Akulah Jodohmu

Akulah Jodohmu
BAB 16 : Permintaan Kala


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Kenza langsung dipanggil oleh Daddy-nya untuk membahas masalah perjodohan. Namun, Kenza sedang tidak ingin membahas masalah itu dan memilih terlalu meninggalkan Daddy-nya.


"Sudahlah, Dadd! Jangan paksakan Eza. Nanti kalau dia gak ngambek dan pulang ke rumah Alan gimana? Masa kita yang punya anak, tapi Alan yang diakui sebagai orang tuanya." Mouza menasehati suami agar tidak memaksakan kehendaknya sendiri dan menghargai keinginan Kenza.


"Tapi usia Eza sudah matang untuk menikah. Lagi pula bukannya kamu juga sudah menginginkan untuk menggendong cucu? Diajak buat sendiri gak mau!" gerutu Keanu.


"Bukan tidak mau, tapi ingat umur Dadd. Tiga saja sudah cukup," balas Mouza.


"Terserah kamu saja!" Keanu pun lagi-lagi meninggalkan Mouza jika sudah membahas tentang perjodohan Kenza.


"Dadd, mau kemana!" teriak Mouza saat melihat Keanu ternyata meninggalkan rumah.


"Mau cuci mata." Keanu membalas teriakan Mouza.


Seketika kedua alis Mouza langsung menaut. "Ya udah sana cuci sampai akar-akarnya sekalian! Lihat aja, gak bakalan ada pintu masuk kamar nanti malam!"


🌼🌼


Baru saja Kenza ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba ponselnya berdering. Saat dilihat itu adalah panggilan dari Kala. Dahinya langsung mengkerut. Selama satu minggu kepulangan mengapa baru sekarang Kala menghubungi dirinya. Apakah Kala baru mengingatnya? Dengan rasa malas Kenza mengangkat panggilan tersebut.


"Halo!" ucap Kenza dengan Ketus.


"Za, bisakah kita bertemu malam ini? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Apalagi yang ingin kamu bicarakan denganku, Kal. Hubungan kita sudah berakhir dan tak perlu lagi ada yang dibicarakan. Aku capek, ingin beristirahat."


"Za, please. Untuk malam ini aja. Setelah itu aku tidak akan mengganggu lagi."

__ADS_1


Kenza berpikir sejenak untuk mempertimbangkan keputusannya. Sebenarnya terlalu berat untuk Kenza mengakhiri hubungannya dengan Kala. Namun, Kenza tidak ingin hanya demi Kala, hubungannya dengan Elena dan juga Daddy si Alan-nya akan rusak.


"Baiklah. Kita bertemu ditempat bisa!" setelah memberikan jawabannya Kenza langsung mematikan sambungan telepon dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Semoga saja keputusan ini telah benar. Maaf Kala, bukan aku tidak mencintaimu dan tidak ingin mempertahankan hubungan kita. Aku hanya tidak ingin keluarga kami hancur karena cinta kita. Aku tahu bagaimana sifat Elena. Dia tidak pasti akan berbuat nekat untuk memisahkan kita. Mungkin bukan kita saja yang akan dipisahkan oleh Elena, bisa jadi dia akan memisahkan aku dengan Daddy Alan. Dan jika sampai itu terjadi, aku harus apa. Daddy adalah segalanya untukku. Lebih baik aku kehilangan kamu, daripada aku kehilangan Daddy Alan." Kenza mengusap air mata yang telah membasahi kedua pipinya. Berusaha untuk kuat, meskipun sebenarnya hatinya sangat rapuh.


Masih dalam posisi yang sama, tiba-tiba dering ponsel Kenza berbunyi lagi. Kali ini Arshen yang memanggilnya. Namun, Kenza mengabaikan panggilan Arshen.


Karena merasa diabaikan oleh Kenza, Arshen tidak tinggal diam. Dia terus menghubungi Kenza dan terus mengirim pesan agar Kenza mengangkat panggilan teleponnya.


"Ck, nyesel aku membuat kerjasama dengan anak ini. Bukannya untung, tapi rugi besar. Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Ck, dasar licik!" gerutu Kenza yang pada akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan dari Arshen.


