
Semua orang merasa lega dan bersyukur ketika Kenza sudah sadar. Tak terkecuali Arshen. Pria itu merasa sangat bahagia luar dalam karena setelah bangun, tiba-tiba Kenza telah mengingatnya. Padahal hampir dua puluh tahun Kenza melupakan dirinya sebuah insiden terjatuh dari tangga. Namun, hari ini semua memori tentang Arshen telah kembali.
Sesuai keinginan Kenza, saat ini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Tanpa kata, keduanya hanya saling bersitatap. Senyum indah layaknya bulan sabit mengembang luas di bibir Kenza. Sejenak dia melupakan masalah yang sedang dihadapinya.
"Shen, aku minta maaf," ujar Kenza dengan mata yang masih menatap Arshen.
"Kamu gak usah minta maaf. Semua ini bukan salah kamu, Za. Terima kasih kamu sudah bisa mengingatku lagi. Ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa yang ku panjatkan setiap malam."
Kenza tersenyum kecil. Namun, seketika dia menarik lagi senyum dibibirnyanya saat bayangan di kepalanya merekam kejadian mengapa dia bisa sampai terjatuh saat itu Bahkan meskipun sudah hampir 20 tahun rasanya seperti baru kemarin insiden itu terjadi.
"Za, kamu kenapa? Apa yang kau merasakan, Za? Aku panggilkan dokter dulu ya." Arshen terlihat sangat panik ketika melihat orang wajah dan Kenza telah berubah.
Kenza menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Shen, enggak usah!"
"Tapi aku takut terjadi sesuatu kepadamu, Za. Aku panggilkan dokter dulu, ya."
"Arshen, aku nggak papa. Aku hanya merasa ada tangan yang mendorongku saat itu."
"Maksud kamu, Za?"
Kenza pun kini bisa apa yang terjadi saat itu dan mengapa dirinya bisa sampai jatuh dari tangga. Pengakuan Kenza di dengar oleh beberapa orang, termasuk Alan Alan dan juga Azra.
Keduanya tidak saling berpandangan. Tidak mungkin Kenza membuat pengakuan dusta. Terlebih saat ini memorinya yang hilang telah kembali.
"Mengapa Elena begitu sangat jahat?" Azra menggelengkan kepalanya dengan dada yang terasa sesak.
Sudah tidak diragukan lagi siap pelakunya, karena di rumah itu hanya ada mereka berdua.
"Sepertinya Elena harus diberi pelajaran dan harus bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan kepada Eza," sambung Alan.
"Dadd, jangan!" Eza menahan.
__ADS_1
"Za, dia hampir saja menghilangkan nyawa kamu saat itu. Dia harus bertanggung jawab. Bagaimana jika saat itu kamu tidak bisa diselamatkan? Eza, apa yang ditanam seseorang harus dia tuai. Jangan bisanya hanya meneanam aja." Kata Alan sambil melirik kearah Keanu.
Menyadari ucapan Alan yang seakan sedang menyindir, Keanu langsung menyahut. "Kamu lagi nyindir aku, Lan?"
"Enggak! Apakah ucapanku seperti sedang menyindir Abang Ke? Aku hanya mengungkapkan sebuah peribahasa, Bang."
"Ngeles terus!" cibir Keanu.
"Oh, jadi Abang Ke merasa tersindir? Syukurlah, berarti Abang Ke memang merasa hanya suka menanam kan?"
"Sudahlah, kalau kalian mau ribut mending kalian keluar! Disini Eza mau istirahat!" geram Mouza yang harus mendengarkan keributan jika dua orang kakak beradik sudah bersama.
Seketika dua orang dengan sebutan Daddy itu langsung terdiam.
Helaan nafas panjang terdengar begitu berat. Azra tidak pernah menyangka jika anak yang dibesarkan dengan tangannya serta kasih sayangnya mampu mencelakai orang lain. Azra sangat kecewa kepada Elena. Sebuah kesabaran untuk tetap diam sudah tidak bisa ditahan lagi. Mungkin ini saatnya Azra mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama berpuluh-puluh tahun dia sembunyikan.
