Akulah Jodohmu

Akulah Jodohmu
BAB 41 : Siapa Dia


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Elena tersadar. Matanya mengerjap dengan pelan. Pertama kali yang dilihatnya adalah sosok Kenza yang sedang duduk didekatnya sambil menggenggam tangannya. Karena menyadari tangannya sedang digenggam oleh Kenza, Elena pun berusaha untuk menariknya dengan pelan. Namun, sepertinya pergerakannya dirasakan oleh Kenza.


"Elen, kamu udah sadar. Tunggu aku panggil Mommy dulu." Kenza langsung beranjak dari tempat duduknya untuk memanggil Mommy Azra.


Namun, tangan Elena langsung menahan tangan Kenza. "Gak usah!"


"Baiklah!" Kenza kembali duduk.


Hening untuk beberapa saat karena dua orang masih memilih untuk saling membisu tanpa kata.


Elena menatap lekat kearah Kenza yang duduk disampingnya. "Kamu pasti bahagia kan dengan keadaanku saat ini. Sekarang kamu bisa tertawa puas atas kenyataan yang menyedihkan ini kan, Za?"


Kenza sangat terkejut dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Elena. Padahal tak pernah terbesit dalam hati Kenza untuk menertawakan kenyataan yang ada di depan mata. Yang ada dia sangat mengkhawatirkan keadaan Elena. Karena bagi Kenza, Elena tetaplah adiknya. Terlepas tak ada darah Wijaya yang mengalir di tubuh Elena.


"El, sekalipun aku mengetahui kenyataan ini, aku tidak akan pernah menertawakanmu. Aku tidak tahu kenapa kamu bisa sampai membenciku terlalu dalam. Tapi sudahlah, aku tidak ingin membahas masalah itu. Kedatanganku kesini hanya ingin melihat dan memastikan kamu baik-baik saja. Lain kali jangan ulangi lagi kebodohan ini. Sekalipun kamu bukan darah daging Daddy Alan dan Mommy Azra, kamu tetaplah anak mereka."


Elena tersenyum getir mendengar ucapan Kenza yang seolah sedang menasehatinya.


"Tau apa kamu tentang itu. Katakan saja jika saat ini kamu sedang bahagia atas kenyataan ini. Sekalipun aku darah daging mereka, tetap saja Daddy Alan akan memprioritaskan kamu. Bagi Daddy Alan kamu adalah segalanya, karena kamu terlahir dari rahim mantan kekasih yang belum bisa dilupakan sampai sekarang. Puas kamu, Za!"


"Elen!" sentak Alan yang mendengar ucapan Elena.


Kenza hanya bisa menelan kasar salivanya saat melihat langkah Daddy si Alan-nya melangkah maju dengan tatapan yang menyala. Selama ini Kenza belum pernah melihat tatapan membunuh dari Daddy si Alan-nya itu. Namun, hari ini tubuhnya terasa bergemetar saat melihat sorot mata Daddy si Alan-nya.

__ADS_1


"Daddy benar-benar sangat kecewa denganmu, El. Meskipun kamu dididik dengan kasih sayang, tapi mengapa hati kamu bisa busuk."


"Kasih sayang yang mana, Dadd? Semua kasih sayang yang kalian miliki hanya kalian berikan kepada Eza seorang. Segala kebanggaan, segala pujian kalian berikan kepada Eza. Sementara untuk apa, Dadd? Jika dibandingkan dengan Eza, aku tidak apa-apanya. Selama ini aku mencoba untuk diam dan aku selalu mengalah saat aku selalu di nomor duakan. Jika Daddy sudah tidak ingin merawatku lagi, biarkan aku pergi dan mengurus diriku sendiri. Aku tidak memperlukan kalian lagi."


Azra hanya bisa mengelus dadanya. Rasanya ini mimpi buruk baginya. Bagaimana bisa dia melihat dua orang yang sangat dicintainya saling menyakiti. Alan dan Elena sama-sama keras kepala dan sama-sama tidak mau mengalahkan. Seharusnya ini tidak akan terjadi jika Azra bisa mendidik Elena dengan baik.


"Sudah cukup!" sela Azra yang merasa sangat muak. "El, Mommy tahu kamu sedang merasa sangat kecewa, tetapi tolong berbicara dengan sopan, Nak. Apa yang telah kamu ucapkan itu tidak pantas diucapkan kepada Daddy-mu. Jangan buat Mommy merasa semakin bersalah dan terus menyalahkan diri mommy karena telah gagal mendidikmu," lanjut Azra lagi.


Elena pun membisu. Namun, dia masih enggan untuk meminta maaf akan kesalahan yang telah dilakukannya.


"El, tolong buanglah pikiran jahatmu itu, Nak. Daddy dan Mommy sayang sama kamu. Kamu dan Eza itu sama di mata Daddy dan Mommy," lanjut Azra lagi.


Kali ini Elena tidak terima dengan ucapan Mommy. Jelas-jelas selama ini mereka lebih mengutamakan Eza ketimbang dirinya. Lalu apakah itu yang disebut sama. Tidak!


"Stop! Cukup omong kosong ini! Zra, tolong kamu nasehati dia!" Karena Alan terbakar amarah, dia memilih untuk meninggalkan kamar elena. Bisa-bisa anak perempuan seperti itu mengatakan jika dia masih menyimpan rasa kepada mantannya. Meskipun dulu sewaktu baru-baru menikah dengan Azra memang Alan perasaan kepada mantannya, tetapi setelah kepergian Azra dia sadar jika cintanya hanya untuk Azra seorang, ya meskipun sesekali rasa untuk mantannya muncul secara tiba-tiba. Namun, dengan kerjanya waktu rasa itu adalah begitu saja karena saat ini cinta Alan hanya untuk Azra.


"Dasar anak sialan! Bisa-bisanya dia kurang ajar kepadaku. Masih syukur selama ini aku mau menampungnya. Jika bukan karena Azra, mana mungkin aku mau menerimanya. Tapi lihatlah apa yang dia melakukan kepadaku. Sungguh anak tidak tahu di untung!" maki Alan yang telah meninggalkan rumah sakit.


Kini hanya ada tiga orang di dalam ruangan. Elena, Kenza dan juga Azra. Sepeninggal Alan, ketiganya memilih untuk membisu. Kenza memilih untuk duduk kesebuah sofa, sementara Azra sedang mengupaskan buah untuk Elena.


"El, bisakah Mommy bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Azrasambil memberikan buah apel yang telah dikupasnya.


Kepala Elena mengangguk dengan seraya mengambil buah apel yang telah disodorkan kepada dirinya.

__ADS_1


"Darimana kamu mengetahui jika Mommy Mouza adalah mantan kekasihnya Daddy. Padahal padahal selama ini Daddy dan Mommy menutup dengan rapat masalah itu. Tapi kamu kok bisa tahu. Kasih tahu sama Mommy, siapa yang memberitahu akan masa lalu Daddy. Mommy yakin ada seseorang yang berdiri di belakangmu dan mencuci pikaranmu. Siapa dia?"


Sebagai seorang wanita, insting Azra sangat kuat dengan pemberontakan yang dilakukan Elena.


Wajah Elena mendadak terlihat sangat gugup. Ternyata Mommy-nya begitu pandai dan peka.


"Tidak ada Momm. Elena tahu sendiri," ucap Elena dengan gugup.


"Jika kamu tahu sendiri, coba katakan dimana kamu mengetahuinya. Karena seingat Mommy, Mommy dan Daddy tidak pernah membahas masa lalu. Kamu jangan bohong, El!" desak Azra.


"Momm, maafkan Elen. Tak Elen melakukan ini kepada Mommy, tapi .... "


"Tapi apa?" Azra semakin merasa penasaran.


"Mommy bener. Memang ada seseorang yang mengatakan semua itu kepada Elen," jelas Elena.


Mata Azra langsung mendelik dengan lebar. "Siapa yang mengatakannya, El?" Azra mendesak lagi.


Kepala Elena menggeleng dengan pelan. "Elen gak tahu siapa dia, Momm. Tapi orang itu menceritakan kisah masa lalu Daddy dan Mommy."


Dada Azra seakan ingin berhenti untuk berdetak. Jadi selama ini pikiran Elena memang ada yang mencemarinya? Lalu siapa dia? Mengapa dia datang dan meracuni pikiran Elena? Apakah dia adalah orang dari masa lalu Alan?


...🌼🌼...

__ADS_1


__ADS_2