Aku Ibunya

Aku Ibunya
65.Menerima Permintaan Abra


__ADS_3

"Bagaimana? Apa sudah tidak ada yang ketinggalan?" tanya Abra saat tengah menemani sang istri bersiap siap untuk pulang kerumah.


Setelah satu minggu di rawat, akhirnya Namira sudah diperbolehkan untuk pulang. Meski luka didadanya belum sepenuhnya sembuh.


Namun dia bisa melakukan rawat jalan dengan tetap memperhatikan waktu kontrol jangan sampai terlewatkan, karena itu akan mempengaruhi kondisi luka nya ynag sudah mulai mengering.


"Sudah tidak ada Mas. Kita bisa pulang sekarang kan??"


"Tentu saja, sini. Duduk disini, jangan terlalu banyak bergerak nanti takut lukanya kenapa napa lagi dan kamu gagal pulang hari ini,"


Abra langsung mengambil kursi roda yang sengaja dia beli untuk digunakan Namira selama masa pemulihan nya, saat melihat Namira turun dari brankar.


Dengan sigap pria itu membantu sang istri untuk berpindah tempat , dari brangkat kini berpindah ke kursi roda.


"Apa harus menggunakan ini Mas? Kakiku kan baik baik saja, aku masih bisa berjalan jadi kenapa harus menggunakan ini?"


"Kamu menggunakan kursi roda ini hanya selama masa pemulihan saja sayang. Setelah kamu benar benar pulih dan luka kamu juga sudah kering, maka kamu sudah boleh tidak menggunakan nya lagi."

__ADS_1


"Tapi aku sudah baik baik saja Mas,"


'"Tapi tidak untuk Mas sayang, diam dan menurutlah. Ini semua demi kebaikan kamu, agar kamu bisa segera pulih dan kita bisa segera menyusul Darren ke London. Apa kamu tidak merindukan dia, sudah saat dia tahu jika kamu adalah ibunya,"


Deg...


"Ma_maksud Mas? Apa Mas akan memberitahu dia yang sebenarnya?"


"Aku rasa, ini waktu yang tepat untuk kita jujur padanya. Aku harap, setelah ini kita bisa berkumpul bersama sebagai satu keluarga yang utuh."


"Kita coba saja dulu. Kita tidak akan tahu hasilnya bagaimana jika kita tidak mau mencobanya. Meski nanti hasilnya, sama seperti yang kamu takutkan. Maka kita akan berjuang bersama untuk mendapatkan maaf dari nya


Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, aku sangat ingin kita berkumpul bersama sebagai satu keluarga yang utuh. Bagaimana? Kamu maukan berjuang bersamaku untuk menyatukan keluarga kita? Dan Mulai sekarang, kamu maukan hidup bersama ku, bukan sebagai seorang guru dari anakku, namun sebagai seorang istri. Istri dari seorang pria bernama Abraham Adhijaya?"


Namira tertegun, terharu dengan apa yang di ucapkan ole pria itu. Apalagi saat Abra berlutut didepan nya dan memintanya untuk menjadi istri yang sesungguhnya untuk Abra.


Untuk membangun kembali keluarga mereka yang sempat terpecah belah menjadi utuh lagi. Meski masih ragu, Namun pada akhirnya Namira pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Tidak ada alasan bagi Namira untuk menolak Abra. Toh penikahan mereka masih sah dimata hukum dan agama karena Abra yang memang tidak pernah mengucap kata talak atas nama nya.


Meski pun mereka pernah berpisah selama bertahun tahun lamanya. Namun pernikahan itu masihlah sah, karena Abra yang memang tidak pernah mengucapkan kata talak atas nama Namira.


Abra yang mendapat jawaban, meski sebuah anggukan merasa begitu lega dan bahagia. Abra langsung memeluk erat tubuh Namira. Bertubi tubi kecupan diberikan oleh Abra, di pucuk kepala Namira.


"Terima kasih, terima kasih sayangku,"


.


***


Sementara dirumah kediaman Abra, tampak Alma diam terpaku dengan selembar kertas ditangan nya. Sebuah surat gugatan cerai dengan nama tergugat Alma Fahira Hermawan dan si penggugat yang bernama Abraham Adhijaya.


Alma meremas surat itu dengan nafas yang memburu, bahkan dadanya sampai naik turun saat mendapati jika dirinya benar benar digugat cerai oleh suaminya.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kamu menceraikan aku Mas, aku sangat mencintaimu Mas. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku," gumam nya menahan rasa sesak didada kala menyadari jika kini pernikahan nya berada di ujung kehancuran.

__ADS_1


__ADS_2