
Tubuh Elena terasa lemas tak berdaya setelah mengetahui sebuah kebenaran yang sangat mustahil bisa dipercaya. Bagaimana mungkin dia bukan anak kandung dari Daddy dan Mommy-nya.
"Mom, katakan jika Mommy sedang bercanda kan, Momm. Ini tidak benar kan Momm? Katakan kalau El itu anak Daddy dan Mommy. Katakan Momm!" teriak Elena. Dia beharap ini tidak nyata.
Azra tak sanggup lagi menahan air matanya. Dulu dia sudah berjanji tidak akan pernah mengungkapkan jati diri Elena. Namun, karena Azra tidak menginginkan sesuatu yang buruk akan terjadi lagi pada Kenza, terpaksa Azra mengungkapkan kebenarannya.
Sebenarnya Alan sempat marah dan kecewa kepada Azra karena telah menyembunyikan rahasia besar darinya. Namun pada akhirnya Alan memaafkan kesalahan Azra dengan satu syarat. Azra harus menerima kehadiran Kenza dan memperlakukan Kenza seperti anak mereka sendiri tanpa membedakan kasih sayangnya dengan Elena. Dengan syarat seperti itu Alan juga akan menyayangi Elena layaknya seorang anak kandung.
"Maafkan Mommy, Sayang. Mommy sedang tidak bercanda."
Dada Elena semakin terasa sesak. Rasanya ingin berteriak sekeras mungkin dan tenggelam di dasar laut untuk menyembunyikan wajahnya. Sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan.
"Kenapa Mommy tidak mengatakan sejak awal jika El bukan anak Daddy dan Mommy. Mengapa Mommy rawat dan besarkan El. Mengapa Momm." Tangis Elena pecah.
"Maafkan Mommy, El."
πΌπΌ
Hancur.
Begitulah perasaan Elena saat ini. Sebuah kenyataan menyakitkan menampar dirinya. Rasa angkuh nan sombong seakan runtuh begitu saja. Tak ada lagi impian dan harapan hidup karena semuanya telah hancur. Lalu untuk apa lagi dia bertahan jika sudah tiada berarti.
"Jika aku bukan anak Daddy dan Mommy, lalu aku anak siapa? Apakah aku anak jalanan yang dipungut oleh Mommy. Mengapa begitu menyedihkan sekali hidup ini. Mengapa?" Elena masih belum terima dengan kenyataan yang ada.
Elena menatap langit yang berbalut bintang. Dibawah gelapnya malam dia masih setia untuk menengadah dan terus berteriak karena merasa semua ini tidaklah adil untuk dirinya.
Disisi lain Alan daj Azra sedang berkeliling jalanan untuk mencari keberadaan Elena yang tiba-tiba meninggalkan rumah. Keduanya merasa sangat khawatir dengan keadaan Elena yang sedang tidak baik-baik saja.
"Lan, bagaimana ini?" tanya Azra yang sudah diliputi dengan rasa ketakutan.
"Kamu tenang saja. Elena pasti baik-baik saja. Dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Percayalah. Mungkin saat ini dia sedang berada disebuah tempat ibadah untuk menenangkan diri." Alan mencoba untuk menghibur Azra.
__ADS_1
Hampir 1 jam keduanya mencari Elena di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Elena, tetapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda Elena ditemukan. Entah ke mana perginya Elena.
"Lan, coba kita cari Elen di taman dekat rumah. Siapa tahu dia ada di sana, karena tempat itu adalah tempat yang biasa dikunjunginya," saran Azra saat keduanya sudah ingin menyerahkan untuk mencari Elena.
"Oke, kita ke sana. Kalau tetap gak ada juga, aku akan turunkan anak buah untuk mencari Elena."
πΌπΌ
Setiap kebaikan yang ditanam akan kembali lagi dengan dua kali lipat. Apa yang hilang akan kembali jadi tak perlu disesali jika dia belum kembali, mungkin saja dia masih ingin jalan-jalan untuk mengulur waktu.
Seperti halnya ingatan tentang Arshen yang hilang, kini sudah kembali. Bahkan terlihat sangat jelas bayang-bayang saat dua anak kecil saling mengikat janji untuk masa depan mereka.
Suasana pagi sedikit berbeda karena wajah cerah sudah menyambut semua anggota yang berjalan menuju ke meja makan.
"Morning Dadd. Morning Momm," sapa Kenza pada kedua orang tuanya yang baru saja tiba dimeja makan.
"Morning too , Sayang. Tumben pagi-pagi udah duduk disini. Biasanya juga masih digulung selimut," ucap Daddy-nya.
"Sudahlah, jangan kamu dengerin Daddy kamu. Dia emang suka aneh gitu Oh iya, kamu udah denger belum kalau Elena masuk rumah sakit," Ujar Mouza.
