Akulah Jodohmu

Akulah Jodohmu
BAB 31 : Ingin Pensiun


__ADS_3

Kabar pertunangan Kenza pun juga telah sampai ke telinga Kala, yang baru saja dibebaskan oleh Alan. Namun, sebelum dibebaskan Alan memberi sebuah ancaman kepada Kala. Jika Kala berani menyentuh Kenza lagi, maka Alan akan tidak akan bisa bernapas lagi.


"Argh .... sial!" Kala membuang file-file yang berada di atas meja kerjanya.


Hatinya bener-bener sangat terbakar ketika mendengar kabar pertunangan Kenza dengan pria lain. Apalah arti dari 6 tahun kebersamaan jika pada akhirnya mereka tidak bisa hidup bersama.


Baru saja Kala ingin membantingkan laptopnya, seseorang berhasil menghentikannya. Dia adalah Deena, kakaknya Kala.


"Kala! Apa yang kamu lakukan!" bentak Deena.


Mata Kala langsung mengarah pada Deena yang berjalan menghampiri dirinya.


"Apa-apa ini, Kala!" sentak Deena saat melihat ruangan Kala berantakan.


"Kakak," lirih Kala dengan pelan. Perlahan tangannya mulai meletakkan kembali laptop di atas meja. "Kakak ngapain ke sini?" tanya Kala dengan heran.


"Terserah aku dong mau ngapain ke sini. Lagian kamu kemana aja sih selama tiga hari enggak pulang ke rumah. Papa dan Mama tuh sangat khawatir tahu! Untung aja aku bisa mengatasi mereka dengan mengatakan kalau kamu sedang keluar kota untuk masalah pekerjaan. Kala, kamu sedang punya masalah?" tanya Deena yang juga mengkhawatirkan keadaan adiknya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja


Helaan nafas panjang keluar dari mulut Kala. kakinya pun langsung melangkah ke sebuah sofa.


"Apakah kamu sedang bertengkar dengan pacar kamu yang berada di luar negeri itu?" tanya Deena mulai menebak.


"Bukan bertengkar, tapi berakhir!" kata Kala dengan malas.


"Hah? Kok bisa? Apakah dia selingkuh dengan bule? Kan aku udah sering bilang sama kamu hubungan jarak jauh itu enggak enak, Kal. Kamu sih ngeyel! Baru tahu kan rasanya diselingkuhin!" celoteh Deena.

__ADS_1


Mata Kala menatap lekat pada kakaknya yang asal berceloteh tanpa tahu sebuah kebenarannya terlebih dahulu.


"Sok tahu!" ketus Kala.


"Terus apa dong?" Deena semakin penasaran dengan kandasnya cinta sama adik yang sudah berjalan selama 6 tahun lamanya. Namun meskipun begitu Deena tidak pernah tahu siapa sosok yang telah berpacaran dengan adiknya selama 6 tahun lamanya. Bahkan selama ini mereka hanya LDR.


"Ah ... udah ah, gak usah dibahas lagi!" kesal Kala jika mengingat mengapa hubungannya dengan Kenza harus berakhir.


"Ya udah, aku gak mau paksa kamu untuk bercerita tentang alasan mengapa hubungan kalian bisa kandas. Aku cuma mau bilang jangan berbuat gila hanya karena seorang wanita. Diluar sana masih banyak wanita yang bisa kamu ajak untuk berlabuh. Kamu itu tanpa dan kaya, jadi tidak susah untuk mencari pengganti pacar yang udah ninggalin kamu. Percayalah jodoh itu gak akan kemana." Deena berusaha untuk menasehati Kala yang sedang patah hati.


Kala tersenyum getir. Sang kakak bisa saja berbicara seperti itu karena dia tidak merasakan apa yang sedang dirasakan saat ini. Kehilangan cinta yang sudah lama dibangun tidaklah mudah layaknya membalikkan sebuah telapak tangan. Pasti rasa nyeri itu akan membekas, terlebih Kala sangat mencintai Kenza.


🌼🌼🌼


"Za, aku nggak tahu bagaimana reaksi kamu jika mengetahui jika aku adalah orang yang sedang dijodohkan oleh Daddy kamu. Sebenarnya aku tidak ingin membohongimu, tapi semua ini berjalan begitu saja. Aku yakin jika kamu adalah jodohku. Buktinya sekuat apapun kamu menghindar pada akhirnya kamu kembali kepadaku. Apa susahnya sih nurut sama orang tua!" Arshen masih memikirkan bayangan Kenza saat malam pertunangan yang terlihat begitu cantik.