"Zra, mau kemana?" tanya Mouza saat melihat Azra beranjak pergi.
"Mommy!" Kenza mencegah lagi.
"Kamu tenang aja, Mommy tidak akan menyakiti Elena. Mommy hanya akan membawa Elena kesini untuk meminta maaf kepadamu. Kamu jangan khawatir, ya."
Rasa kecewa begitu mendalam, hingga rasanya ingin menyerah karena telah gagal untuk mendidik Elena. Selama ini Azra mencoba untuk memberikan semua yang terbaik kepada Elena, berharap gadis itu bisa menyinari hidupnya yang tak bersinar lagi.
Dengan langkah gontai, Azra menyusuri lorong rumah sakit. Dia sudah menghubungi Elena dan ternyata saat ini anak itu sudah kembali ke kantor. Dari belakang, Alan terus mengekori langkah istrinya. Alan tahu saat ini istrinya sedang kecewa pada Elena.
"Lan, tidak usah mengikutiku. Aku sedang ingin sendiri," ujar Azra.
Alan tidak peduli. Dia langsung menahan lengan Azra. "Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Lan ... aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa mendidik Elena dengan baik. Jika kamu ingin marah, marahlah kepadaku."
__ADS_1
"Sudah aku katakan jangan menyalahkan diri sendiri! Tentang Elena, sepertinya kita harus memberitahu kenyataan yang sebenarnya agar dia tidak ngelunjak."
🌼🌼
Karena keadaan Kenza sudah baik-baik saja, hari ini Kenza sudah bisa dibawa pulang. Arshen masih setia menemani Kenza pulang ke rumahnya.
Sesampainya di kamar Kenza, Arshen harus mengerutkan dahinya manakala melihat sebuah foto yang berada di atas meja. Bagaimana bisa Kenza masih menyimpan fotonya bersama dengan Kala.
"Za, apakah kamu masih memiliki rasa untuk Kala?" tanya Arshen tiba-tiba.
"Tidak. Kenapa memangnya?"
"Jika tidak, lalu mengapa kamu masih menyimpan foto mesra kalian berdua?"
Kenza langsung mengambil sumber masalah dan membuangnya ke tempat sampah. "Aku hanya lupa saja untuk menyimpannya Eh, maksud aku membuangnya. Sudah bereskan?"
"Oke. Aku percaya. Tapi ngomong-ngomong aku penasaran mengapa kamu bisa jatuh cinta kepada Kala hingga 6 tahun lamanya. Padahal dulu kamu bilang hanya akan mencintaiku saja saat kamu dewasa. Tapi nyata kamu berbohong. Selama aku tidak ada di Indonesia, kamu malah mencintai orang lain. Dan lebih parahnya sampai 6 tahun," ujar Arshen.
"Ya mau gimana lagi, Shen! Saat itu aku benar-benar tidak mengingat apa-apa tentang kamu. Jadi aku jatuh cinta sama orang lain. Tapi sekarang aku udah ingat semuanya kok."
"Jadi kamu nggak jadi kan batalin pertunangan kita? Kita jadi kan nikahnya?"
Kenza menautkan kedua alisnya. "Jangan bilang kamu sekongkol lagi dengan Daddy?"
Arshen hanya meringis manakala tebakan Kenza benar. Dia dan calon mertuanya memang sengaja menginginkan pernikahannya dipercepat.
"Tuh kan ... nyebelin banget sih kamu, Shen!"
"Maaf. Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, Za. Jadi gimana, kamu masih mau melanjutkan pertunangan kita kan? Kalau kamu enggak mau, kamu dosa lho."
"Tergantung kamu sih! Kalau kamu masih suka bersekongkol untuk membohongiku, aku enggak mau. Kamu nikah aja sama Daddy!"
__ADS_1
Arshen langsung mendelik. "Hah?! Kamu jangan ngaco, Za! Aku ini pria normal, bukan pelangi!"