
POV Darren
"Darren,,,"
Lagi, suara teriakan itu bagaikan siren head untukku. Aku tidak mau melihat dua wajah itu, tapi aku juga tidak bisa pergi dan tidak bisa melawan.
Tubuhku masih terlalu kecil untuk melawan dua monster itu. Papa, ah, aku kangen Papa. Kenapa dia selalu sibuk bekerja tanpa mau tau ke adaan ku yang tersiksa ini.
"Darren, kamu dengar tidak?"
"Iya Ma, sebentar,"
Akhirnya, mau tidak mau aku pun keluar kamar untuk menemui dua nenek sihir itu. Oh ya tuhan, kenapa aku harus lahir dengan tubuh kecil yang tidak bertenaga.
Hingga saat mereka merundung ku, aku tidak berdaya sama sekali. Dengan langkah yang teramat sangat malas, aku pun pergi keruangan dimana di sana tidak terjangkau oleh cctv.
Seli dan Alma, itu adalah dua nama yang ingin aku lenyapkan dari muka bumi kelak jika aku sudah besar dan berkuasa.
Akan aku pastikan, jika kekuasaan seorang Abraham Adhijaya akan jatuh padaku agar aku bisa menghancurkan dua iblis bertopeng manusia itu.
"Sudah kubilang kalau dipanggil itu langsung datang, kamu ngerti nggak sih?"
itulah yang sering aku dengar dari mulut wanita bernama Seli. Muak sekali rasanya melihat wajah sok berkuasanya itu.
__ADS_1
Dia dibayar oleh Papaku tapi dia memperlakukan ku dengan sangat buruk. Tapi lagi dan lagi, aku tidak kuasa untuk melawan mereka.
"Ada apa Mama? Maaf tadi aku tengah mengerjakan tugas sekolah," tanyaku sambil berdalih.
Berbohong, itulah yang aku pelajari dari dua manusia ini. Aku terpaksa menjadi pembohong agar aman dari serangan keduanya yang kerap melayangkan kedua tangan nya di tubuhku.
"Hari ini Papa mu akan pulang, pastikan semua baik baik saja. Kamu tahukan apa yang akan terjadi jika sampai Papa tahu akan hal ini."
"Iya Ma, aku mengerti,"
Lelah sekali rasanya. Ingin mati saja kalau bisa jika setiap hari aku mendapatkan perlakuan seperti ini.
Tapi tidak, tidak sekarang. Aku harus hidup sampai aku tumbuh dewasa dan membalaskan dendamku pada mereka.
Aku tidak akan membiarkan dua manusia itu hidup dengan tenang. Kita lihat saja, jika Papa tidak bisa membalaskan sakit ku, maka akan aku lakukan itu sendiri, dengan tanganku sendiri.
Plaakkk
Braakkkk
"Aww, ssttt,"
Lagi, rasa sakit ditampar dan di banting kembali harus aku terima dari pengasuhku hanya karena aku diantar pulang oleh wali kelasku.
__ADS_1
Saat itu, aku memang sudah tidak bisa menahan nya lagi. Hingga aku pun jatuh pingsan di kelas dan membuat wali kelasku IBu Namira tahu kondisi tubuh ku yang penuh luka lebam
Dan siang itu juga, aku pun di antar pulang oleh Ibu Nami sampai rumah. Sayang, Papa belum bisa pulang hingga aku harus kembali diserang oleh wanita gila yang setiap hari terus mencari keberadaan Papa.
"Sudah aku katakan padamu. Jaga sikapmu jangan sampai ketahuan siapapun, brengsek," seru pengasuhku menghunus tajam ke arah ku yang sudah tidak berdaya di sudut ruangan.
"Ingat anak sialan, akan aku Pastikan jika kamu akan lenyap di tanganku jika Papa mu tahu akan hal ini," ancamnya lagi.
Aku merutuki diriku sendiri, kenapa memiliki tubuh yang lemah hingga aku tidak berdaya untuk melawan ke tidak adilan ini.
Dan keesokan hari nya, Ibu Nami kembali mendapati tubuhku yang lebam lebam, sisa kemarin saat pengasuh gila ku kembali menyerang ku.
Disini lah aku sudah tidak bisa menahan diri dan berpura pura kuat saat melihat sorot mata Bu Nami yang meneduhkan dan menghangatkan hatiku.
Pihak sekolah yang di wakil kan oleh Bu Nami pun akhirnya memanggil Papa untuk membicarakan kekerasan yang terjadi padaku.
"It's okey, kamu aman disini. Ada ibu yang akan melindungi kamu. Jangan takut, katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa beliau yang melakukan nya?" ucapannya saat aku tidak bisa berkata jujur didepan Papa.
Ucapan dan dekapan yang diberikan oleh Bu Nami benar benar memberi ketenangan untukku. Dan sungguh, aku ingin memiliki seorang ibu sepertinya.
Hai, Darren hadir nih...
Buat yang penasaran sama kisah Darren, othor hadirkan nih sebagai extra part yang baru sempat Othor up...selamat membaca.
__ADS_1