Aku Ibunya

Aku Ibunya
32.Masih Istriku


__ADS_3

"Terima kasih,"


Seketika tubuh Namira meremang dan menegang saat mendapat bisikan kata 'terima kasih' dari Abra yang berdiri tepat dibelakang nya dan begitu dekat dengan nya.


Saking dekatnya, Namira bahkan bisa merasakan hawa hangat yang berasal dari hembusan nafas yang keluar dari mulut Abra dikulit tengkuk nya yang terekspos sempurna.


Karena cukup menghalangi aktifitasnya, Namira pun akhirnya menggulung rambut panjang nya dan mencepol asal.


Dan hal itu membuat tampilan nya semakin terlihat begitu cantik dan seksi dan hal itu cukup menarik perhatian Abra, hingga akhirnya pria itu pun refleks mendekat dan berbisik tepat dibelakang tengkuk Namira.


Namira tidak menimpali ucapan Abra. Wanita itu tampak fokus mencuci piring piring kotor yang tadi mereka pakai untuk makan malam karena Mbok Inah saat ini sibuk menemani majikan kecilnya, Darren.


"Aku tunggu diruanganku, datanglah setelah selesai. Ada yang ingin aku bicarakan," lanjut Abra sebelum beranjak meninggalkan Namira yang masih sibuk mencuci piring.


Namira bergeming, masih belum merespon apapun yang dikatakan oleh Abra padanya. Meski begitu, Namira tentu nya mendengar semua yang di ucapkan oleh Abra padanya.


Hanya saja, Namira tidak tahu harus bagaimana merespon apa yang dikatakan oleh Abra padanya tadi. Usai merampungkan pkerjaan nya didapur.

__ADS_1


Namira pun langsung beranjak menuju ke arah kamar yang akan dia tempati selama tinggal disana.


Namun, saat akan membuka pintu kamar itu. Tiba tiba saja tangan nya ditarik oleh seseorang dan menyeretnya masuk kedalam sebuah ruangan lain yang ada disamping kamar Darren.


Namira terlonjak kaget saat dengan kasar orang itu menariknya dalam dekapan lalu menyatukan bibir keduanya.


Namira mencoba memberontak namun tenaga nya tentu saja kalah jauh dari tenaga pria bertubuh kekar itu.


Namun, Namira tidak menyerah. Dia terus memukul dada bidang pria itu untuk sebagai tanda sebuah penolakan.


Abra pun mulai melepas pangutan itu setelah merasa perlawanan Namira mulai melemah dan hampir kehabisan nafas.


Plaaakkkk...


Seketika rasa panas menjalar diseluruh pipi hingga wajah Abra, setelah dia melepas pangutannya pada Namira.


Tangan lentik dan mungil itu melayangkan tamparan kerasnya diwajah tampan Abra karena sudah lancang mencium nya secara tiba tiba.

__ADS_1


"Kurang ajar, brengsek," ujar nya sembari melangkah menuju ke arah pintu untuk keluar dari ruangan itu.


"Kenapa? Aku masih memiliki hak atas dirimu Nami," ujar Abra menghentikan langkah Namira yang hampir sampai dipintu ruangan itu.


"Hak? Hak apa? Perjanjian kita sudah selesai 6 tahun yang lalu tuan. Dan aku sudah memenuhi semua syarat dari perjanjian itu, lalu hak yang mana yang tuan bicarakan?"


"Tentu saja hak ku sebagai seorang suami, apa kamu lupa kalau kita masih terikat pernikahan,"


"Pernikahan kita terjadi karena kontrak jika anda lupa tuan Abraham, dan saat kontrak itu selesai maka pernikahan itu pun ikut selesai,"


Namira pun langsung memutar handel pintu demi menghindari pembicaraan yang akan kembali membuka luka lama yang bahkan sampai detik ini masih belum mengering sempurna.


Namun, lagi lagi. Langkah Namira harus terhenti saat mendengarkan penuturan Abraham mengenai pernikahan mereka.


"Aku belum pernah menjatuhkan talak padamu Namira Syahra. Dan satu lagi, pernikahan kita sudah tercatat dipengadilan agama yang artinya, pernikahan kita sah dimata hukum dan agama. Dan kamu, masih sah menjadi istriku,"


Deg...

__ADS_1


Namira memutar balik tubuhnya demi meyakinkan apa yang dikatakan oleh Abra. Dan, alangkah terkejutnya Namira saat melihat dua buah buku nikah yang tergeletak di atas meja sofa yang ada diruangan itu.


__ADS_2