
Aku begitu ketakutan saat Bu Nami atau Mama terkena tembakan itu. Rasanya ingin sekali ku bunuh wanita itu. Wanita gila yang sudah menculik dan mencelakai Mama.
Namun lagi lagi, karena tubuhku yang kecil ini membuat aku tidak bisa melawan dan melindungi wanita yang sudah melahirkan aku.
Beruntung nya, aku memiliki Papa dan Om yang berani dan sigap. Papa dan Om Marco datang tepat waktu dan begitu sigap melawan semua para penculik itu.
Meski begitu, aku tetap takut. Aku takut terjadi sesuatu pada mama ku, orang yang selama ini aku rindukan keberadaan nya.
Saat Mama masuk ke ruang operasi aku melihat bagaimana kalut dan takut nya Papa. Namun dia berusaha menyembunyikan itu tapi aku tahu jika dia begitu sangat ketakutan.
Hingga Papa tidak menyadari ke beradaan ku di sana. Hingg aku pun memberanikan diri untuk memanggilnya yang akhirnya menyadarkan Papa jika aku masih ada di sana bersama dengan nya.
Papa pun akhirnya memelukku dengan sangat erat. Seolah tengah membagi rasa takut dan juga kalutnya pada tubuhnya. Hingga cukup lama Papa memeluk tubuh ku.
Tidak lama, Oma pun datang dan berbicara banyak dengan Papa. Dan itu aku tidak tahu karena mereka berbicara dengan jarak yang cukup jauh dan aku duduk di kursi tunggu dengan di temani oleh Om Marco.
__ADS_1
Lalu setelah nya, Oma membawaku pergi. Bukan untuk pulang ke rumah, namun Oma langsung membawaku ke luar negri untuk mengobati rasa trauma ku.
Meski aku berusaha kuat dan tegar, namun ternyata aku salah. Aku tidak sekuat itu, hingga aku membutuhkan waktu untuk menstabilkan kondisiku.
Setelah menghabiskan waktu dengan berobat dan bercerita banyak hal dengan seorang dokter yang kerjaan nya ngajakin ngobrol. Aku pun merasa rindu, aku rindu mama dan juga papa.
Aku ingin bersama dengan mereka, hingga akhirnya aku pun meminta untuk kembali dan berkumpul bersama mereka saja. Aku masih bisa menjalani pengobatanku di sana.
Dan setelah berbagai pertimbangan, akhirnya Oma pun setuju kembali membawaku pulang untuk berkumpul bersama dengan mereka.
"Daniel, Diana,,," seru seorang pemuda yang masih menggunakan seragam SMA nya tampak terlihat begitu marah saat melihat kamarnya bak kapal pecah.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan kedua adik kembarnya, Daniel dan Diana. Dua bocah yang saat ini berusia 10 tahun itu memang tidak pernah bisa melihat kamar sang kakak dalam ke adaan rapih.
Meski tidak pernah ada barang atau mainan Darren yang hilang atau rusak. Namun tetap saja, kedua bocah itu selalu membuat kamar itu tampak berantakan.
__ADS_1
Dan tentu saja hal itu sangat di benci oleh Darren yang suka akan kebersihan dan kerapihan, biasanya Darren tidak akan pernah marah.
Namun kondisi badan yang lelah karena tengah menghadapi ujian akhir sekolah membuat moodnya kurang baik dan akhirnya marah juga.
"Ada apa sih Kak? Kok teriak teriak?" tanya Mama Nami saat melihat putra sulung nya meneriakkan nama kedua adik nya.
"Lihat Ma, haruskan setiap aku pulang sekolah membereskan ke kacauan yang mereka buat? Kenapa mereka tidak main di kamar mereka saja sih?" gerutu Darren sambil menunjukan isi kamarnya saat ini.
"Sabar sayang, masa masa ini akan kamu kangenin loh nanti saat kalian tumbuh dewasa. Sudah sana istirahat di ruang kerja papa saja, kamar nya biar Mama yang bereskan,"
"Tidak usah Ma, biar Darren saja. Mama urusin saja tuh dua bocah ngeselin itu,"
Darren pun mulai membereskan ke kacauan yang terjadi di kamarnya. Meski menggerutu karena lelah belajar dan masih harus membereskan kekacauan yang di lakukan oleh adik kembarnya, namun Darren tidak pernah membiarkan sang mama melakukan hal yang membuat wanita paruh baya itu kelelahan.
Hingga Darren pun akhirnya mengalah dan membersihkan kamarnya sendiri.
__ADS_1