
Setibanya di alamat yang tadi di tuju, Namira melihat Sela menaiki sebuah mobil dengan membawa Darren bersama dengan nya.
Namira pun mengurungkan niatnya untuk turun dari taksi yang dia naiki saat melihat mobil yang dinaiki oleh Sela mulai bergerak. Tidak ingin kehilangana jejak sang anak, Namira pun langsung meminta supir taksi itu untuk mengikuti kemana perginya mobil hitam yang membawa Darren pergi.
"Tolong, ikuti mobil itu Pak. Tenang saja, saya akan membayar lebih nanti," pinta Namira yang di angguki oleh supir taksi itu.
Namira tak henti hentinya menatap kemana laju mobil yang membawa putranya itu pergi. Hingga tak terasa mobil taksi yang dia naiki mulai memasuki kawasan yang begitu sepi.
Meski ada beberapa rumah, namun tampaknya rumah rumah itu sudah tidak dihuni lagi oleh para pemiliknya. Rumput liar yang tingginya hampir setengahnya dari rumah rumah itu sudah menujukan jika rumah rumah disana sudah lama tidak dirawat oleh pemiliknya. Mobil taksi pun mengikuti dari jarak aman, agar tidak terlalu mencurigakan.
Beruntung, jalanan itu juga didatangi atau dilewati beberapa kendaraan lain hingga tidak akan membuat kecurigaan bagi mobil yang ada didepan, bahwa mobil itu tengah di ikuti.
"Stop Pak, berhenti dulu," ucap Namira menghentikan laju taksi yang dia naiki saat melihat mobil hitam yang membawa Darren memasuki sebuah bangunan yang sepertinya bekas sebuah gudang.
"Ini uang nya Pak. Kembalian nya ambil saja, Bapak boleh pergi sekarang," lanjut Namira sebelum turun dari taksi.
Setelah turun dari taksi, Namira pun segera mengirim pesan pada Abra. Pesan yang berisikan share lokasi dimana dirinya berada saat ini.
"Datang ke sini. Darren dibawa pengasuhnya kesini," lanjut Namira setelah mengirim sharelok pada ponsel Abra.
Lalu Namira pun berjalan maju dengan sangat hati hati mencoba mengamati sekitar. Namira terus mencari celah agar bisa melihat apa yang terjadi didalam sana.
__ADS_1
Namun alahkah terkejutnya dia, saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Dan lalu detik kemudian Namira merasakan sesuatu menghantam kepalanya hingga pandangan nya tiba tiba mengabur lalu menggelap.
Buugghhh
"Aww,ssttt. Ka_kali___"
Set...
Bruukkkk
Namira pun akhirnya jatuh tersungkur tidak sadarkan diri setelah mendapatkan pukulan dari seseorang dikepalanya.
Sementara Abra sendiri langsung meluncur ke tempat dimana lokasi yang tadi dikirimkan oleh Namira padanya.
Meski banyak rumah, namun tampaknya. Rumah rumah itu sudah lama tidak dihuni oleh para pemiliknya.
"Kamu yakin, ini alamat yang dikirimkan oleh Namira? Kenapa tempatnya sepi begini?" tanya Marco saat melajukan mobilnya semakin ke dalam, di wilayah itu.
"Yakin sekali, sialnya. Ponsel Namira kini tidak bisa dihubungi, aku takut terjadi sesuatu padanya,"
"Tenanglah, kita akan segera menemukan nya,"
__ADS_1
Marco pun memperlambat jalan mobilnya untuk mencari dimana keberadaan Namira saat ini. Hari sudah semakin menggelap, namun Abra dan juga Marcoasih belum menemukan titik terang dimana Darren dan Namira berada saat ini.
Marco menghentikan laju mobilnya untuk istirahat sejenak. Dia keluar dari mobilnya untuk meroko sejenak demi kembali menjernikan pikiran nya, di ikuti oleh Abra yang kini duduk di depan mobil itu.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita sudah berjam jam mencari mereka namun tidak ada tanda tanda kehidupan disini," tanya Marco membuka pembicaraan di antara mereka setelah beberapa menit berlalu dengan keheningan.
"Kita cari sekali lagi, jika memang tidak menemukan mereka disini. Kita pulang dan cari ditempat lain nya," jawab Abra ditengah keputus asaan nya mencari orang orang yang sangat dia sayangi.
Namun, disaat keduanya akan beranjak meninggalkan tempat dimana mereka berhenti saat ini. Tiba tiba saja sebuah pergerakan terlihat dari sebuah gedung yang sepertinya gedung itu merupakan bekas gudang hingga menghentikan langkah Marco yang lebih dulu melihat pergerakan itu.
"Tunggu, jangan bergerak," ucap Marco setengah berbisik pada Abra.
Marcoo juga mengajak Abra untuk bersembunyi agar tidak ketahui oleh orang orang yang tampak mencurigakan itu.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Abra dengan cara berbisik.
"Ssstttt, kita lihat saja dulu. Mereka tampak mencurigakan,"
Bingung dengan apa yang dikatakan oleh Marco, Abra pun beralih dengan memperhatikan kemana arah tatapan mata Marco tertuju saat ini.
Rupanya, Marco tengah memperhatikan beberapa orang pria bertubuh kekar dan berbaju serba hitam tengah berdiri disamping sebuah mobil hitam.
__ADS_1
Dan seketika mata Abra dan juga Marco membulat sempurna, saat melihat Namira dan juga Darren di seret keluar dari dalam gedung itu dengan ke adaan tangan terikat dan juga mata yang ditutup sebuah kain. Tidak lama setelah para lelaki itu keluar yang di ikuti oleh Sela dibelakang nya.