Aku Ibunya

Aku Ibunya
67.Kangen


__ADS_3

***


Alma terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa untuk memberikan pembelaan. Semua yang dikatakan oleh Abra sama sekali tidak meleset, semua itu adalah sebuah fakta yang membuat Alma serasa tertampar oleh kenyataan hidupnya.


Harta, kehormatan, nama baik, popularitas, karir yang bagus. Semua Alma dapatkan setelah menikah dengan Abra dan hal itu bisa bertahan karena kehadiran Darren.


Karena kehadiran anak itu, nama Alma semakin dikenal banyak orang karena berhasil melahirkan seorang pewaris dari kerajaan bisnis Adhijaya corp. Namun apa yang Alma berikan untuk pria itu? Tidak ada.


Bahkan untuk sekedari menerima dan menyayangi anak yang sudah membantunya menaikan harga diri dan nama baik nya saja Alma tidak mampu. Apa tidak terlalu tidak tahu malu jika Alma tetap kekeh dengan kehendaknya?


"Atau begini saja, aku akan memberikan satu penawaran terakhir untuk kamu pertimbangkan. Jika kamu setuju, maka aku akan mencabut gugatan cerai itu sekarang juga," ucap Abra memecah keheningan di antara dirinya dan juga Alma.


"Apa itu? Katakan lah,"


"Berhenti jadi model dan keluarlah dari dunia itu. Fokus mengurus rumah tangga kita dan Darren putraku, sayangi Darren seperti kamu menyayangi anakmu sendiri. Bagaimana?"


"Jangan gila kamu Mas, kamu tahukan bagaimana beratnya perjuanganku hingga sampai di titik ini. Tidak, aku tidak bisa,"


"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Sampai jumpa di persidangan,"


"Ok, akan aku pastikan jika kamu akan menyesal karena sudah menceraikan aku Mas. Ingat itu, kamu akan menyesal sudah menceraikan aku,"

__ADS_1


Alma pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu dengan membawa rasa kesal didalam dadanya. Dia tidak menyangka jika Abra akan memberikan nya syarat yang tidak mungkin Alma lakukan.


Ini adalah mimpi dan hidupnya, bagi Alam, lebih baik kehilangan suaminya dari pada kehilangan karir yang sudah susah payah dia dapatkan.


Sepeninggalan Alma, Abra tampak menyandarkan punggung nya disandaran kursi kebesaran nya. Tiba tiba rasa rindu nya pada Namira hadir begitu besar.


Tangan kekar miliknya itu tampak terulur untuk meraih ponsel yang tadi dia simpan dimeja kerja tepat disamping laptop yang tengah dia gunakan untuk bekerja.


Abra pun langsung mengotak ngatik layar ponsel itu untuk mencari kontak sang istri yang saat ini tengah beristirahat dirumah mendiang mertuanya.


Tuuttt


Tuuttt


"Halo, Mas. Ada apa?"


Seketika hati Abra yang tadi sempat memanas karena kehadiran Alma kini bak disiram oleh air. Dingin, Sejuk dan menghangat. Inilah yang selalu dirindukan oleh Abra dari Namira.


Merasa tenang dan damai meski hanya sekedar mendengar suaraya saja. Meski pertemuan mereka melalui jalan yang salah, namun tidak ada salahnya kan jika Abra mencoba memperbaiki itu dan memulai kembali hubungan mereka dengan jalur yang benar.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Tidak ada, hanya diam dan diam. Sungguh membuatku jenuh saja, tapi ngomong ngomong, ada apa Mas telpon?"


"Tidak apa apa, aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Rasanya ingin segera pulang tapi pekerjaan ini benar benar mengurungku,"


Namira terkekeh kecil saat mendengar gerutuan dari Abra yang memproes pekerjaan nya yang banyak dan menumpuk.


"Itu salah Mas sendiri. Kenapa tidak masuk masuk kantor,"


"Aku tidak masuk kantor kan ingin menjagamu, memastikan jika tidak terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu. Sungguh, aku lebih baik mati dari pada melihatmu dan Darren terluka seperti kemarin,"


Seketika keduanya pun tampak terdiam, Namira tahu betul jika sejak kejadian penculikkan yang membuat dirinya berakhir dirumah sakit membuat Abra menjadi lebih posesif dan ketakutan.


Bahkan Abra pernah mengusir dan tidak mengijinkan seoraang perawat masuk kedalam ruangan Namira hanya karena Abra baru pertama kali melihat perawat itu.


Abra bahkan sampai menyewa perawat khusus untuk merawat Namira selama wanita itu dirawat dirumah sakit. Hanya demi membuat dirinya tenang, Abra menjadi sedikit parnoan terhadap orang yang baru dilihatnya.


Apa yang dilakukan Amanda ternyata berdampak besar pada psikis Abra, karena hal itu meninggalkan trauma yang cukup besar untuk Abra.


"Ji_jika kangen, pulang saja. Aku menunggumu dirumah Mas,"


Deg...

__ADS_1


.


***


__ADS_2