
Kala masih memantau kepergian Kenza. Dadanya terasa berdenyut saat Kenza memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah lama terjalin. Tidak mudah bagi Kala menerima keputusan Kenza. Dengan tatapan tajam, matanya terus menyorot sebuah mobil yang baru saja datang untuk menjemput Kenza. Dia tidak tahu siapa yang menjemput Kenza karena sang penjemput tidak turun.
"Za, aku sudah sabar menunggu lama. Aku tidak terima kamu campakkan begitu saja tanpa alasan yang jelas." Kala mengepalkan tangannya dengan mata yang masih menyala.
Didalam mobil, tak hentinya Arshen terus mengoceh karena Kenza pergi tanpa berpamitan padanya. Karena merasa bersalah, Kenza memilih diam.
"Kamu dengar gak sih aku ngomong? Kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana?"
"Iya aku denger. Lagian aku gak apa-apa kok. Gak usah lebay, napa!" protes Kenza yang merasa Arshen terlalu berlebihan.
"Terus kalau kamu diculik gimana?"
__ADS_1
Kenza malah menertawakan ucapan Arshen. "Astaga ... Arshen! Aku sudah besar, siap yang mau menculikku? Kalau pun aku diculik, mereka tidak akan selamat karena Daddy-ku tidak akan tinggal diam. Udahlah gak usah ngedumel! Sekarang aku gak papa."
Arshen hanya mendengus dengan kasar. Dia pun memilih fokus pada laju kendaraan untuk menuju ke apartemennya, karena harus beristirahat sebelum dia syuting lagi sore nanti.
"Lho, kita mau kemana lagi?" tanya Kenza heran karena jalan yang diambil Arshen begitu asing untuknya.
"Aku mau pulang untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melakukan syuting nanti sore," datar Arshen.
"Iya. Kebetulan apartemenku sangat berantakan. Aku ingin meminta bantuanmu untuk membersihkannya karena bibi yang biasa membersihkan apartemen sedang pulang kampung. Kamu gak keberatan kan?" Arshen melirik kearah Kenza.
"What?! Aku disuruh bersihin apartemenmu? Ogah! Aku gak mau! Seumur-umur aku gak pernah disuruh bersih-bersih rumah, terus sekarang kamu nyuruh aku untuk membersihkan apartemenmu. Ogah!" tekan Kenza dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gak mau juga gak papa-papa, tapi aku juga gak mau membantumu untuk jadi pacar bohonganmu. Gak rugi juga untukku."
Mendengar ucapan Arshen, Kenza langsung terdiam sambil mengerucutkan bibirnya. Tentu saja Kenza sangat membutuhkan bantuan Arshen untuk menjadi pacar bohongan agar tidak di nikahkan dengan pilihan Daddy-nya. Sebenarnya bisa saja Kenza meminta bantuan kepada Kala, tetapi Kenza tidak mau menciptakan permusuhan antara dirinya dengan Elena. Merebutkan satu pria seperti tidak ada pria lain di dunia. Bukan karena Kenza tidak mencintai Kala, tetapi dia memilih untuk mengalah demi Elena. Kenza sudah menganggap Kenza bak adiknya sendiri. Mungkin dengan seperti itu hati Elena akan puas.
Kenza juga sadar jika selama ini dia telah merebut kasih sayang yang Daddy Alan dan Mommy Azra. Bahkan Kenza juga sadar jika kehadiran menggeser posisi Elena sebagai anak kandung Daddy si Alan-nya.
Awalnya Kenza merasa sangat marah dan kecewa karena menganggap Kala dan juga Elena telah menusuk dirinya dari belakang. Namun, setelah mendengarkan uneg-uneg yang dikeluarkan oleh Elena, dia semakin sadar jika tanpa disadari selama ini dia telah menggeser posisi Elena sebagai anak kandung Daddy si Alan-nya.
"Za, kamu gak kenapa? Kesambet?" tanya Arshen yang melihat Kenza hanya terdiam saat hendak diajak turun. "Za!" ulang Arshen lagi.
Kenza yang melamun langsung tersentak saat tangan Arshen menggoyangkan tangannya. "Apa, sih!" ketusnya.
__ADS_1
"Gak usah galak-galak napa sih? Ayo turun!"