
Ternyata usaha Arshen untuk menemukan keberadaan Kenza tidaklah berhasil. Hampir satu malam berputar-putar pada jalan yang sama, akhirnya Arshen menyerah dan memilih untuk kembali ke kota. Mungkin dia harus meminta bantuan orang tuanya Kenza untuk menemukan keberadaan Kenza.
Tak terasa sang fajar telah menyingsing. Arshen yang terbangun karena silau cahaya keemasan yang menyilaukan. Saat dilihat ke samping, ternyata Seno masih memejamkan matanya. Arshen pun berusaha mengamati keadaan sekitar untuk memastikan saat ini berada di mana. Namun, saat melihat ke sekitarnya yang hanya ada pepohonan membuat Arshen langsung mendelik dan membangunkan Seno.
"Sen, bangun! Mengapa kita masih disini?" Arshen menggoyangkan tubuh Seno. Perlahan Seno pun membuka matanya.
"Ada apa sih, Shen. Masih ngantuk tahu!"
"Kamu gimana sih, mengapa kita masih di sini? Kan seharusnya kita sudah berada di kota?" protes Arshen.
Seno menatap ke arah Arshen dengan malas. "Seharusnya memang seperti itu, Shen. Tapi bahan bakar mobilnya habis, jadi kita masih bertahan disini," jawab Seno dengan santai.
"Hah?! Apa?!" Arshen benar-benar sangat terkejut dengan jawaban Seno. "Astaga ... mengapa bisa seperti ini, Sen. Lalu bagaimana nasib kita?"
"Gak tahu. Disini juga tidak ada sinyal," lanjut Seno lagi.
"Apa?" Kali ini Arshen melotot dengan lebar. Bahkan rasanya ingin menjerit. "Ini tidak mungkin!" Arshen pun langsung memeriksa ponselnya untuk membuktikan ucapan Seno.
"Argh ... kenapa tidak ada sinyal!" teriak Arshen dengan kesal. Kini dirinya hanya pasrah dengan keadaan. Ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga.
"Sudahlah, berdoa saja semoga ada orang baik yang lewat dan membantu kita!" saran Seno.
🌼🌼
Meskipun bukan seorang artis, tapi berita hilangnya Kenza menjadi buah bibir banyak orang. Terutama di kantor Keanu. Para karyawan hanya bisa berdoa semoga Kenza segera ditemukan. Bahkan beberapa karyawan menganggap jika hilangnya Kenza adalah ulah dari saingan Bosnya. Ada juga yang berpendapat jika Kenza saat ini sedang di sandra lalu Keanu diminta untuk menebusnya dengan sejumlah uang yang diminta.
"Dadd, kenapa kamu nggak bilang kalau Eza hilang?" teriak Mouza saat mengetahui apa yang sedang terjadi dengan putrinya.
Bahkan Mouza harus mengetahui berita itu dari Azra dan Alan yang pagi-pagi buta telah sampai di rumahnya.
"Bukan aku tidak mau memberitahumu, tapi aku hanya belum sempat saja," jawab Keanu
"Kamu keterlaluan! Eza itu juga anak aku. Aku juga berhak tau bagaimana keadaannya!"
"Sudahlah, jangan bertengkar dan saling menyalahkan. Saat ini yang paling penting berdoa dan berusaha sebisa mungkin agar Eza bisa segera ditemukan. Mudah-mudahan saja Eza baik-baik saja," kata Azra yang berusaha untuk menenangkan suasana.
"Kamu benar, Sayang. Kita harus banyak-banyak berdoa semoga Eza baik-baik saja."
"Zra, coba suruh Elen menghubungi teman-temannya untuk menanyakan keberadaan Eza. Barang kali tadi malam Eza menginap di salah satu rumah temannya, karena tadi malam Eza mengatakan ingin pergi untuk menemui temannya," pinta Keanu pada adik iparnya.
"Iya, Bang. Aku coba tanyakan pada Elen. Tadi malam kami juga ingin menanyakan masalah itu kepada Elen, tetapi anaknya tidur dengan pulas sehingga kami belum sempat untuk bertanya padanya," kata Azra.
Elena yang terbangun karena dari ponselnya, harus menggerutu karena tidurnya yang terganggu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
__ADS_1
"Halo, Momm," ucap Elena dengan malas.
Elena hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Mommy-nya. Namun, sebenarnya Elena tidak tertarik dengan permintaan Mommy-nya.
"Iya, Momm. Elen akan tanyakan pada temannya Eza."
Setelah mendapatkan jawaban dari anaknya Azra sedikit lebih tenang dan berharap Kenza hanya menginap saja di rumah temannya.
"Enak aja nyuruh aku mencari tahu dimana keberadaan Eza. Sampai kapanpun ogah!" Elena tersenyum smrik kearah ponselnya.
🌼🌼🌼
"Kala." Kenza mencoba untuk membangunkan Kala yang tertidur di atas sofa.
Kala yang mendengar suara yang dipanggil, membuka matanya dengan pelan. "Eza, kamu udah bangun? Ada apa?" Kala langsung mendudukkan tubuhnya.
"Kita pulang ya. Aku takut jika orang tuaku mengkhawatirkanku," kata Kenza.
"Tidak. Kita tidak akan pulang, Za. Kita akan disini selamanya. Dan disini hanya akan ada kita berdua."