"Halo!" Lagi-lagi Kenza ketus.


"Akhirnya kamu angkat juga, Za."


"Ada apalagi sih? Aku sudah membersihkan apartemenmu dan sudah mengganti makanan yang telah aku makan. Terus kamu mau menuntut apa lagi dariku? Nyesel aku membuat kesepakatan denganmu. Kalau seperti ini ceritanya bukan aku yang membutuhkan kamu, tapi kamu yang membutuhkan aku. Padahal jelas-jelas aku sedang menuntut pertanggungjawabanmu karena telah menghancurkan ponselku. Tapi kok malah aku yang kamu perbudak. Ada apa?"


"Za, jangan galak-galak napa? Aku cuma mau ngajak kamu keluar malam ini. Kebetulan di alun-alun kota sedang ada pasar malam. Keluar yok!"


"Ogah! Memangnya kamu siapa ngajak-ngajak aku ke pasar malam? Kamu itu harus ingat jika kamu itu hanya sebatas pacar bohongan jangan bermimpi lebih deh karena aku tidak akan pernah tertarik padamu. Dan lagi ... malam ini aku juga sudah memiliki janji kepada seseorang. Jadi sorry aku gak bisa." Kenza menolak ajakan Arshen.


"Tapi Za—" Belum sempat Arshen menyelesaikan ucapannya, Kenza sudah mematikan sambungan telepon, membuat Arshen hanya mendengus dengan kasar.


"Baru kali ini aku ditolak mentah-mentah dengan seorang wanita. Ah, miris sekali hidupku. Padahal di luar sana banyak yang mengemis untuk bertemu denganku. Bisa-bisanya Kenza acuh denganku!" gerutu Arshen.


🌼🌼

__ADS_1


Sesuai dengan janjinya kepada Kala, malam ini Kenza bersiap untuk menemui mantan kekasihnya. Namun, saat hendak pergi rasanya sangat berat. Terlihat saat dicegah oleh Daddy-nya.


"Mau kemana?" tanya Keanu pada Kenza yang melewati Daddy-nya di ruang tengah.


"Mau bertemu dengan seseorang, Dadd," jawab Kenza.


"Siapa dia?"


"Daddy kenapa sih kepo? Memangnya harus ya aku kasih tahu semua teman-temanku pada Daddy? Enggak kan? Lagian kami udah lama gak ketemu jadi wajar dong kalau kami mau temu kangen. Daddy mau ikut?"


Keanu langsung melirik ke samping dimana ibu negara mengacuhkan dirinya sejak tadi.


"Enggak. Untuk apa Daddy ikut. Ya sudah pergi sana, tapi jangan malam-malam pulangnya!"


"Tenang saja, Eza tahu batasnya. Ya udah Eza pergi dulu."


Namun, saat menyalam tangan Daddy dan Mommy-nya, Kenza merasa ada yang aneh dengan sang Mommy. "Mommy kenapa cemberut? Lagi berantem sama Daddy ya? Duh ... so sweet banget sih, tua-tua masih suka berantem. Mommy lucu deh kalau lagi cemberut kayak gini. Iya kan Dadd?"


Keanu yang dimintai pendapat oleh Kenza hanya bisa menelan kasar salivanya. Dia tidak ingin menambah kekeruhan suasana.


"Sudahlah, jangan ganggu Mommy-mu. Sana pergi!"


Kenza tidak kuat untuk menahan tawanya. Sudah lama dia tidak melihat Mommy-nya ngambek. Kenza pun sudah yakin jika malam ini Daddy akan tidur di sofa.


"Oh ya Dadd, Eza lupa. Daddy mau dibelikan apa nanti buat menemani Daddy bergadang?" tanya Kenza yang sudah berada di ujung pintu.


"Kamu jangan kurang ajar, ya! Sudah sana pergi!"

__ADS_1


Lagi-lagi terdengar suara Kenza tertawa, membuat Mouza melemparkan bantal sofa kearah Keanu. Mata Keanu hanya bisa mendelik saat sang istri berlalu tanpa kata.


"Sayang, kamu kenapa sih?" teriak Keanu heran.


__ADS_2