Kenza yang tidak mendengar apa-apa tentang Elena langsung tersentak. "Serius Momm? Elen sakit apa? Sepertinya kemarin dia masih baik-baik aja," kata Kenza.
"Mommy juga tidak tahu. Habis sarapan kita langsung ke rumah sakit lihat keadaan Elena, ya."
"Elen kenapa, Momm?" tanya Kenzo yang sempat mendengar ucapan Mommy-nya tentang Elena yang masuk ke rumah sakit.
"Mommy gak tahu. Tadi Mommy Azra hanya memberitahu kalau Elen masuk rumah sakit. Mommy juga gak tanya sakit apa," jelas Mommy-nya.
Sesuai dengan ucapannya Mouza, setelah sarapan dia langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Elena. Mouza pun tidak tahu Elena sakit apa karena saat Mouza menanyakan kepada Azra dan Alan pasangan suami istri itu tidak mengatakan tentang sakit Elena.
Meskipun Kenza telah disakiti oleh Elena, tetapi gadis itu tak lantas membencinya. Dia merasa khawatir dengan keadaan Elena karena dia sudah menganggap Elena layaknya seorang adik.
__ADS_1
"Dadd, Elen kenapa?" tanya Kenza setelah sampai di ruangan Elena.
Mata Kenza melihat sosok yang kini tergeletak di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap di tangannya. Sekilas Kenza juga melihat ada perban yang membalut lengannya.
"Dadd, Elen ... " Kenza langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Keanu dan Mouza yang sudah melihat keadaan Elena sangat terkejut. Tanpa dijelaskan, mereka sudah tahu apa yang telah terjadi pada Elena.
"Mengapa bisa seperti ini?" tanya Keanu.
Helaan nafa panjang keluar dari mulut Alan. "Entahlah, Bang," ucap Alan dengan berat.
"Zra, ada apa?" Kini Mouza bertanya kepada Azra sambil memegang bahunya.
"Panjang ceritanya, Za. Ini semua salahku. Elen mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena dia mengetahui sebuah kenyataan yang menyakitkan, Za. Dan semua itu salahku." Azra tak sanggup lagi untuk tidak menangis. Dia menumpahkan tangisnya dalam pelukan Mouza.
Kenza hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mommy Azra-nya mengenai Elena. Bagaimana bisa selama ini rahasia sebesar itu bisa disembunyikan dengan rapat. Dan jika tahu kenyataan ini akan menyakiti Elena, mengapa mereka harus mengungkapkan jati diri Elena yang sebenarnya. Tentu ini tidak adil untuk Elena.
"Dadd, jika pun Elen bukan anak kandung Daddy dan Mommy, setidaknya jangan katakan kenyataan dalam keadaan emosi. Siapa pun jika mengetahui pernyataan dalam keadaan sedang emosi, pasti akan frustasi." kata Kenza yang menyayangkan tindakan Daddy Alan dan Mommy Azra-nya.
"Tapi dia sudah keterlaluan, Za! Tidak sepantasnya dia mencelakaimu dan tidak sepantasnya dia mengatakan yang tidak pantas keluar dari mulutnya. Dia anak yang tidak tahu diuntung. Masih bagus aku mau menerima kehadiran. Jika bukan karena Azra tidak bisa memiliki anak lagi, aku tidak mau menerimanya yang tak jelas asal usulnya!" ujar Alan yang masih belum bisa meredakan emosinya.
"Alan!" sentak Mouza. "
Alan langsung terdiam. Mendadak suasana menjadi hening. Tak ada satupun orang yang berani untuk berbicara lagi.
"Kamu seharusnya bisa menerima Azra dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Jangan hanya mencintai kelebihannya saja tetapi cinta yang juga kekurangannya. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana Azra menyembunyikan rasa sakitnya selama ini. Apakah kamu pernah bertanya kepada Azra sakit yang dirasakan? Tidak kan, Lan? Kamu hanya melihat Azra yang selalu bahagia, tanpa tahu hatinya yang sebenarnya. Andaikan kamu jadi Azra, kamu tidak akan tega untuk memperlakukan pasanganmu seperti ini." kata Mouza dengan panjang lebar.
"Seharusnya kamu koreksi diri sebelum kamu menyalahkan kekurangan orang lain. Apakah kamu tahu bagaimana sulitnya Azra saat itu dan mengapa dia bisa keguguran yang pada akhirnya Azra tidak bisa mengandung lagi?" cecar Mouza pada Alan.
Semakin lama ucapan Mouza terus menampar Alan. Hingga Akhirnya Keanu memberi isyarat kepada Mouza untuk keluar saja. Karena jika dibiarkan, maka Mouza akan terus mengungkit apa yang telah terjadi di masa lalu. Dan itu tidak baik didengarkan oleh anak-anak mereka. "Sayang, sudahlah. Kita keluar ya."
__ADS_1
ππ