Aku Ibunya

Aku Ibunya
47.Bimbang


__ADS_3

"Papa,,," lenguhan yang berasal dari mulut kecil Darren pun mengalihkan perhatian Namira dan Abra yang masih betah berdiri diambang pintu kamar.


Abra langsung menerobos masuk begitu terdengar suara sang anak yang memanggil namanya.


Namira pun tampak membiarkannya saja, Namira mengikuti langkah kaki Abra yang berjalan mendekati ranjang.


Abra mengulurkan tangannya untuk mengecek suhu tubuh Darren, dan tampaknya demam nya kembali naik.


"Tolong tutup pintu nya, lalu ambilkan satu selimut lagi," titah Abra sembari membuka baju yang dikenakan oleh Darren.


"Mas mau apa? Kenapa bajunya dibuka?" tanya Namira dengan wajah yang panik.


"Tidak apa apa, cepat ambilkan saja selimutnya," jawab Abra lagi mengabaikan kepanikan Namira.


Namira pun tampak menuju ke arah lemari pakaian nya. Dia mengambil salah satu selimut lain yang masih terlipat rapih didalam sana.

__ADS_1


Dan alangkah terkejutnya Namira saat berbalik, Abra pun kini sudah tampak bertelanjang dada dan tengah bersiap membaringkan tubuhnya disamping Darren.


"Ma_mas sedang apa? Ke_kenapa ikut buka baju juga?" tanya Namira lagi semakin dibuat panik oleh apa yang Abra lakukan.


"Ini yang biasa aku lakukan saat dia demam, ini jauh lebih efektip dari pada obat penurun panas. Tolong selimuti tubuh kami sampai tertutup sempurna," jawab Abra yang kini sudah memeluk erat tubuh mungil sang anak dengan ke adaan sama sama polos.


"Skin to skin contact?" tanya Namira sembari menyelimuti tubuh ayah dan anak itu.


"Eeemmm, ini jauh lebih baik dari pada obat. Dia sedikit bebal dengan yang namanya obat, makanya aku selalu melakukan ini saat dia deman dan itu jauh lebih baik dari pada memberikan dia obat," jelas Abra tanpa merubah posisi nya saat ini, Namira sendiri hanya mengangguk kecil.


*Skin to skin adalah metode transfer panas yang dilakukan dengan bersentuhan kulit. Biasanya hal ini dilakukan oleh seorang ibu/ayah untuk menghangatkan tubuh anaknya yang baru lahir.


"TIdurlah, kamu juga pasti lelah," ucap Abra saat melihat Namira masih duduk dimeja belajar usang yang kini dia gunakan untuk meja kerja.


"Baiklah, aku istirahat dikamar sebelah ya,"

__ADS_1


"Kenapa tidak disini saja? Aku ini masih suami kamu, dan kita tidak akan berdosa jika hanya tidur satu ranjang," ucap Abra saat melihat Namira beranjak dari duduknya.


Namira menghentikan langkah kakinya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Abra. Namun, detik kemudian, Namira kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu.


"Maaf, tapi aku sudah menganggap pernikahan kita sudah selesai saat aku melahirkan dan meninggal kan Darren bersama denganmu," ucap Namira sebelum dirinya keluar dari dalam kamar.


Abra menghela nafas panjang saat melihat Namira pergi dari kamar itu untuk tidur dikamar mendiang ibunya. Meski pernikahan mereka masih sah dimata hukum dan agama, namun tetap saja Namira sudah menganggap pernikahan itu selesai, sesuai dengan kontrak yang telah dia tanda tangani dulu.


Dan tentu saja, akan sangat aneh bagi dirinya jika harus tidur satu kamar dengan pria yang memang masih suaminya itu. belum lagi, perpisahan di antara keduanya yang sudah terbilang lama, membuat Namira kian ragu.


Apa pernikahan mereka masih sah apa tidak.


Belum lagi, Namira yang selama 6 tahun ini tidak pernah melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri, tentu saja kian menambah keraguan itu. Hingga Namira pun lebih memilih menghindar sebelum tahu akan ke sah'an pernikahan mereka saat ini.


Namira tampak termenung didalam kamar yang dulunya ditinggali oleh sang ibu semasa beliau masih ada. Dan kini, kamar itu tampak sepi karena sang penghuninya sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan Bu? haruskah aku kembali menjadi istrinya? tapi, bagaimana dengan wanita itu? dia pasti akan terluka saat tahu jika aku masih menjadi istri dari suaminya," lirih Namira bermonolog pada dirinya sendiri.


Abra sendiri hanya bisa pasrah dengan keputusan Namira saat ini. Mungkin Abra harus sedikit bersabar lagi dan membujuk wanita itu secara perlahan lahan. Toh sejak Darren lahir, Abra sama sekali tidak pernah berniat menceraikan Namira.


__ADS_2