"Shen kontrak dengan salah satu rumah produksi ada yang sudah akan berakhir. Apakah kamu ingin memperpanjangnya atau tidak. Tapi dari rumah produksi itu berharap jika kamu masih mau memperpanjang kontrak. Bagaimana keputusanmu, Shen?" tanya Seno yang menyerahkan sebuah berkas kepada Arshen.


"Aku tidak ingin memperpanjang kontrak dengan pihak manapun karena setelah ini aku ini aku ingin pensiun menjadi artis. Aku ingin terjun ke perusahaan milik Daddy," ucap Arshen dengan santai.


"Kamu serius dengan keputusanmu ini, Shen?" tanya Seno untuk memastikan lebih jelas.


"Aku serius, Sen. Aku juga sudah puas menghabiskan masa mudaku. Semua mimpiku sudah tergapai. Dan kini saatnya aku mengurus perusahaan milik Daddy."


"Tumben pikiranmu bersih, Sen. Apakah Kenza sudah menyapu seluruh isi dari otakmu?" Seno mencibir.

__ADS_1


"Ya, mungkin saja. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Kenza. Berada dalam lingkup entertainment setelah menikah aku rasa tidak baik untuk Psikologi-nya Eza. Kamu tahu sendiri kan aku ini artis paling tampan dan banyak penggemarnya. Aku takut Eza cemburu dan pada akhirnya hubungan kami berantakan," jelas Arshen.


"Iya juga sih, secara Kenza itu gadis bar-bar. Kamu gak nyesel untuk nikahin dia, Shen?"


"Untuk apa menyesal? Aku sudah menunggunya selama hampir 20 tahun. Ya, meskipun saat ini Eza belum bisa mengingat siapa aku, tapi aku yakin suatu saat dia pasti akan bisa mengingatku lagi. Kalau pun tidak bisa mengingatku lagi, maka kau akan mengulang waktu yang telah kami lalui bersama semasa dulu. Hidup itu jangan dibuat tegang, cukup itu saja yang tegang!"


Seno langsung bergidik geli mendengar ucapan Arshen yang terlihat semakin dewasa. "Ah, sudahlah. Mentang-mentang sudah mau menikah pembahasan kamu agak lain!" Seno pun akhirnya meninggalkan Arshen yang sedang bersiap untuk melakukan pemotretan.


Disisi lain Kenza bersama Grace berkeliling mall sekedar membuang rasa jenuhnya. Grace adalah salah satu sahabat Kenza. Bahkan saat Kenza mengatakan ingin pulang ke Indonesia, Grace langsung sigap untuk menjemput Kenza di Bandara. Namun, saat ditinggal ke toilet, ternyata Kenza malah hilang.


"Za, kamu serius ingin menikah dengan Arshen dalam waktu dekat? Bukankah kamu masih ingin menghabiskan masa mudamu dan sama sekali belum tertarik untuk menikah? Jikapun kamu menikah, seharusnya orang yang menikah denganmu itu adalah Kala, bukan Arshen." Grace menanggapi tentang Kenza yang sudah resmi bertunangan dengan Arshen.


Kenza tertawa pelan. "Kamu tidak usah khawatir tentang masalah itu karena jika pun aku menikah dengan Arhsen itu hanya sebatas pernikahan sandiwara saja. Aku sama sekali tidak mencintai Arshen. Alasan mengapa aku mau menikah dengannya karena aku ingin terlepas dari perjodohan yang telah ditentukan oleh keluargaku. Memangnya kamu mau aku menikah dengan pria cacat? tidak kan?" terang Kenza.


"Astaga ... Eza! Kamu jangan gila deh! Pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral. Kamu nggak boleh main-main dengan pernikahan. Jika bisa menikah itu hanya sekali dalam seumur hidup!" Grace merasa terkejut dengan pengakuan Kenza.


Kenza langsung menekuk wajahnya. Tiba-tiba sekelibat bayangan wajah seseorang melintas di dalam kepalanya. Kata-kata Grace seakan menggema di kepala Kenza. Sepertinya Kenza pernah mendengar kata-kata tersebut tetapi dia tidak bisa mengingat siapa yang telah mengucapkannya.


Tangan Kenza langsung memegang kepalanya yang kini terasa sangat sakit. "Aduh... sakit." Kenza meringis kesakitan.


"Eza, kamu kenapa?" Grace terlihat sangat panik ketika Kenza terus meringis kesakitan.


"Aduh, gimana ini? Za, kamu kenapa?"


"Aku gak tahu, Grace. Tapi kepalaku rasanya sakit sekali."

__ADS_1


__ADS_2