
Waktu terus berjalan. Tak terasa usia pernikahan Arshen dan Kenza sudah memasuki bulan ke 3. Sesuai dengan janji Arshen, jika setelah menikah dia akan berhenti menjadi artis dan akan mengelola perusahaan milik Daddy-nya. Sebuah keputusan yang telah lama dinantikan oleh Daddy-nya Arshen kini telah terwujud. Arshen memilih menyerahkan dirinya sendiri untuk terjun ke perusahaan.
Hubungannya dengan Kenza pun sedikit ada perubahan. Sesuai dengan janjinya juga, Kenza mulai belajar untuk mencintai Arshen. Keduanya sama-sama belajar untuk menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Sedikit demi sedikit, Kenza pun juga belajar masak dan mengurus rumah. Meskipun masih tinggal di sebuah apartemen, tetapi Kenza tetap menikmatinya.
"Shen, bangun. Hari ini adalah hari pertamamu masuk ke kantor." Kenza menggoyangkan kaki Arshen agar pria itu terbangun.
Arshen menggeliat dengan pelan. Rasanya masih ngantuk karena dirinya baru tertidur pukul tiga dini hari. Jangan ditanya apa yang dilakukan oleh Arshen sehingga dia harus tidur sepagi itu jika bukan untuk mencangkul sawahnya.
"Jam berapa, Za. Aku masih ngantuk."
"Udah hampir jam 7. Bangunlah, aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
Setelah membangunkan suaminya, Kenza pun langsung ke dapur untuk menciptakan maha karyanya. Meskipun masakan tak seenak seperti masakan Arshen, tetapi Kenza tidak putus asa. Dia terus membuat sarapan, sekalipun Arshen melarangnya.
__ADS_1
Sadar akan ucapan Kenza yang telah berlalu, Arshen langsung beranjak dari tempat tidur dan segera menyusul Kenza ke dapur. Untuk pagi ini dia tidak ingin sarapan dengan telur gosong ataupun sayur asin Bukan tidak menyukai masakan Kenza, tetapi masakan Kenza belum lulus uji kompetensi.
"Eza!" panggil Arshen sambil berlari kecil untuk menghampiri Kenza yang sedang sibuk di dapur. "Kamu masak?" tanya Arshen.
Kepala Kenza menggeleng dengan pelan. "Tidak. Aku lupa kalau ternyata isi kulkasnya kosong. Tapi tenang aja, aku udah delivery sarapan untuk kamu." Kenza menunjukan sebuah piring yang sudah berisi lauk pauk.
Arshen mengelus dada. Akhirnya dia bisa bernapas lega setelah mengetahui jika Kenza tidak membuat mahakaryanya.
"Memangnya kenapa, Shen?" Kenza bertanya dengan rasa penasaran.
"Enggak ada. Ya udah aku mandi dulu ya."
.........
__ADS_1
Sepeninggal Arshen ke kantor, Kenza langsung bergegas menuju ke kamar mandi. Sudah hampir satu minggu ini Kenza merasa ada yang berbeda dalam tubuhnya. Selain tubuhnya yang mudah lelah, selera makannya pun menurun drastis. Bahkan saat mencium aroma makanan saja sudah membuatnya merasa mual. Setelah di googling, ternyata gejala yang sedang dialami oleh Kenza nyaris sama dengan gejala wanita yang sedang hamil. Karena merasa penasaran, akhirnya Kenza memutuskan untuk mengeceknya sendiri.
"Duh ... semoga aja negatif." Kenza memejamkan mata sebelum melihat alat tespek yang berada ditangannya.
Mata Kenza mengintip dengan pelan untuk melihat garis yang berada di tespeknya.
"Astaga ... " Kenza langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Garis dua begitu jelas pada alat tespek tersebut. Dengan mata yang membulat lebar Kenza menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak! Tidak mungkin! Ini pasti salah." Kenza masih tidak percaya dua garis merah yang ada di alat tersebut.
"Semua ini karena Arshen. Udah dibilangin suruh pakai pengaman tapi gak pernah dengerin! Kan jadi hamil." Kenza mendumel saat mengingat Arshen yang sangat keras saat mencangkul tetapi tidak mau menggunakan pengamannya. Bukan tidak menginginkan seorang anak, tetapi untuk saat ini Kenza belum siap lahir dan batinnya jika harus mempunyai anak. Tapi nyatanya nasi telah menjadi bubur. Mau tidak mau Kenza harus menerima kenyataan jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu.
...*SEKIAN*...
__ADS_1