
Neffal mengendong Kanza menaiknya ke atas kursi roda, sang. Suster pun langsung membawa Kanza keluar dari kamarnya menuju ruang operasi.
"Mba sekarang naik ke atas brankar ini ya biara kita bawa ke ruangan operasi,'' ujar suster itu. Keluarga Kanza sudah menunggu diluar begitu juga dengan Neffal.
Di kamar rawat hanya tinggal Gio seorang dia sangat penasaran dengan buku harian Kanza dia ingin sekali membacanya, Gio pun turun dari tempat tidurnya dia berjalan mendekati tempat tidur Kanza.
''Dosa gak ya baca diary orang tanpa izin,'' batin Gio, ''tapi gue penasaran banget nih,'' Gio pun mengambil buku harian Kanza dan membawanya ke tempat tidurnya.
Dia membuka buku itu dari halaman pertama Gio membaca semua isi hati Kanza yang tertulis di buku hariannya itu.
''Jadi Kanza gak bisa jalan, pantas saja gue gak pernah lihat dia jalan selama di rumah sakit ini,'' ujar Gio kepada diri sendiri.
Gio pun kembali membaca halaman demi halaman tentang kisah cinta, terluka hancur semuanya di baca oleh Gio. Dia tidak menyangka kalau Kanza semenderta itu.
''Sedih banget ceritanya,'' batin Gio. Setelah selesai membaca Gio meletakkan kembali buku harian itu ke dalam tas Kanza.
..............
Tiga jam berlalu akhirnya operasi Kanza selesai. Tetapi Kanza masih belum sadar karena efek biusnya belum meghilang, Kanza kembali di bawa ke kamar rawat inap.
Gio mendengar pintu kamar di buka dia pun segera bangkit dari tempat tidurnya dia melihat Kanza belum sadarkan diri.
''Baiklah Bu nanti kalau pasien Kanza sudah sadar tolong panggil saya,'' ujar sang suster.
''Baik sus,'' sahut Dewi.
Suster itu pun langsung pergi keluar kamar rawat inap itu.
''Bagaimana keadaan Kanza kak?'' tanya Gio.
''Kata dokter dia sudah baik-baik saja,'' sahut Dewi.
__ADS_1
Neffal menatap Gio karena Gio bertanya tentang keadaan Kanza.
''Suyukurlah kalau gitu,'' sahut Gio.
''Neffal tolong kamu jaga Kanza ya, kakak mau keluar sebentar,'' ujar Dewi.
''Baik kak,'' sahut Neffal.
''Gue juga mau keluar sebentar ya,'' ujar Lulu yang juga pergi.
Neffal duduk di samping Kanza menemani Kanza selagi kakaknya diluar.
''Kanza cepat sembuh ya, aku minta maaf atas apa yang telah aku katakan sama kamu,'' ujar Neffal.
''Kenapa? lo minta maaf sekarang, kalau lo benar-benar minta maaf tunggu dia sadar bukan saat dia gak sadar lo minta maaf!,'' sahut Gio.
''Lo siapa sih nyahut aja dari tadi, dia pacar gue lo gak usah ikut campur!,'' ujar Neffal.
Neffal hanya diam mendengar apa yang di katakan oleh Gio, mungkin dia merasa bersalah atas tuduhannya kepada Kanza.
Tiba-tiba ponsel Neffal berdering panggilan dari adiknya.
''Iya ada apa?'' tanya Neffal setelah mengangkat ponselnya.
''Abang dimana ibu tanya terus,'' sahut Anggi dari seberang sana.
''Abang ada di rumah teman besok Abang pulang,'' ujar Neffal berbohong, ''yaudah Abang tutup teleponnya,'' ujar Neffal sambil mematikan ponselnya.
...............
''Sayang,'' ucap pacar Gio yang baru datang dengan suara lantangnya.
__ADS_1
''Suara kamu keras banget sih gak lihat ada orang sakit,'' ujar Gio.
''Maaf aku pikir cuma kamu doang disini,'' sahutnya.
''Kamu dari mana saja? kok baru datang? aku udah lama lo di rumah sakit,'' ujar Gio.
''Maaf sayang kamu kan tahu kalau aku kerja,'' sahutnya.
Gio hanya tersenyum menangkapi perkataan pacarnya itu.
''Sayang aku ke toilet dulu ya.''
Saat pacarnya ke toilet tiba-tiba ponselnya berdering, Gio pun menjadi penasaran siapa yang menelepon pacarnya itu, Gio pun mengangkat ponsel pacarnya. Belum lagi Gio bicara, tapi orang itu sudah bicara duluan.
''Sayang kok kamu lama banget sih, ada siapa di dalam?'' tanya orang di balik telepon.
''Lo siapa?'' tanya Gio.
''Lo yang siapa kok bisa ponsel pacar gue ada sama lo?'' tanya dia.
Gio melihat pacarnya keluar dari toilet Gio pun segera mematikan ponsel itu.
''Sayang maaf ya, aku harus pergi sekarang soalnya ada pekerjaan yang harus aku kerjakan,'' ujarnya.
Gio hanya mengangguk saja.
.
.
.
__ADS_1
. BERSAMBUNG