
Malam itu Neffal kembali menghubungi Kanza dan mereka pun bicara malam itu, Kanza tidak mengerti kenapa Neffal terus saja menghubungi dirinya.
''Kenapa? kamu selalu menelepon ku, bukankah kamu sudah punya pacar untuk apa lagi kamu menghubungi ku?'' tanya Kanza.
''Kenapa kamu bicara seperti itu kepada ku?'' Neffal kembali bertanya.
''Salahnya dimana perkataan ku, aku bicara yang sebenarnya, kalau kamu itu sudah punya pacar, jadi untuk apa kamu menghubungi ku lagi!'' sahut Kanza.
''Aku sudah pernah bilang sama kamu, bahwa aku masih sangat mencintai kamu. Apa kamu tidak bisa mendengar itu?'' tanya Neffal.
''Itu lagi itu lagi! yang kamu katakan... Apa tidak ada yang lain aku sudah sangat muak mendengar ucapan kamu itu,'' ujar Kanza.
''Kenapa kamu bicara seperti itu kepada ku, apa kamu sudah punya pacar lain!'' ucap Neffal.
''Iya! aku sudah memiliki pacar lain, apa kamu sudah puas jadi jangan pernah hubungi aku lagi,'' ujar Kanza sambil mematikan ponselnya.
Neffal terus saja menghubungi Kanza, tapi ponsel Kanza sudah tidak aktif lagi.
''Berani sekali kamu mematikan ponsel mu Kanza!'' ucap Neffal dengan marah.
Berapa jam kemudian Kanza kembali mengatikfkan ponselnya dan dia membaca pesan dari Neffal.
''Aku akan terus mengganggu kamu, sampai kamu menjadi milikku lagi kamu jangan. Berani-berani untuk mencintai orang lain, selain aku jika itu terjadi kamu akan menanggung segalanya!'' sebuah pesan ancaman dari Neffal.
__ADS_1
''Apa- apaan ini kenapa? Neffal bicara seperti itu dia mengancam ku,'' batin Kanza.
Sebuah panggilan telepon dari Gio, membuat Kanza terkejut dalam lamunannya, Kanza segera mengangkat panggilan telepon dari Gio tersebut.
''Halo Kanza maaf gue sedikit telat menghubungi lo karena tadi ponsel lo gak aktif,'' ujar Gio.
''Iya, tadi aku lagi di luar jadi aku matikan ponsel ku, maaf ya,'' ucap Kanza berbohong.
''Oke gak apa-apa, sekarang ini lo lagi apa? apa gue tidak menganggu lo?'' tanya Gio.
''Engak kok aku lagi nyantai aja di luar rumah,'' sahut Kanza.
''Itu suara siapa?'' tanya Gio.
''Marina teman aku kemarin,'' sahut Kanza.
''Wah! hebat kalian ya, udah main telpon-telponan,'' ujar Marina.
''Gio udah dulu ya, gak enak ada teman aku disini,'' ujar Kanza.
''Oke gue matikan teleponnya,'' ucap Gio.
Kanza pun langsung meletakkan ponselnya di atas meja, dia tidak melihat apakah panggilan telepon sudah di matikan atau belum.
__ADS_1
Saat itu Gio mendengar semua percakapan antara Kanza dan Marina.
Kanza langsung memeluk tubuh Marina dia merasa takut dengan ancaman Neffal kepadanya.
''Kanza kamu kenapa? kok tiba-tiba nangis?'' tanya Marina.
''Kenapa Kanza menangis,'' batin Gio dia masih mendengarkan percakapan Kanza dan Marina.
''Neffal mengngancam ku, dia bilang kalau sampai aku menyukai orang lain, dia akan melakukan sesuatu kepada ku. Aku harus bagaimana Marina aku sangat takut,'' ucap Kanza yang terus menangis.
''Apa? kenapa dia begitu berani mengatakan itu sama kamu?'' tanya Marina.
''Aku gak tahu, dia juga bilang kalau dia akan melakukan apapun agar aku bisa kembali dengannya, kamu tahu kan kalau aku sudah tidak mau lagi kembali dengannya,'' ucap Kanza.
''Udah kamu gak perlu takut, kalian berduakan sudah putus. Jadi kamu gak perlu takut,'' sahut Marina.
Gio pun segera mematikan ponselnya.
''Kenapa mantan pacar Kanza begitu menakutkan,'' batin Gio.
.
.
__ADS_1
.
. BERSAMBUNG