
Braaakkkkkk...
Seketika perhatian dua orang yang ada di dalam ruangan itu teralihkan oleh suara pintu yang dibuka keras keras hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring memenuhi ruangan.
"Nona, sudah saya katakan jangan masuk sembarangan. Ayo keluar dulu," ucap gadis yang diperkirakan seumuran dengan Namira itu menatap takut pada atasan nya yang kini tengah menatap pada tamu yang tak di undangnya.
"Maaf tuan, saya sudah berusaha mencegahnya agar tidak masuk. Tapi____"
"Tidak apa apa, kalian bisa tinggalkan kami berdua," potong Abra saat pada sekertaris dan juga asisten pribadinya.
Kedua orang yang berada dibawah kuasanya pun menunduk hormat lalu berlalu meninggalkan ruangan itu, meninggalkan atasan dan tamu nya.
"Sebuah kejutan, apa yang membawamu kemari Ibu Nami?" tanya Abra bangkit dari kursi kebesaran nya lalu berjalan menghampiri Namira yang terlihat tidak baik baik saja.
__ADS_1
Plaaakkkk...
Set...
Belum lagi rasa keterkejutan Abra hilang dengan kedatangan istri keduanya itu di kantor perusahannya.
Kini keterkejutan Abra bertambah dengan rasa panas dipipi nya yang berasal dari telepak tangan mungil Namira.
Satu lagi, belum lagi kesadarannya pulih dari dua keterkejutan itu. Kini Abra kembali terperangah saat Namira mencengkram jas yang dia pakai lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Namira yang tengah menahan amarah yang memuncak.
Abra mengerutkan, dia sama sekali tidak mengerti apa yang di katakan oleh Namira saat ini. Tapi satu yang Abra tangkap dari semua kata yang keluar dari mulut Namira adalah, itu semua tentang putra mereka 'Darren'.
Abra mencekal tangan Namira saat wanita itu akan pergi dari hadapan nya. Merasa langkah nya dihentikan Namira berusaha melepaskan cengkraman tangan Abra dan memberontak sekuat tenaga.
__ADS_1
Namun tenaga nya lagi lagi kalah dengan kekuatan Abra. Karena laki laki itu tidak mau mengalah sedikit pun dan membiarkan dia pergi.
"Lepas brengsek, aku akan membawa anakku pergi dari kalian. Cukup sudah apa yang kalian lakukan padanya, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi," ucap Namira yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak keluar.
Mengingat bagaimana kesakitan nya Darren dan tubuh mungil itu kembali dipenuhi oleh luka lebam, membuat amarahnya tak terkendali hingga air matanya pun tidak bisa lagi dia tahan untuk tidak keluar.
"Jelaskan dulu, apa yang terjadi? Apa maksud dari semua ucapamu Namira," jawab Abra semakin mengeratkan genggaman tangan nya ditangan Namira.
Namira pun langsung mengabil ponsel miliknya lalu memperlihatkan semua foto yang dia ambil tadi.
"Lihat, lihat baik baik semua itu. Aku akan membuat laporan akan hal ini, tidak peduli dengan uang kkntrak itu. Jika perlu akan aku kembalilan semuanya asal putraku kembali padaku," Namira pun menyerahkan ponselnya dengan kasar pada Abra.
Abra langsung menangkap ponsel yang hampir jatuh ke lantai itu. Mata nya membulat sempurna, tubuhnya meremang menahan sesak dan amarah yang memuncak tatkala netranya melihat foto putra kesayangan nya dengan tubuh penuh dengan luka lebam.
__ADS_1
"Jika kamu tidak bisa menyayanginya, tidak apa apa. Tapi jangan sakiti dia seperti itu, aku rela menahan sakit dan hancur saat dengan terpaksa harus melepaskan nya untuk hidup bersama dengan mu. Bersama dengan ayah kandung nya, berharap dia akan mendapatkan kasih sayang dan kehidupan yang layak, bukan hidup penuh dengan luka dan kesakitan seperti saat ini. Jika kamu tidak bisa menyayanginya dan menerima kehadiran nya karena lahir dari wanita yang tidak pernah kamu cintai, tidak apa apa tapi tolong, tolong kembalikan dia padaku," lirih Namira panjang lebar disela isak tangisnya yang kini sudah pecah tatkala rasa sesak itu kian menghimpit dadanya mendapati putranya hidup dengan kesakitan dan luka.