
"Lalu, bagaimana dengan Alma? Apa yang akan kamu lakukan padanya?"
"Entahlah, mungkin kami sebaiknya bercerai saja. Lagi pula, kami sudah lama pisah ranjang Ma. Sudah tidak ada yang bisa kami pertahan kan dari pernikahan ini, Alma semakin sibuk dengan dunia nya. Bahkan, yang buat aku kecewa adalah. Alma sama sekali tidak peduli pada keadaan Darren. Aku sadar pasti akan sulit bagi Alma untuk bisa menyayangi Darren dengan tulus, aku tahu dan aku sadari itu. Tapi setidaknya, jangan terlalu mengabaikan nya, dia bahkan tidak peduli saat Darren mendapat perlakuan tidak adil dan kasar dari Amanda saat Amanda masih menjadi pengasuh Darren. Aku benar benar kecewa Ma, padahal Darren lah yang menyelamatkan rumah tangga kami, Darren Lah yang menyelamatkan harga dirinya dari gunjingan orang orang, tapi Alma mengabaikan nya sampai separah itu."
"Kenapa tidak memberitahu Mama dan bicarakan semua ini dengan Mama?"
"Mana mungkin aku setega itu. Kondisi Mama saat itu sangat tidak memungkinkan, tapi aku merasa beruntung. Karena pada akhirnya aku bertemu dengan nya," jawab Abra sembari menatap lekat wajah Namira yang masih terbaring diatas brangkar dengan mata yang terpejam.
"Maafkan Mama, karena Mama. Kamu jadi harus menahan semua ini. Seandainya Mama tahu lebih awal tentang kondisi pernikahan kamu, mungkin semua ini tidak akan terjadi,"
"Sudahlah Ma, jangan seperti itu. Ini juga salahku yang sudah merahsiakan nya dari Mama. Maaf, jika aku sudah tidak bisa mempertahan kan Alma untuk ada disampingku lagi,"
"TIdak, jangan minta maaf. Kini sudah waktunya kamu untuk meraih kebahagiaan kamu sendiri. Jika Namira adalah wanita yang bisa memberikan kamu kebahagiaan itu, maka perjuangkan dia, restu Mama akan selalu menyertaimu Nak,"
"Benarkah? Apa Mama yakin?"
__ADS_1
"Tentu saja, jika itu yang bisa membuat kamu bahagia. Maka raihlah, Mama akan ikut bahagia jika kamu juga bahagia."
Abra langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh sang Mama. Abra tidak menyangka jika sang mama akan memberikan restunya untuk meraih cinta Namira. Dan mengijinkan Abra untuk menceraikan Alma.
"Terima kasih Ma, terima kasih,"
.
***
.
Usai menuntaskan tangisnya yang shock ketika Abra yang membuka tabir rahasianya didepan sang mertua. Alma pun keluar dari kamar, berniat untuk meminta maaf pada mama Wanda.
Namun sayang, saat keluar dari kamar. Alma sudah tidak menemukan suami dan mertuanya disana. Menurut informasi dari art nya, mama Wanda dan Abra pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Namira dan juga Darren.
__ADS_1
Alma langsung berdiri dari duduknya saat mendengar deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Dilihat nya mama Wanda turun dari mobil dengan membawa Darren didalam gendongan nya.
Mama Wanda membawa pulang Darren setelah demam anak itu turun dan kondisinya stabil. Namun meski begitu, Darren masih cukup terguncang dengan apa yang selama ini dia alami.
"Mama sudah pulang?" tanya Alma saat mama Wanda memasuki rumah.
"Iya, Alma. Tolong bantu Mama bereskan beberap baju Darren kedalam kopernya, ya,"
"Baju Darren kedalam koper? Memangnya Darren mau kemana Ma? Kok bawa koper segala?"
"Darren akan Mama bawa untuk sementara waktu, dia butuh pengobatan. Dan Mama rasa, mungkin suasana dan lingkungan baru akan sangat membantunya jadi Mama berencana membawanya bersama dengan Mama untuk sementara waktu,"
"Baklah, aku minta maaf tentang semua yang sudah terjadi Ma, maafkan aku," lirih Alma.
"Sudahlah, Mama juga ambil andil dalam hal ini. Kini semua keputusan ada ditangan Abra, semoga hubungan kalian bisa tetap terjalin dengan baik meski sudah tidak lagi bersama,"
__ADS_1
Deg...
Jantung Alma berdetak kencang saat mendengar penuturan dari mama Wanda. Berpisah? Tidak, Alma tidak mau berpisah dari Abra. Tidak, tidak akan ada kata perpisahan di antara mereka. Gumam nya dalam hati.