
"Kalian dari mana?"
Darren mengeratkan genggaman tangan nya di tangan Abra saat mendengar suara Alma menggema diseluruh ruangan, saat ayah dan anak itu masuk kedalam rumah.
Abra sempat merasa sebuah ke anehan pada gestur tubuh Darren saat mendengar suara ibu sambung nya itu. Namun Abra tidak bisa menyimpulkan begitu saja apa yang terjadi sebelum dia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putranya itu.
"Sejak kapan kamu peduli pada apa yang kami lakukan? Kenapa? Masih kurang sibuk hingga masih sempat memikirkan apa yang kami lakukan," jawab Abra datar dan dingin.
"Sayang, masuk kamar gih, istirahat besok harus kembali sekolah kan? Masih ada yang harus Papa bicarakan dengan Mama, jadi masuk kamar dan istirahat lebih dulu ya, jangan nunggu Papa, ok?'' lanjut nya lagi.
Darren tampak mengangguk patuh lalu meninggalkan kedua orang tuanya disana. Darren berjalan cepat menuju ke arah kamar nya lalu masuk dan menutup pintu kamar itu rapat rapat.
Darren tahu jika sebentar lagi akan terjadi perang mulut antara kedua orang tuanya dan Darren tidak ingin mendengar semua itu lagi.
__ADS_1
Lagi? Ya, sudah sejak 5 tahun lalu hubungan Abra dan Alma mengalami penurunan yang drastis. Bahkan hampir setiap pertemuan keduanya hanya di isi oleh pertengkaran dan Darren selalu menjadi alasan dibalik semua keributan itu.
Entah kesalahan apa yang membuat sang ibu begitu membencinya bahkan tega menyakitinya tanpa sepengetahuan Abra. Alma memang selalu memperlihatkan sikap ketidak sukaan nya pada Darren sejak dia masih balita.
**** sedih dan kecewa namun Darren tidak bisa berbuat banyak selain pasrah akan keadaan. Toh selama ini sang ayah begitu menyayanginya hingga Darren bisa melupakan jika dia tidak di inginkan oleh sang ibu.
"Maksud kamu apa sih Mas? Apa salah jika aku mengkhawatirkan suami dan anakku?" tanya Alma tiak suka dengan jawaban dari Abra.
"Tidak, justru itu yang seharusnya kamu lakukan Al. Tapi untuk sekarang, apa tidak terlalu terlambat untuk kamu mengkhawatirkan aku dan Darren? Lebih baik kamu fokus dengan karir sialan mu itu, aku lelah dan aku ingin istirahat," jawab Abra berlalu pergi meninggalkan Alma yang masih menyimpan rasa kesal pada suaminya itu.
"Sampai kamu bisa melepaskan karirmu itu dan menjadi ibu rumah tangga yang seharusnya. Mengurusi aku dan Darren, apa kamu bisa? Kalau bisa, malam ini juga aku akan pindah kamar," jawab Abra tanpa membalikan tubuhnya.
"Jangan memberi syarat yang berat dong Mas, kamu tahu sendiri kalau aku tidak bisa me____"
__ADS_1
"Kalau begitu jangan menuntut apapun lagi dariku. Aku sudah berbaik hati memberimu pilihan,"
Abra pun kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah kamar yang selama ini dia tempati untuk beristirahat bersama dengan putranya, Darren.
Alma sendiri hanya bisa mengepalkan kedua tangan nya demi menetralkan kembali perasaan nya yang bergemuruh hebat karena emosi.
Sudah hampir 3 tahun Abra mengabaikan nya dan memilih tidur dikamar Darren setelah Alma menolak untuk berhenti menjadi model dan fokus pada rumah tangga nya saja.
Aplagi setelah adanya si kecil Darren yang begitu membutuhkan perhatian dari seorang ibu. Meski Alma bukan ibu kandung nya, namun hal ini sudah Abra dan dirinya bicarakan dan Alma bersedia menjadi ibu sambung untuk anak Abra dari wanita lain yang Abra bayar.
Namun setelah Darren hadir, bukan nya mengurusi anak bayi itu. Alma malaherlihat sibuk dengan karirnya yang mulai naik daun.
Puncaknya dari kemarahan Abra, saat Darren sakit dan harus dirawat namun Alma sama sekali tidak pernah datang untuk menjaga bayi kecil itu.
__ADS_1
Alma malah terlihat mendatangi pesta satu ke pesta lain nya hingga membuat Abra naik pitam dan berujung mengabaikan wanita cantik yang sudaha 10 tahun ini menjadi istrinya.