
''Udah pelan-pelan saja minumnya gue tahu gue ganteng,'' ucap Gio tersenyum, Gio tidak pernah berubah dengan sikapnya yang kebedean itu.
''Pede sekali Anda,'' ujar Kanza mengecilkan suaranya.
''Apa kamu ngomong sesuatu?'' tanya Gio menatap Kanza.
''Gak ada,'' sahut Kanza tersenyum.
Gio hanya menatap lurus ke arah Kanza, membuat Kanza menjadi tidak nyaman dekat dengan Gio.
''Jangan menatap aku seperti itu, gak nyaman tahu gak,'' ujar Kanza.
Gio hanya tersenyum menangkapi perkataan Kanza.
''Oh iya, waktu itu gue belum sempat minta nomor ponsel lo, sekarang gue mau minta nomor ponsel lo,'' ujar Gio.
''Buat apa?'' tanya Kanza mengerutkan keningnya.
''Yah, buat kasih kabar, dan gue bisa tanya kabar lo. Kalau gue mau ketemuan sama lo lagi gampang,'' sahut Gio.
Kanza menganggukkan kepalanya, sambil membuka ponselnya memberikan nomor teleponnya kepada Gio.
''Ini benaran nomor lo kan?'' tanya Gio.
''Iya itu nomor ku,'' sahut Kanza.
''Terus apa pacar lo yang cemburu itu, gak marah kalau lo kasih nomor telepon lo ke gue?'' tanya Gio.
Ternyata Gio masih mengingat tentang Neffal, yang begitu posesif dan cemburu terhadap Kanza.
''Gak kok, aku sudah tidak ada lagi hubungan sama dia kami sudah putus lama,'' sahut Kanza tanpa melihat Gio.
__ADS_1
hahahhah!.. Gio malah menertawakan Kanza.
''Kenapa? kamu malah ketawa?'' tanya Kanza.
''Gak ketawa aja dengarnya, dulu lo sangat mencintai dia, sampai-sampai lo nangis buat cegah dia agar tidak pergi saat lo mau di operasi, tapi sekarang kenapa bisa putus?'' tanya Gio tersenyum.
''Udahlah jangan ungkit masa lalu, lagian aku juga udah lama putus sama dia,'' sahut Kanza.
''Apa lo bisa melupakan dia cinta pertama lo?'' tanya Gio menatap Kanza.
Kanza tidak bisa menjawab pertanyaan dari Gio, Kanza hanya menatap Gio yang sedang menunggu jawaban darinya.
''Jawab gue, apa lo sudah melupakan dia?'' tanya Gio lagi.
Dan lagi-lagi Kanza tidak menjawabnya.
''Aku harus pulang,'' ucap Kanza hanya itu yang keluar dari bibir Kanza.
''Aku tidak perlu menjawabnya dan kamu tidak perlu tahu,'' sahut Kanza.
''Oke, gue pergi dulu,'' ujar Gio.
Saat Gio berdiri hendak pergi dia baru sadar kalau Kanza duduk di atas kursi roda, dia kembali menatap Kanza dengan tatapan tajamnya meskipun dia tahu Kanza tidak bisa berjalan. Tapi waktu itu dia masih begitu ragu karena Kanza baru operasi. Mungkin karena itu dia menganggap Kanza duduk atas kursi roda.
''Kenapa? kenapa kamu tidak jadi pergi?'' tanya Kanza.
''Kanza apa kamu benar-benar tidak bisa berjalan?'' tanya Gio.
''Iya kenapa? bukannya kamu memang sudah mengetahuinya,'' sahut Kanza.
''Tapi waktu itu aku masih belum yakin,'' ucap Gio mendekati Kanza.
__ADS_1
''Iya, ini adalah aku yang sebenarnya, seorang gadis cacat yang tidak bisa apa-apa,'' sahut Kanza tersenyum.
Saat Gio ingin memegang tangan Kanza, temannya memanggil dari kejauhan.
''Gio ayo kesini,'' panggil temannya.
''Aku pergi dahulu nanti aku telepon kamu,'' ujar Gio meninggalkan Kanza dia pun berlari ke arah teman-temannya.
Dua jam berlalu mereka masih di pantai itu sambil memakan cemilan di pantai tersebut.
''Habis ini kita pulang ya, hari juga sudah mulai sore,'' ucap Kanza.
Marina menganggukkan kepalanya.
Tidak lama mereka pun kembali ke mobil mereka berdua akan segera pulang.
''Kanza sini aku bantu,'' ucap Marina yang ingin membantu Kanza masuk ke dalam mobil.
Seseorang menyahut dari belakang,'' Apa gue membantunya,'' ucap orang itu dia adalah Gio.
''Gio bukannya kamu sudah pulang, kenapa masih ada di sini?'' tanya Kanza.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG..