
Tidak butuh waktu lama, Kenza telah sampai di sebuah taman tempat biasa Kenza dan Kala menghabiskan waktu sebelum Kenza pergi ke luar negeri. Bahkan di taman itu Kala Kenza. Tentu saja teman itu akan menjadi taman bersejarah untuk keduanya.
Mata Kenza pun langsung menangkap sosok Kala yang sedang duduk di sebuah bangku. Dengan cepat Kenza menghampiri Kala.
"Maaf sudah membuatmu menunggu," kata Kenza yang kemudian duduk di samping Kala.
Mata Kala memperhatikan wanita yang selama ini yang telah mengisi hatinya. Rasa rindu yang menggebu. Ingin sekali Kala memeluk wanita yang telah dirindukannya, tetapi Kala ingat jika Kenza telah mencampakkan dirinya hanya karena pria lain. Tentu saja dadanya terasa sangat panas, terbakar oleh api kecemburuan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kenza.
Kala mendengus dengan kasar. "Sebenarnya banyak, tapi aku hanya ingin mengambil intinya saja." Kala menjadi ucapannya sejenak karena rasanya sangat sesak di dalam dadanya.
"Za, apakah kamu sudah tidak mencintaiku? Apakah namaku di dalam hatimu ada yang menggantikannya?" tanya Kala dengan bibir yang bergemetar.
"Maksud kamu apa, Kal?" Kenza menautkan kedua alisnya.
"Kamu mengakhiri hubungan kita karena kamu telah mempunyai pria lain yang kamu cintai kan, Za? Kamu kenapa setega itu kepadaku, Za. Asal kamu tahu di sini aku menjaga baik cinta kita. Bahkan saat kedua orang tuaku memintaku untuk segera menikah, aku menolaknya karena aku menunggu kedatanganmu, Za. Tapi apa yang kamu lakukan kepadaku, Za? Dengan mudahnya kamu ke lain hati tanpa ingin memikirkan bagaimana perasaanku. Aku sangat mencintai kamu, Za."
Lagi-lagi Kenza tidak mengerti dengan tuduhan yang diberikan oleh Kala, karena Kenza merasa tidak mempunyai pacar baru.
"Kamu ngomong apa sih, Kal? Kamu mau nuduh aku kalau keputusanku mengakhiri hubungan kita karena aku telah memiliki pacar baru? Begitu maksud kamu kan? Kamu jangan ngarang deh, Kal. Ini enggak ada hubungannya dengan aku kelain hati, Kal!" jelas Kenza.
"Lalu apa alasannya, sehingga kamu dengan tekad mengakhiri hubungan kita yang sudah terjalin selama enam tahun, Za. Enam tahun itu bukan waktu yang sebentar Kenza!" Kala semakin terlihat frustasi saat memperlihatkan sebuah video kepada Kenza. Bahkan Kala juga menunjukkan sebuah foto di mana Kenza sedang berada di bandara bersama dengan seorang artis terkenal. Meskipun wajah Kenza tidak terlihat dengan jelas, tetapi Kala yakin 100% jika itu adalah Kenza. Dan yang membuat Kala sangat kecewa dengan Kenza adalah caption atas foto tersebut.
Mata Kenza langsung terbelalak dengan lebar saat melihat video dan foto yang berada di dalam ponsel Kala. Bahkan dia sampai menutup mulutnya karena kebersamaannya dengan Arshen ternyata ada yang mendokumentasikannya.
__ADS_1
"Ini kan ... " Kenza tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Apakah itu alasanmu untuk mengakhiri hubungan kita? Apakah benar jika kamu sudah menikah, Za?"
Kenza langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak! Ini berita tidak benar, Kal. Aku belum menikah."
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Angin pun berhembus dingin menusuk hingga ke tulang-tulang. Meskipun malam ini bulan bersinar dengan terang, tetapi tidak dengan hati Kala yang telah ditutupi dengan gelapnya rasa kecewanya. Cinta yang dia jaga selama ini ternyata harus kandas di tengah jalan karena Kenza telah menghianati cinta dan kepercayaan yang telah diberikan kepada Kenza selama ini.
Cinta bisa membutakan mata dan hati ketika cinta sudah tak terbalas. Cinta Kala yang terlalu besar kepada Kenza kini mampu menggelapkan hatinya.
