Aku Ibunya

Aku Ibunya
58.Terungkap


__ADS_3

Mama Wanda menyorot tajam ke arah anak dan menantunya. Sungguh, kejutan apa ini? Alma bukan ibu kandung Darren? Ya ampun hal gila macam apa yang sudah anaknya lakukan?


Semua pertanyaan itu kini berperang dalam benak mama Wanda. Hingga butuh waktu untuk dirinya menenangkan diri dan bersiap diri dengan segala kemungkinan yang ada.


"Bisa jelaskan, ada apa ini? Apa maksudmu dengan Alma yang bukan ibu kandung Darren? Jangan gila kamu Abraham, jangan bilang kalau kamu memiliki wanita lain selain istrimu? Ya ampun, Abraham Adhijaya. Apa apaan ini?" mama Wanda langsung mencecar banyak pertanyaan pada putranya itu.


Sungguh, tidak habis pikir jika sampai Abra memiliki wanita lain setelah memiliki istri yang cantik dan memiliki karir yang bagus.


Abra hanya bisa menghela nfas panjang saat melihat kemarahan sang mama. Abra tahu, jika apa yang dilakukan nya dulu adalah sebuah kesalahan. Namun Abra tidak pernah menyesali kesalahan yang telah dia buat hingga membuatnya bertemu dengan Namira.


Wanita yang sederhana tidak berambisi, namun penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. Jika pun harus menukar itu, Abra rela kehilangan istri dan kemewahan nya hanya demi bisa bersama dengan Namira dan Darren.

__ADS_1


"Alma tidak bisa memiliki anak karena sudah kehilangan rahimnya Mah. Itulah kenapa, aku menghadirkan wanita lain untuk memberikanku katurunan yang kelak akan menjadi penerusku," jelas Abra secara lugas dan tidak ada lagi yang ditutup tutupi.


"APA?"


"Mas,"


Kedua wanita itu menyeru dengan kata yang berbeda namun diwaktu yang bersamaan.


"Mas, kamu keterlaluan. Kamu sudah janji sama aku kalau ini akan jadi rahasia kita berdua sampai kita mati," lanjut Alma yang kini sudah berteriak histeris karena akhirnya, semua rahasianya terbongkar oleh suaminya sendiri.


"Aku pasti akan tetap menjaga rahasia ini sampai mati seandainya saja kamu bisa memperlakukan dan memperhatikan Darren layaknya anak kamu sendiri Alma. Tapi apa? Darren menghilang beberapa hari saja kamu nggak peduli. Kamu tahu, kejadian mengerikan apa yang anak itu alami? Tidak kan? Kamu tahu, putraku hampir saja kehilangan nyawanya jika saja Namira tidak melindunginya. Dan kamu, disaat ada dua orang yang celaka dan terluka demi menyelamatkan posisi kamu tetap aman sebagai menantu Adhijaya, kamu malah sibuk memikirkan diri kamu sendiri dan keadaan kamu yang jauh lebih baik dari mereka. Bahkan kamu tidak pernah menanyakan kabar Darren padahal sudah cukup lama anak itu tinggal bersama ibu kandung nya, yang kamu pikirkan hanya kehidupan mu dan karirmu saja. Sungguh memuakkan."

__ADS_1


Alma mematung mendengar cercaan dari Abra. Dia tidak menyangka jika apa yang selama ini dia lakukan akan jadi bumerang suatu saat nanti.


Abra melangkah, mengikis jarak pada istrinya itu dan berkata penuh dengan penekanan. Bahkan tatapan yang dia berikan sudah tidak sehangat dulu.


"Kalau sampai kamu ada andil dalam kekerasan yang di alami oleh Darren. Akan aku pastikan, kalau tangan aku sendiri yang akan membalaskan nya padamu, ingat itu," bisiknya pada wanita yang semakin membeku mendapat perlakuan yang sangat menakutkan itu.


Sementara mama Wanda. Wanita paruh baya itu hanya bisa terdiam seribu bahasa. Entah apa yang harus dia lakukan dan dia katakan. Pernikahan sang anak yang terlihat baik baik saja nyatanya menyimpan duri tajam didalam nya.


Bahkan, mama Wanda bisa melihat bagaimana terlukanya Abra saat melihat sorot mata dari putranya itu. Sorot mata yang biasanya memancarkan kehangatan itu, kini sudah tidak ada lagi.


Setelah mendengar penuturan Abra, ALma pun langsung berlari menuju kekamarnya dengan menangis. Alma tidak menyangka jika dirinya akan dipermalukan oleh suami nya sendiri didepan sang mertua.

__ADS_1


Sementara itu, sepeninggalan sang istri. Abra langsung menghampiri sang mama dan langsung duduk berjongkok didepan mama Wanda untuk meminta maaf.


"Maafkan Abra Ma, Abra tahu apa yang Abra lakukan itu kesalahan besar. Tapi kalau boleh jujur, Abra sama sekali tidak pernah menyesal sudah memiliki Namira dan Darren," lirih Abra meraih kedua tangan sang mama lalu menciumnya penuh dengan perasaan.


__ADS_2