
Kabar tentang Kenza yang ingin bertunangan dengan seseorang pun telah sampai di telinga Elena. Meskipun merasa lega, tetap saja Elena tidak suka dengan Kenza yang selalu saja menjadi prioritas utama oleh semua orang. Bahkan kedua orang tuanya pun merasa sangat bahagia atas kabar tersebut.
"El, kamu kok belum bersiap sih? Sebentar lagi kita berangkat lho?" tanya Azra pada putrinya.
Dengan wajah malas Elena menjawab, "El di rumah ajalah, Momm. El kayaknya gak enak badan. Mendadak kepala El pusing."
Azra langsung menautkan kedua alisnya. "Kamu sakit?" Tangan Azra berusaha untuk menyentuh kening Elena. "Ah, tapi enggak panas kok. Udah minum obat belum?" lanjutnya lagi.
"Udah Momm. Makanya ini mau buat istirahat. Tolong sampaikan aja salam El untuk Eza, ya. Sebenarnya El pengen banget liat Eza bertunangan, tapi badan El gak bisa diajak bekerja sama. Gak papa kan Momm?"
Azra mengangguk pelan kemudian menyuruh Elena untuk beristirahat saja, karena kesehatan lebih utama.
🌼🌼🌼
Dua keluarga yang hampir tidak bisa bersatu kini akhirnya menyatu sendiri tanpa campur tangan orang tua. Sebuah pilihan yang sangat tepat, bertunangan dengan calon tunangannya sendiri. Lucu, tetapi begitulah takdir yang sebenarnya.
Malam ini sesuai dengan janjinya, Arshen datang bersama keluarganya untuk mengikat Kenza dalam bentuk bertunangan. Sebuah kebahagiaan tak terduga untuk keluarga Arshen mewujudkan keinginan yang telah dinantikannya.
"Ke, bagaimana jika putrimu mengetahui kalau Arshen itu adalah orang yang telah dijodohkan dengannya? Dia akan merasa sangat kecewa karena merasa telah dibohongi." Arga mengungkapkan isi hatinya karena takut jika sewaktu-waktu apa yang ditakutkan yaitu akan terjadi.
"Kamu tenang saja. Aku yakin Arshen bisa menghadapinya semuanya dengan baik. Apakah kamu tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh Arshen?"
"Aku percaya, tapi kamu harus tahu jika seorang sudah merasa kecewa dia tidak akan peduli lagi dengan orang-orang di sekelilingnya. Bahkan yang tersisa hanyalah sebuah kebencian. Kenapa aku bisa berkata seperti ini, itu karena aku telah mengalaminya."
Keanu tersenyum tipis kearah Arga, yang sebentar lagi akan menjadi calon besannya. "Kami tidak usah pesimis. Aku bisa menghadapi Eza. Jikapun aku tidak bisa,asih ada satu Daddy-nya lagi yang bisa menjinakkan Eza."
"Maksud Bang Ke, aku?" Alan yang berada di samping itu orang tersebut langsung menimpali.
__ADS_1
"Lalu siapa lagi. Bukan selama ini kamu adalah pawangnya bocah itu. Aku yakin kamu bisa menanganinya ketika bocah itu mengetahui yang sebenarnya. Jadi mulai sekarang persiapkan bagaimana caranya untuk menghadapi Eza!" kata Keanu dengan datar.
"Nah ini nih yang baut aku pengen tenggelam. Siapa yang nanam, siapa yang harus bertanggung jawab. Masih mending kalau ikut nanam. Lha ini cuma ngurusin tanaman dari orok," cibir Alan dengan kesal.
"Sudah diamlah! Nikmati saja nasibmu. Kamu kan Daddy kesayangan Eza. Jadi sudah sewajarnya kamu mengurus dia!"
Tidak peduli dimanapun tempat jika sudah ada dua orang kakak beradik akan selalu beradu mulut. Karena sejatinya mereka tidak bisa akur. Arga hanya bisa menarik nafas beratnya ketika harus menerima kekurangan calon besannya yang masih seperti anak-anak.
Tenang Arga, kamu harus bisa waras! Jangan sampai ikut gila seperti calon besanmu. Mungkin saja masa kecil mereka kurang bahagia sehingga melampiaskan pada masa tuanya. batin Arga.
Malam ini dengan balutan kebaya berwarna cream, Kenza terlihat sangat cantik. Bahkan Arshen hampir tidak mengenali jika wanita yang sedang diapit oleh dua orang wanita itu adalah Kenza.
"Zo, serius itu adalah Eza?" bisik Arshen pada Kenzo yang duduk tepat di samping Arshen.