Kenza tersentak saat tangannya ditarik oleh Kala. "Kal, apa yang kamu lakukan? Sakit, Kal!" teriak Kenza.
Namun, tak ada kata yang keluar dari mulut Kala. Pria itu langsung membawa Ganesha ke dalam mobilnya. "Jika aku tidak bisa mendapatkanmu, maka orang lain pun juga tidak bisa mendapatkanmu Za. Mending kita pergi yang jauh agar tak ada yang bisa memisahkan kita."
"Kala, sadar Kala! Bukan seperti ini caranya untuk menyelesaikan masalah, Kal. Jodoh kita ada di tangan Tuhan. Meskipun kita sudah lama bersama, jika lagi Tuhan tidak menampilkan kita untuk berjodoh, kita tetap akan berpisah, Kala!"
"Kala, kita mau ke mana? Turunkan kecepatan mobilmu ini sangat berbahaya untuk kita, Kala. Kala, kamu denger nggak sih!" teriak Kenza.
Astaga, apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan Kala. Apakah ini benar-benar Kala atau jelmaannya saja. Atau jangan-jangan Kala kemasukan penunggu taman tadi. Ya Tuhan ... tolong bantu sadarkan Kala.
Kenza tidak berani untuk membuka matanya. Kali ini dia benar-benar pasrah jika Kala mengajaknya untuk bertemu dengan malaikat Izrail. Namun, tiba-tiba Kenza teringat pada Arshen. Diam-diam Kenza menelpon Arshen, berharap dia bisa membantunya.
"Kala, kita mau kemana? Turunkan kecepatan mobilnya. Kita bisa celaka, Kala!"
"Aku tidak peduli. Bahkan jika sesuatu belum terjadi kepada kita aku ikhlas, asalkan aku bersamamu, Za!"
__ADS_1
"Kal, tolong turunkan kecepatan mobilnya dan kita bicara baik-baik, oke?" pinta Kenza dengan rasa ketakutan.
"Apakah setelah aku menurunkan kecepatan mobilnya, kamu tidak akan mengakhiri hubungan kita dan mau menikah denganku?"
Kenza hanya bisa menelan kasar salivanya. Bagaimana dia akan memberi jawaban kepada Kala. Sungguh sebuah pilihan yang sangat berat.
"Kenapa kamu malah diam? Kamu tidak mau menikah denganku karena kamu telah menikah dengan artis itu kan? Jika aku tidak bisa memilikimu, maka artis itu juga tidak akan bisa memilikimu juga, Za."
Arshen yang awalnya merasa heran dengan apa yang didengarnya kini dia paham jika saat ini Kenza sedang dalam bahaya dan sedang meminta tolong kepadanya. Bersama dengan Seno, Arshen mencoba untuk melacak keberadaan Kenza sambung teleponnya.
"Sen, kamu harus segera sampai dititik Kenza berada! Aku tidak mau terjadi sesuatu kepadanya!" perintah Arshen pada Seno.
"Iya ... iya. Aku tahu. Tapi ini jalanan macet, gimana mau cepat!" protes Seno.
"Cari jalan lain. Bodoh kok gak nambah-nambah!"
Dasar Arshen aneh. Sejak kapan dia mengkhawatirkan gadis bar-bar itu. batin Seno yang sekilas melirik kearah Arshen yang terlihat sangat khawatir.
Perjalanan malam yang begitu panjang. Bahkan sepanjang perjalanan Kenza tidak mematikan ponsel yang masih menelepon Arshen agar Arshen mengetahui keberadaannya melalui sambungan teleponnya.
Kini mobil yang dikendarai oleh Kala telah sampai di sebuah rumah yang berada jauh dari pusat kota.
"Kala ini dimana?"
"Ini di rumah impian kita. Bukankah kamu pernah bermimpi untuk memiliki rumah yang jauh dari pusat kota? Dan aku telah berhasil membuatkannya untukmu. Kamu suka kan?" Kala miliknya sebelum turun untuk membukakan pintu Kenza.
__ADS_1
"Disini hanya ada aku dan kamu. Kita akan menghabiskan waktu kita ditempat ini," lirih Kala saat membukakan pintu Kenza.