
''Kenapa kamu menatap ku seperti itu? ada yang salah?'' tanya Kanza.
''Minum.'' Neffal menatap Kanza.
''Mau berapa kali lagi aku harus ngomong sama kamu taruh saja di situ,'' ujar Kanza sambil memainkan ponselnya.
Neffal mengambil ponsel Kanza dan menaruhnya di atas meja, sambil berkata.
''Ayo minum obatnya.''
Kanza pun mengambil obat itu dari tangan Neffal dan langsung minumannya.
''Puas?'' tanya Kanza menatap Neffal.
Kanza pun kembali mengambil ponselnya, tapi dengan cepat Neffal merebut ponsel itu.
''Ada apa dengan mu, kembali kan ponsel ku!'' ujar Kanza.
''Apa kamu masih marah sama aku?'' tanya Neffal, ''apa kamu masih mencintai aku?'' tanya Neffal menatap Kanza nanar.
''Pertanyaan macam apa ini yang kamu lontarkan kepada ku,'' sahut Kanza.
''Jawab saja apa yang aku katakan, apa kamu masih mencintai aku atau tidak?'' tanya Neffal.
''Kalau aku jawab tidak, apa yang akan kamu lakukan?'' tanya Kanza menatap Neffal.
__ADS_1
''Aku gak akan melakukan apa-apa aku akan terus bermohon sama kamu agar kita tidak akan putus,'' sahut Neffal.
''Apa yang kamu lihat dariku lebih baik kamu cari wanita lain yang lebih sempurna dan bisa untuk mendengarkan setiap tuduhan kamu itu, aku sudah tidak sanggup menerima sikap kamu itu,'' ujar Kanza sambil memutar kursi rodanya.
Dengan cepat Neffal memegang kursi roda Kanza membuat kursi roda itu berhenti.
''Lepaskan!'' ujar Kanza.
''Maaf kan aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi,'' ucap Neffal.
''Sudahlah Neffal, sudah berapa kali aku memberikan kamu kesempatan tapi kamu tidak pernah berubah,'' ujar Kanza.
''Aku benar-benar mencintai kamu tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk berubah,'' sahut Neffal.
''Terima kasih sayang aku janji akan merubah sikap ku, kamu gak marah lagi kan sama aku?'' tanya Neffal sambil tersenyum.
Kanza menganggukkan kepalanya bahwa dia tidak lagi marah dengan Neffal. Hari itu Neffal makan bersama dengan keluarga Kanza mereka saling bercanda dan tertawa bersama, Kanza mencoba melupakan sakit hatinya kepada Neffal dia juga mencoba menerima sikap Neffal yang terlalu cemburu itu.
Satu jam berlalu Neffal sudah kembali pulang ke rumahnya. Kini Kanza mengobrol bersama Marina, Marina membawa Kanza ke tepian sawah yang tidak jauh dari rumah Marina.
''Terus bagaimana? apa kamu memberikan kesempatan kepada Neffal?'' tanya Marina yang duduk di samping Kanza.
''Iya aku akan menerima sikapnya itu,'' sahut Kanza sambil menatap persawahan yang berbeda di depannya.
''Apakah kamu sanggup menerima sikapnya yang seperti itu?'' tanya Marina.
__ADS_1
''Iya.''
''Oke aku akan lihat sejauh mana kamu bisa bertahan dengan sikapnya nanti,'' sahut Marina.
''Kenapa? kenapa kamu bicara seperti itu, bukannya kamu yang ngomong untuk memberi dia kesempatan, sekarang apa lagi?'' tanya Kanza.
''Iya aku yang salah, coba saja waktu itu aku gak menyetujui kamu sama Neffal mungkin kamu gak akan sakit hati seperti ini,'' ujar Marina. Dia begitu merasa bersalah kepada Kanza.
''Udah kamu gak salah kok, hanya saja aku yang terlalu cinta sampai-sampai aku gak tahu tentang sikap aslinya,'' sahut Kanza.
Marina hanya tersenyum sambil memberikan segelas susu hangat kepada Kanza.
.
.
.
.
.
...BERSAMBUNG...
cerita ini di angkat dari kisah nyata
__ADS_1