"Ya iyalah. Jadi maunya itu siapa? Maimunah tetangga sebelah? Kenapa, kaget ya karena terlihat sangat cantik?"
"Iya." Arshen menjawab dengan jujur.
Mungkin saja Kenza tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Arshen, karena Kenza tidak memiliki rasa cinta. Namun bagi Arshen ini adalah hal yang sangat menegangkan.
"Zo, rumah kamu panas banget sih? Apakah gak ada ACC nya?" bisik Arshen pada Kenzo lagi.
"Sembarangan! Kamu gak lihat itu apa?" Tangan Kenzo menunjuk keatas untuk menunjukkan sebuah acc pendingin yang menempel di dinding.
"Tapi sumpah panas banget!"
"Yang panas bukan rumahnya, tapi lebih tepatnya itu hati kamu deh. Wajar aja sih inikan pengalaman pertama kamu melamar seorang, terlebih seseorang itu gak cinta sama kamu." Kenzo berbisik sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"Liat aja nanti. Aku pasti bisa ngikat dia."
Acara berjalan sesuai dengan rencana. Malam ini Arshen sudah sah bertunangan dengan Kenza. Tinggal menunggu waktunya saja kapan mereka akan sah untuk menjadi pasangan suami-istri.
Kerena sudah selesai, Arga memutuskan untuk pulang. Namun, langsung dicegah oleh Keanu karena Keanu ingin melakukan barbeque bersama dengan keluarga Arga, untuk merayakan jika pertunangan anak-anak mereka.
"Shen, bisa kita berbicara sebentar?" Kenza mengagetkan Arshen yang sedang memanggang sosis.
"Bisa dong," balas Arshen dengan santai.
Namun, sebelum mengikuti langkah Kenza, Arshen menyerahkan tugasnya pada Kenzo. "Zo, kamu urus dulu ya. Aku ingin mengurus adikmu dulu."
Kenza memilih menjauh dari keluarganya untuk berbicara dengan Arshen karena tidak ingin pembicaraannya didengar oleh keluarganya. Di sebuah ayunan Kenza sudah menunggu kedatangan Arshen.
"Mau ngomong apa, Za?" tanya Arshen setelah mendekat ke arah Kenza.
"Duduklah!" Kenza memberi isyarat agar Arshen duduk di ayunan bersama dengan dirinya.
Dengan patuh, Arshen pun duduk di depan Kenza. Perlahan Kenza mengayun agar ayunan bergerak.
"Shen, kamu tidak lupakan jika semua ini hanyalah sebuah sandiwara? Aku harap kamu tidak banyak berharap dengan pertunangan ini, karena jikapun nanti kita menikah itu hanyalah pernikahan sandiwara. Tapi sebelumnya aku berterima kasih karena kamu sudah mau membantuku keluar dari perjodohan keluargaku."
Arshen membuang nafas beratnya. "Kamu tenang saja aku tidak akan pernah lupa. Aku akan sangat bahagia jika hidupku bisa membantu orang lain dan bisa membuatmu bahagia. Tapi apakah kamu sudah pernah bertemu dengan orang yang akan dijodohkan denganmu? Mengapa kamu tidak mau dijodohkan dengannya. Apakah dia pria cacat atau udah aki-aki?" Arshen mencoba bertanya alasan Kenza menolak perjodohan mereka.
"Aku belum pernah bertemu dengannya, sih. Tapi sesuai dengan artikel yang pernah aku baca jika orang tua telah menjodohkan anaknya berarti orang itu memiliki sebuah kekurangan. Aku tidak mau menikah dengan orang seperti itu! Makanya aku memilih untuk menolak keras perjodohan itu, Shen. Aku hanya ingin menikah dengan pilihanku sendiri."
Arshen ingin menertawakan pemikiran yang sempit itu. Bagaimana bisa Kenza mengira jika orang yang telah dijodohkan dengannya adalah orang cacat. Andaikan saja Kenza bisa mengingat sedikit saja tentang dirinya, mungkin Kenza tidak akan pernah menolak perjodohan yang telah ditetapkan. Tapi sudahlah meskipun Kenza menolak, tetapi pada akhirnya mereka saat ini sudah bertunangan, meksipun hanya untuk sebuah sandiwara saja.
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika ternyata orang yang dijodohkan dengan itu adalah pria tampan dan pintar. Apakah kamu tidak akan menyesal karena telah menolaknya ?"
Kenza tersenyum tipis kearah Arshen. "Untuk apa aku menyesal? Di luar sana masih banyak pria tampan dan pintar. Bahkan jika mau, aku tinggal tunjuk saja ingin model yang seperti apa."