
***
"Apa dia baik baik saja?" tanya mama Wanda saat melihat Namira masih terbaring di brangkar dan belum juga sadarkan diri.
Padahal Abra cukup lama meninggalkan rumah sakit untuk kembali kerumah, berniat untuk beristirahat sejenak disana. Namun kenyataan nya, niatan itu urung dilakukan saat mama Wanda terus memaksanya untuk kembali kerumah sakit.
"Dokter bilang, semua sudah baik baik saja. Mungkin obat bius yang diberikan Dokter pada saat operasi masih belum hilang, makanya dia masih belum bangun,"
"Lalu, kenapa dia bisa tertembak? Dan siapa orang yang berniat mencelakai Darren? Apa kamu memiliki musuh?"
"Amanda,"
"Amanda? Kenapa dengan anak itu?"
__ADS_1
"Amanda yang melakukan nya? Dia bahkan sampai merubah wajahnya demi melancarkan aksi balas dendam nya padaku,"
"Benar benar tidak waras gadis itu. Mana bisa dia jatuh cinta pada kakak yang jelas jelas satu ayah dengan nya. Apa yang dilakukan Stela selama ini? Kenapa dia tidak mendidik anaknya dengan baik, setidaknya, buat anaknya memiliki mental yang sehat. Bukan nya gila seperti saat ini,"
"Apa mama masih berhubungan baik dengan wanita itu?"
"Mana ada, mendengar namanya saja sudah buat darah Mama mendidih. Mama tidak habis pikir, kenapa dia begitu tega melakukan ini pada rumah tangga Mama. Mama pikir, persabahatan kami yang terjalin selama belasan tahun itu murni karena kami saling menyayangi. Tahunya, dia begitu menginginkan posisi sebagai istri dari ayahmu,"
"Tapi kan Papa juga dijebak oleh nya Ma. Papa sangat mencinta Mama, bahkan demi Mama , Papa sampai tidak peduli jika dia memiliki Amanda. Mungkin itulah yang membuat Amanda mengira jika kami bukan lah saudara kandung dan jatuh cinta hingga terobsesi denganku. Bahkan dia sampai membayar seorang pria untuk membuatnya hamil agar bisa menjeratku. Benar benar gila,"
"Entahlah, aku menyerahkan semua urusan Amanda pada Marco. Sepertinya Marco cukup tahu bagaimana cara menangani gadis itu,"
"Lalu, bagaimana dengan Darren? Mungkin setelah ini, lebih baik kamu bawa dia pindah ketempat baru. Mama takut, dia akan mengalami depresi jika kembali kerumah yang sudah membuat dia trauma,"
__ADS_1
"Iya, itu juga rencanaku. Setelah mereka keluar dari sini, aku berencana untuk tinggal bersama dengan Namira. Rumah sederhana miliknya, jauh lebih nyaman dari rumah megah yang aku miliki selama ini,"
"Jangan gila kamu, cukup satu kali saja kamu melakukan dosa Ham. Meski kalian pernah menikah tapi itu dulu dan itu sudah berlalu selama bertahun tahun. Kalian harus menikah dulu, baru bisa tinggal satu rumah,"
"Kami sudah menikah Ma,"
"Iya, tapi itu kan pernikahan kontrak Ham,"
"Tidak Ma, aku sudah meresmikan pernikahan kami,"
"Maksud kamu?"
"Setelah Namira melahirkan Darren, meski dia pergi meninggalkan kami. Aku tetap meresmikan pernikahan kami, aku juga tidak pernah mentalak nya Ma. Dengan begitu, pernikahan kami ini masih sah dimata hukum maupun agama,"
__ADS_1
"Benarkah begitu? Apa kamu yakin, jika pernikahan kalian masih legal?"
"Tentu saja. Aku sudah mencari informasi ini lebih dulu. Jikalau pun sudah tidak berlaku, aku tinggal menikahi dia lagi. Apa susahnya, tapi Ma. Menurut pendapat para ahli yang sudah aku temui, pernikahan kami masih sah meski sudah berpisah lama, dengan catatan aku tidak pernah mentalaknya. Dan selama ini aku tidak pernah mengucap kata talak atas nama Namira, dengan begitu pernikahan kami masih sah Mama."