
Bel apartemen Arshen berbunyi lagi. Dengan langkah malas Seno membukanya lagi. Dia berpikir jika yang memencet bel adalah Kenza.
"Apalagi sih? Bukannya kamu tadi mau pulang?"
Namun, saat menyadari jika sosok yang ada di depannya bukanlah Kenza, Seno langsung menutup mulutnya dengan rapat.
"Siapa yang kamu maksud, Sen? Apakah ada seseorang yang baru saja berjuang kesini?" tanya Deena yang celingukan untuk mencari seseorang. "Dimana Arshen?"
"Arshen sedang beristirahat dan tidak mau diganggu. Mending kamu pulang saja!" usir Seno kepada Deena.
"Enak aja kamu nyuruh aku pulang. Awas aku mau masuk!" Deena mendorong tubuh Seno agar tidak menghalanginya untuk masuk ke dalam apartemen milik Arshen.
Sesampainya di dalam Deena langsung mencari keberadaan Arshen. Namun, rasanya hanya percuma saja karena saat ini arsen berada di dalam kamarnya dan memang sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk juga dengan Deena.
"Shen, buka pintunya. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Arshen!" teriak Deena.
__ADS_1
"Woi ... ini bukan hutan! Jangan berteriak!" tegur Seno yang merasa terganggu dengan suara Deena.
"Ya udah makanya suruh Arshen keluar dari kamar! Jangan sampai aku keluarkan bonekaku ya!" ancam Deena.
"Bisa gak sih gak usah bawa-bawa boneka hantu itu? Dasar cewek aneh!" Karena Seno tidak ingin melihat boneka hantu yang dimiliki oleh Deena akhirnya dia membujuk Arshen untuk membuka pintu dan meladeni ocehan Deena.
"Shen, buka pintunya jika kamu masih ingin melihatku hidup. Aku tidak mau dimakan boneka hantu milik Deena! Shen, keluarlah!"
Seharusnya siang ini Arshen harus beristirahat dengan tenang karena nanti malam dia akan melakukan syuting kembali. Namun, semua rencananya gagal karena ada saja yang mengganggu dirinya untuk beristirahat.
Saat pintu kamar dibuka Arshen merasa muak dengan sosok yang ada dihadapannya saat ini. "Ada apa?" tanyanya dengan ketus.
"Lalu?" Arshen menautkan kedua alisnya.
Deena yang berstatus sahabat Arshen tersenyum lebar dengan kedua bola mata yang mengedip-edip.
__ADS_1
"Aku tidak tahu siapa dia, Shen. Jadi .... " Deena tidak melanjutkan ucapannya karena tanpa dilanjutkannya pun Arshen pasti sudah tahu apanya.
"Enggak! Aku enggak mau! Kamu cari sendiri aja!" tolak Arshen dengan cepat.
"Tapi aku benar-benar tidak tahu siapa dia, Shen. Kamu kan artis pasti banyak jangkauannya. Aku yakin itu tidak sulit bagimu untuk mencari informasi tentang dia. Ayolah Shen. Setelah ini aku tidak akan meminta bantuan lagi kepadamu, Shen! Ayolah Shen! Jika Calline bisa membantuku, aku juga tidak akan meminta bantuanmu." kata Deena.
"Ya udah. Seperti apa bentuknya?" tanya Arshen dengan malas.
Karena permintaannya disetujui oleh Arshen, Deena pun langsung memberikan ponselnya kepada Arshen dan menunjukkan sebuah foto seorang pria yang diam-diam diambil oleh Deena beberapa hari yang lalu saat tak sengaja bertemu dengan pria tersebut.
Saat melihat foto yang ada di ponsel Deena, Arshen tersedak karena terkejut dengan foto tersebut.
"Astaga inikah ... "
Deena yang tidak sabar untuk mendengar Arshen mengatakan siapa beda itu langsung memotong ucapan Arshen. "Siapa Shen? Kamu kenal sama dia?"
__ADS_1
Arshen hanya membuang napas beratnya. "Dia Kenzo, Dee. Temanku."
Deena yang mendengar jawaban Arshen langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Astaga ... benarkah? Mengapa selama ini kamu tidak pernah memberitahuku jika mempunyai teman seorang pangeran seperti dia sih, Shen! Kamu keterlaluan!"