
Akibat percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Elena, membuatnya harus segera mendapatkan penanganan cepat dari tim medis. Terbaring lemah tak berdaya di sebuah kamar rawat inap di salah satu rumah sakit terbesar, membuat semua orang khawatir akan keadaan Elena yang belum sadarkan diri, meskipun sang dokter mengatakan jika Elena tidak apa-apa. Beruntung saja Elena cepat di bawa ke rumah sakit sehingga nyawanya masih bisa tertolong.
Sejak tadi Azra hanya bisa menangis dalam dekapan Alan. Meskipun dia bukanlah ibu yang melahirkan Elena, tetapi Azra telah menganggapnya seperti anak kandung sendiri. Hanya saja dia juga harus membagi cinta dan kasihnya pada Kenza, karena itu adalah syarat yang diajukan oleh Alan, tiga alat mengetahui jika Elena bukanlah anak kandungnya.
"Sudah, Elen gak apa-apa. Dia sedang istirahat. Mending kita menunggu diluar. Biarkan suster yang menjaga dia," kata Alan saat membujuk istrinya untuk keluar.
"Enggak, Lan! Aku masih ingin disini untuk menemaninya."
"Tapi disini kamu nangis terus. Mana ingus kamu lap ke bajuku. Aku nanti masih mau meeting, Zra!"
Azra yang menyadari kecerobohannya langsung melepaskan tubuhnya yang sedang diperlukan Alan.
"Iya maaf. Aku gak sengaja."
Di sana juga sudah ada Keanu dan juga Mouza yang turuti melihat keadaan Elena. Keduanya merasa sangat terkejut ketika mendapat kabar jika Elena masuk rumah sakit lagi. Padahal beberapa hari yang lalu Elena baru keluar dari rumah sakit. Dan kini masuk rumah sakit lagi.
"Sudahlah, Sayang. Mending kita keluar aja kayaknya udara didalam kamar ini semakin panas. Coba lihat itu wajah kamu saja merah karena karena kepanasan," ujar Keanu sambil melirik pada Alan dan juga Azra yang berada di sampingnya.
Mouza langsung memegangi pipinya yang biasa saja. Bahkan udara di dalam kamar biasa saja, tidak panas. Lalu mengapa suaminya mengatakan jika udah di kamar ini panas? Tangan Mouza pun segera memegang kening Keanu untuk memastikan apakah suaminya sedang sakit.
"Biasa aja," kata Mouza.
Namun, di lain sisi ada seseorang yang merasa tersindir dengan ucapan Keanu. Sebenarnya ucapan Keanu sedang ditujukan kepada Azra yang semakin merasakan pipinya yang terasa panas. Bahkan beberapa kali dia harus membuang nafasnya melalui mulutnya.
"Mending ajak suami kamu keluar aja deh Za, daripada di sini bikin ribet!" timpal Alan yang seakan sudah paham dengan sindiran Keanu.
"Baiklah, aku akan ajak suamiku keluar. Zra, nanti kalau Elena udah sadar kasih tahu ya." Mouza memberi pesan kepada Azra sebelum keluar.
"Iya. Nanti aku kasih tau."
__ADS_1
Diluar ternyata sudah ada Arshen dan juga Kenza yang sedang berada di ruang tunggu. Keduanya segera berdiri saat melihat Daddy dan Mommy berjalan mendekat ke arah mereka.
"Momm, bagaimana keadaan Elen?" tanya Kenza yang sejak tadi sangat mengkhawatirkan keadaan Elena.
"Elena gak papa. Untung ajak langsung segera dibawa ke rumah sakit kalau enggak mungkin nyawanya udah lewat. Dasar anak itu senang sekali bikin ulah. Kalau mau mati ya tinggal berdiri aja di depan rel kereta api nunggu kereta api lewat. Daripada kayak gini , bisanya cuma nyusahin orang hidup." Keanu memberikan jawaban atas pernyataan Kenza, buat anak dan menantunya hanya bisa saling menautkan alisnya.
"Dadd! Gak boleh ngomong kayak gitu. Mungkin saja saat ini Elena sedang berada di titik paling rendah sehingga dia tidak bisa berpikir dengan baik. Dalam keadaan seperti ini kita harus lebih memberikan perhatian untuknya!" tegur Mouza pada suaminya.
"Memangnya Elen kenapa, Momm?" tanya Kenza lagi.
"Elen mencoba untuk bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangannya. Untung saja Mommy Azra segera membawa Elen ke rumah sakit, jika tidak mungkin nyawa Elena sudah lewat," jelas Mouza.
