seseorang.
Dahi Abra menyatu saat melihat Marco datang dengan wajah yang tegang dan juga panik. Pria bertato itu tampak membawa sebah berkas dan datang dengan tergesah gesah.
"Ada apa? Kenapa terlihat begitu panik?" tanya Abra saat melihat Marco berjalan mendekatinya, lalu menyodorkan berkas yang ada ditangan nya.
"Lihat ini. Kamu pasti akan terkejut dengan apa yang baru saja aku dapatkan," jawab Marco dengan nafas yang masih ngos ngosan.
Dengan dahi yang masih menyatu, Abra langsung mengambil berkas itu dan membuka nya. Awalnya terlihat biasa saja, namun detik kemudian matanya membulat sempurna tatkala mendapatkan informasi yang selama ini dia cari.
"Sial, kurang ajar," umpatnya melempar berkas itu kesembarang arah hingga kertas kertas yang ada didalamnya berserakan.
"Cepat hubungi pihak sekolah, jangan biarkan wanita itu datang dan membawa putramu," lanjut Marco saat melihat reaksi Abra sesuai dengan ekspetasinya.
Tidak menunggu lama, Abra pun langsung menghubungi ponsel milik Namira. Beruntung kali ini Namira langsung mengangkat sambungan telpon darinya.
Tidak seperti sebelum sebelumny, yang begitu enggan meanaggapi telpon dari Abra. Hanya chat saja yang Namira respon saat pria itu menghubunginya.
__ADS_1
"Halo, ada ap____"
"Darren, apa dia ada bersama mu?" potong Abra karena sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar sang anak.