
"Ji_jika kangen, pulang saja. Aku menunggumu dirumah Mas,"
Deg...
Jantung Abra serasa mau loncat dari tempatnya saja saat mendengar kata kata terakhir yang di ucapkan oleh Namira sebelum menutup sambungan telpon nya.
Bahkan tanpa disadari lengkungan bibirnya terus saja menghiasi wajah rupawan itu meski sudah tidak lagi muda. Ingin rasanya langsung melesat pergi mendatangi istrinya yang tampaknya sudah memberikan lampu hijau itu.
Namun, lagi lagi. Realita tidak akan pernah indah seindah ekspetasi. Bahkan sampai larut malam Abra masih terpenjara didalam kantornya karena pekerjaan pria itu belum juga selesai.
Tepat pukul 11 malam, Abra barulah bisa bernafas lega saat berkas yang ada di atas meja sudah selesai dia kerjakan semua.
Tok
Tok
"Masuk,"
"Maaf tuan, mengganggu. Tiket pesawat yang anda pesan untuk penerbangan malam ini sudah siap dan penerbangan akan dilakukan dalam dua jam kedepan,"
Ucapan Marsel barusan membuat mata Abra membulat sempurna. Saking bahagianya karena Namira yang sepertinya sudah memberikan lampu hijau untuk dirinya untuk mendekatkan diri mambuatnya lupa jika hari ini dia ada perjalanan bisnis keluar kota selama 4 hari lamanya.
Abra hanya bisa menghela nafas panjang saat menyadari jika dirinya harus berpisah untuk beberapa saat dengan sang istri.
__ADS_1
"Baiklah, siapkan semua kebutuhanku selama disana. Pastikan semua berjalan lancar, aku tidak ingin waktunya sampai molor dan membuat kita tidak bisa pulang tepat waktu. Bahkan kalau bisa, selesaikan pekerjaan itu secepat mungkin. Aku tidak bisa meninggalkan Namira lebih lama lagi."
"Baik tuan, saya akan mengatur semuanya agar kita bisa pulang tepat waktu,"
"Baiklah, antarkan aku pulang lebih dulu. Aku harus berpamitan dengan istriku lebih dulu."
"Baik tuan."
.
***
Tepat pukul 12 malam, mobil yang dikendarai oleh Marsel yang membawa Abra mulai memasuki pekarangan rumah sederhana milik Namira.
Lampu rumah masih tampak menyala menandakan jika si pemilik rumah masih terjaga. Abra turun dari mobil dengan cukup tergesa.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikusalam, Mas sudah pulang?"
"Iya sayang, maaf baru bisa pulang. Pekerjaan Mas sangat menumpuk,"
Namira pun menghampiri sang suami lalu menyalaminya dengan takzim. Abra sendiri langsung menarik Namira untuk masuk kedalam pelukkan nya.
__ADS_1
"Tidak apa apa, apa Mas sudah makan? Mau aku buatkan makanan?"
"Tidak usah sayang. Tapi, Mas harus pergi ke luar kota malam ini juga. Kamu tidak apa apa kan ditinggal? Atau bagaimana kalau kamu ikut dengan Mas saja. Disana kita bisa sekalian liburan, bagaimana?"
"Inikan perjalanan bisnis, tidak baik jika di campur dengan agenda pribadi. Pergilah, aku baik baik saja kok. Lagi pula aku masih butuh waktu untuk memulihkan kondisiku,"
"Baiklah, maafkan Mas ya. Mas harus meninggalkan kamu sendiri. Tapi kamu tidak perlu khawatir, Jika ada sesuatu kamu bisa hubungi Marco. Dengan senang hati dia pasti akan membantumu, tapi ingat, jangan terlalu dekat dengannya,"
"Mulai deh posesifnya. Sudah, Mas tidak perlu khawatir aku akan baik baik saja,"
"Baiklah, Mas pergi ya? Kalau ada apa apa jangan lupa kabari Mas,"
"Iya Mas, hati hati. Aku akan menunggumu pulang,"
Greepppp
Abra kembali memeluk erat tubuh Namira dan kini hati Abra kembali dibuat menbuncah bahagia, saat Namira membalas pelukan nya.
Bahkan pelukkan dari wanita itu perlahan semakin mengerat, membelit dan mengunci dipinggang Abra.
"Mas akan usahakan untuk bisa segera pulang ya. Tunggu Mas, dan jangan lupa hubungi Mas jika ada sesuatu yang terjadi padamu,"
"Iya Mas, pergilah. Hati hati dan jangan lupa kabari aku selalu,"
__ADS_1
"Pasti sayang, itu pasti akan aku lakukan. Cup."
Namira tampak menutup matanya saat bibir kenyal Abra mendarat dikeningnya. Rasa hangat pun langsung menyelimuti hati Namira yang sekian lama sudah dingin dan membeku.