"Mending tadi langsung lewat. Biar dia rasakan bagaimana rasanya mati," celetuk Keanu.
"Daddy!" sentak Mouza dengan merasa heran kepada suaminya yang sepertinya sangat tidak menyukai Elena. "Daddy kenapa sih kayak gak suka sama Elen? Kenapa ada apa? Apakah Daddy punya hubungan khusus dengan Elen?" Mouza pun akhirnya menodong suaminya dengan sebuah tuduhan .
Kenza yang sudah bisa melihat Daddy asal saja saat berbicara sudah tidak lagi merasa heran. Dengan helaan nafas panjang Kenza pun memilih untuk duduk disebuah bangku yang ada di ruang tunggu.
Namun, tanpa disadari oleh Kenza sepasang mata telah memperhatikan penampilan Kenza sejak tadi yang dianggapnya terlalu aneh. Bagaimana tidak disiang hari dengan hawa yang panas Kenza malah memakai syal di lehernya. Mata siapa lagi jika bukan mata sang Daddy.
"Za!" Mata Keanu menatap Kenza dengan tajam.
Kenza yang dipanggil langsung mendongak untuk menatap Daddy-nya. "Iya Dadd, ada apa?"
"Kamu sakit?" tanya Daddy lagi.
Kepala Kenza menggeleng dengan pelan. "Enggak Dadd. Eza enggak sakit. Kenapa?" Kenza merasa heran dengan pertanyaan sang Daddy pada dirinya.
"Lalu mengapa kamu memakai syal di siang hari seperti ini. Kamu gak gerah dan panas gitu. Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu agar orang lain tidak melihatnya?" tebak Daddy dengan jahil.
__ADS_1
Menurut pengalaman, Keanu sudah bisa menjawab mengapa Kenza memakai syal di siang hari jika dirinya tidak sedang sakit.
Mendadak tubuh dan Kenza membeku saat mendengar pertanyaan Daddy-nya. Bahkan untuk menelan salivanya saja terasa sangat sulit. Arshen yang berada di Kenza hanya menggigit bibir bawahnya.
"Za!" panggil Daddy. "Kamu kenapa?" desak sang Daddy untuk menjawab atas pertanyaannya.
"Dadd! Apaan sih! Bener kata Alan, Daddy itu emang harus pergi dari sini. Bikin ribet aja. Udahlah, ayo kita pulang aja!" Mouza merasa kesal dengan tingkah laku suaminya yang dianggap berlebihan.
"Apakah kamu sedang mengajakku untuk ke luar angkasa? Baiklah ayo kita ke luar angkasa dan menari bersama," balas Keanu sambil tertawa.
Kenza hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Dasar Daddy aneh!"
Sepeninggal orang tuanya Kenza menatap tajam ke arah Arshen yang duduk di sampingnya. Sungguh dirinya merasa sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Arshen tadi malam. Selain mencuri keperawanannya, Arshen juga meninggalkan jejak kesehatannya di leher Kenza. Karena ini adalah kali pertama mendapatkan gigitan vampir, Kenza sangat bingung untuk menghilangkan jejak tersebut, karena semakin digosok malah semakin memerah.
"Semua ini gara-gara kamu, Shen! Puas kamu kalau aku jadi bahan ledekan orang!" ketus Kenza pada Arshen.
"Ya maaf, Za. Kan aku udah bilang kalau aku khilaf. Jadi aku enggak sengaja saat menciptakan mahakarya di lehermu. Seharusnya aku membuatnya di dada kamu biar gak ada yang liat. Lagian kenapa sih Daddy kamu tuh kepo banget sih? Bisa-bisanya dia kepikiran untuk bertanya mengenai syal kamu. Heran deh sama Daddy model begituan," gerutu Arshen sambil membuang nafas kasarnya.
"Udah deh gak usah lempar kesalahan sama orang lain. Jelas-jelas ini salah kamu!"
"Iya aku tahu. Kan aku udah minta maaf kalau aku bener-bener nggak sengaja. Besok-besok enggak aku ulangi buat dileher deh!"
Seketika mata Kenza langsung membulat dengan lebar. "Apa kamu bilang, Shen?"
Arshen yang menyadari kesalahan dalam berbicara langsung mengunci mulutnya dengan. Bisa-bisanya dia kelepasan berbicara.
Nih mulut kenapa ember banget sih? Mudah-mudahan Eza gak menanggapi dengan serius. Ya kali aku enggak ulangi lagi, pasti akan aku ulangi dong. Aku kan pria normal. Arshen hanya bisa membatin dalam hati sambil mengulurkan helaan napas panjangnya.
...💜💜...
__ADS_1