
Euugghhhh
Sebuah lenguhan dari bibir Namira mengalihkan perhatian Abra yang saat ini tengah fokus pda layar ponsel yang ada ditangan nya.
Abra langsung beranjak dari sofa lalu langsung menghampiri Namira yang mulai mengerjapkan matanya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Abra saat tiba disamping Namira.
"I_ini dimana Mas? Kenapa ruangan nya bau sekali," tanya Namira saat membuka matanya, bau desinfektan langsung saja menyapa indra penciuman nya.
"Ini dirumah sakit sayang, bagaimana, apa ada yang sakit?"
"Kepala aku pusing sekali Mas, dada ku juga terasa ngilu. Memang nya aku kenapa Mas? apa yang terjadi sampai aku dibawa kerumah sakit?" tanya nya lagi masih dalam ke adaan yang linglung.
"Istirahat saja dulu, nanti setelah lebih baik kamu juga pasti akan mengingatnya,"
"Baiklah, aku haus Mas. Tolong ambilkan aku minum,"
__ADS_1
Abra pun langsung mengambilkan air yang sudah tersedia di atas nakas yang ada dismaping brangkar yang Namira tempati.
Disana juga ada satu keranjang buah buahan yang sudah Abra sediakan jika saja istrinya menginginkan makan buah.
Tidak lupa juga Abra menyediakan makanan berat yang ada didalam kotak bekal anti panas yang bisa membuat makanan yang dimasukkan kesana tetap hangat.
"Apa kamu makan sesuatu? Aku sudah menyiapkan bubur ayam dan juga buah buahan. Kamu mau makan apa?"
"Nanti saja Mas, aku masih belum lapar."
"Tapi sebentar lagi jadwal kamu minum obat. Ayo makan dulu, sedikit dipaksakan ya biar kamu bisa segera pulih," bujuk Abra.
Melihat respon dari Namira, Abra pun langsung meraih kotak bekal itu lalu membuka nya. Abra begitu sigap menyiapkan menu makan untuk Namira.
"Bi_biar aku makan sendiri saja," tolak Namira saat Abra mencoba menyuapinya.
"Iya, nanti kamu bisa makan sendiri. Tapi nanti, setelah kamu sembuh ya. Saat ini biarkan aku menyuapimu,"
__ADS_1
"Ba_baiklah kalau begitu,"
Dengan rasa canggung, akhirnya Namira menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Abra. Dan hal itu membuat Namira tanpa sadar memperhatikan wajah suaminya itu.
Namira menatap lekat wajah yang tampak begitu terlihat lelah, namun masih saja sibuk memperhatikan nya. Bahkan tanpa rasa ragu, Abra melayani Namira dengan penuh ketulusan dan itu membuatnya terenyuh.
"Sudah puas belum natap aku nya? Kalau belum, nanti lanjut lagi ya, aku mau ijin kekamar mandi dulu,"
Sontak apa yang katakan Abra mengejutkan Namira yang masih setia menatap wajah pria yang kini tersenyum begitu manis didepan nya.
Spontan, Namira pun langsung menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah yang kini muncul diwajah pucat nya.
Ya ampun, malu sekali. Gumam nya dalam hati. Namira kembali tertegun saat merasakan usapan lembut dipucuk kepala nya yang berasal dari tangan kekar Abra.
"Sabar ya, cuma sebentar kok. Aku mau cuma mau ke kamar mandi, setelah itu kamu bebas menatap aku sepuas puasnya, cup,"
Tubuh Namira kian membeku saat Abra membenamkan satu kecupan dipucuk kepala nya sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sepeninggalan Abra, Namira mengusap dadanya yang berdebar dengan hebatnya. Namira tidak tahu kenapa jantung nya kini berdetak dengan cukup kencang seperti saat ini, belum lagi Namira yang merasa jika ada ribuan kupu kupu hinggap di hatinya yang membuat bibir ranum itu melengkungkan sebuah senyuman tipis namun manis.
Ya ampun, kenapa ini? Kenapa jantungku berdebar debar? Dan, kenapa rasanya senang sekali ya? Gumam nya dalam hati, sembari menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.