"Kala, ini tidak benar. Kamu tidak boleh egois seperti ini. Bukankah kamu juga harus mengurus perusahaan milik papamu. Jika kita berada di sini siapa yang akan mengurusnya? Kamu gak kasihan sama orang tua kamu? Jangan karena ego yang kamu miliki kamu menghancurkan perusahaan yang sudah dibangun oleh papamu. Kala, saat ini kita sudah dewasa seharusnya kamu bisa berpikir lebih dewasa saat menyelesaikan sebuah masalah. Kita pulang ya." Dengan lembut kemeja menasehati Kala.
"Aku tidak akan mengabaikan pekerjaanku di kantor karena aku bisa menghandlenya dengan baik. Kamu tidak usah pikirkan masalah itu. Oh iya, kamu mau makan apa? Aku akan mamasakannya untukmu?" tanya Kala.
"Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu!" Kala pun langsung meninggalkan Kenza.
Sepeninggal Kala, Kenza berjalan mengelilingi rumah yang memang pernah diimpikan olehnya. Sebenarnya Kenza kagum karena Kala berhasil mewujudkan rumah impiannya. Namun, kali ini Kenza membuang rasa kagumnya karena dia harus berpikir bagaimana caranya bisa keluar dari tempat itu.
Jika aku tidak bisa membujuk Kala untuk pulang, aku bisa menggunakan caraku sendiri. Tapi aku tidak ingin gegabah karena itu hanya akan membuat Kala semakin murka. Menghadapi orang seperti Kala harus dengan hati
Saat langkah Kenza hendak ke dapur, tanpa sengaja dia mendengar Kala berbicara dengan seseorang. Saat dilihatnya ternyata benar ada dua orang wanita yang sedang berbicara dengan Kala.
"Tugasmu disini melayani wanita itu saat aku tidak ada disini. Mengerti?" tanya Kala.
Salah seorang wanita pun mengangguk pelan. "Mengerti Tuan," jawab orang itu.
"Bagus." ucap Kala dengan puas. "Apakah kamu membawa semua yang kuperlukan?" Kini Kala bertanya kepada wanita yang terlihat masih muda.
Tanpa menjawab, wanita itu langsung memberikan sebuah ransel kepada Kala. "Tuan, sebaiknya Anda berhati-hati karena karena lawan Anda saat ini sangat kuat. Saya takut jika ini hanya akan menghancurkan perusahaan Anda."
"Tenang saja, aku bisa mengatasinya. Selama aku tidak ada semua urusan perusahaan aku serahkan kepadamu. Jika papaku bertanya tentangku, jawab saja aku sedang keluar kota!"
"Baik Tuan. Apakah ada lagi yang Anda butuhkan?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada. Nanti jika ada, aku akan langsung mengabarimu."
Kenza yang tidak sengaja mendengar perbincangan Kala tidak tahu apa rencana Kala. Namun, Kenza yakin jika saat ini Kala sedang menyusun rencana untuk melawan seseorang.
Karena Kenza tidak hati-hati tangan menjatuhkan sebuah vas bunga sehingga membuat Kala melihat kearah Kenza. Dengan cepat Kala menghampiri Kenza.
"Za, kamu gak papa?" tanya Kala dengan khawatir karena kaki Kenza terkena pecahan vas.
Kepala Kenza menggeleng dengan pelan. "Aku gak papa kok, Kal," ucapnya.
Kala berusaha membantu Kenza untuk duduk di sebuah sofa. "Grey, ambilkan P3K!" perintahnya pada Greya.
Dengan cepat wanita yang bernama Greya langsung mencari obat P3K.
"Ini, Tuan." ucap Greya.
Saat mata Kenza menatap ke arah Greya, rasanya begitu familiar untuknya. Namun, Kenza tidak tahu siapa wanita yang ada di depannya saat ini.
Kala pun cara mengobati luka di kaki Kenza. Setelah selesai, Kala merasa heran dengan cara Kenza saat menatap Greya.
"Za, kamu kenapa menatap Greya seperti itu?" tanya Kala penasaran.
Kenza langsung memutuskan tatapan matanya pada Greya. "Tidak ada. Aku hanya kagum saja. Dia cantik," ucap Kenza berbohong.
Saat itu juga Kala tertawa pelan. "Kamu bisa saja. Tapi masih cantik kamu, Za. Atau kamu sedang cemburu padanya? Tenang saja, aku tidak akan pernah tertarik kepada wanita manapun kecuali kamu, karena cinta ini hanya untuk kamu seorang, Za! Greya ada asisten pribadiku di kantor," jelas Kala.
"Oh. Senang bisa bertemu denganmu, Greya." ucap Kenza.
"Senang bertemu dengan Anda juga Nona Ken," balas Greya.
Kenapa sepertinya aku tidak asing dengan nama Greya. Sebenarnya siapa dia. Aduh, kepala, tolong jangan pusing! batin Kenza sambil memegangi kepalanya.
"Za, kamu kenapa? Kamu gak papa kan?" Kala panik saat Kenza mulai mengadu dan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Aku gak tahu, Kal. Tapi rasanya kepalaku sangat sakit."
"Nona, apakah sebelumnya Anda mempunyai sebuah riwayat penyakit di kepala?" tanya Greya.
"Tidak ada. Tapi setiap kali aku memikirkan sesuatu kepalaku akan terasa sangat sakit. Aku tidak tahu apa penyebabnya karena aku tidak pernah memeriksakan. Aku takut jika ternyata aku diagnosis yang mematikan," jelas Kenza.
"Mungkin Anda kelelahan. Mari saya antar anda ke kamar untuk beristirahat," ajak Greya.
...🌼 Bersambung 🌼...
__ADS_1