
Ketelah semua orang membubarkan diri kini hanya tinggal Kenza dan kedua orang tuanya. Sebenarnya pagi ini Keanu ada rapat penting di kantor, tetapi dia menyerahkan semuanya kepada Kenzo untuk mengatasi rapat tersebut.
Hening untuk beberapa saat karena Kenza hanya memainkan ponselnya tanpa ingin menatap Daddy-nya yang tadi mengatakan ingin berbicara kepada dirinya. Mouza yang menyadari ada yang tidak beres langsung menegur Kenza.
"Za, kamu dengar kan kalau Daddy ingin berbicara sebentar dengan kamu? Bisa tidak main hp-nya nanti aja?"
Kenza mendengkus kasar kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Matanya langsung menatap ke arah sang Daddy. "Daddy mau ngomong apa?" Kenza berbicara dengan nada ketus karena masih kesal dengan kebohongan yang dilakukan Daddy-nya.
"Kamu kok gitu jutek gitu sih, Za? Ada apa?" tanya Keanu heran.
"Eza lagi gak mood, Dadd. Daddy mau ngomong apa? Langsung aja pada intinya," ujar Kenza.
Keanu membuang nafas kasarnya. "Oke. Daddy akan to the poin aja. Minggu depan adalah hari pernikahanmu dengan Arshen!"
Mata Kenza langsung membulat dengan lebar. "Hah?! Apa?"
Bukan hanya saja yang terkejut dengan ucapan Keanu, tetapi Mouza sebagai ibunya saja juga sangat terkejut, karena Keanu tidak mengatakan apa-apa sebelumnya. "Cepet banget, Dadd?" tanya Mouza.
"Ya. Itu karena permintaan dari grandpa-nya Arshen. Mereka ingin melihat Arshen menikah sebelum mereka dipanggil oleh malaikat. Sama halnya seperti kakek dulu," jelas Keanu.
"Tapi Eza gak mau, Dadd! Eza juga mau batalkan pertemanannya dengan Arshen!"
Lagi-lagi Mouza harus dibuat terkejut dengan ucapan anaknya. Ucapan suaminya saja belum bisa meresap, sudah ditambah lagi ucapnya anaknya yang ingin membatalkan pertunangannya.
"Aduh ... kenapa tiba-tiba kepalaku jadi berkunang-kunang, ya. Kalian sih pagi-pagi udah bikin drama!" Mouza mengambil air putih yang ada di depannya.
Empat mata saling bersitatap dengan tajam. Keanu sudah mengetahui jika sandiwara yang sedang dilakoninya telah terbongkar. Dia juga sudah tahu jika Kenza tidak akan melanjutkan pertunangannya dengan Arshen karena merasa telah dibohongi. Maka dari itu dia sudah memasang senjatanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Keanu terlihat panik ketika istrinya mengadu kesakitan.
"Mendadak kepalaku terasa pusing karena mendengarkan drama kalian," ucap Mouza.
"Ini bukan drama, Sayang. Tapi ini permintaan dari keluarga besar Arshen. Kakek neneknya ingin melihat Arshen duduk di pelaminan bersama dengan Eza, sayang."
__ADS_1
"Tapi Eza gak mau Dadd! Daddy sama Arshen udah sekongkol untuk membohongi Eza. Mengapa Daddy enggak bilang kalau ternyata Arshen itu adalah orang yang sedang Daddy jodohkan dengan Eza? Eza benar-benar sangat kecewa dengan Daddy!" Kenza pun langsung meninggalkan meja makan dengan perasaan yang kesal. Namun, saat hendak menaiki anak tangga, kaki Kenza terpeleset dan langsung terjatuh. Kepala Kenza pun langsung membantu lantai.
"Eza!" teriak Keanu saat matanya telah melihat Kenza tergeletak di lantai.
"Eza!" Mouza pun juga berteriak.
🌼🌼🌼
Kabar jatuhnya Eza pun telah sampai di telinga Arshen. Dengan penuh kekhawatiran gerak itu langsung meninggalkan lokasi syuting untuk ke rumah sakit melihat keadaan Kenza. Bagi Arshen nama besarnya tidak penting jika dibandingkan dengan Kenza. Apapun akan Arshen lakukan untuk Kenza.
Bukan hanya Arshen saja, tetapi Kala yang mendengar kabar tentang Kenza juga langsung meninggalkan rapat di kantornya.
"Kala, aku ikut!" kata Greya saat mengejar langkah Kala.
Sebuah anggukan kepala sebagai jawaban Kala. "Ya udah ayo! Bagaimana ceritanya Kenza bisa masuk rumah sakit?"
"Kata Grace, Kenza terpeleset saat mau naik ke tangga."
"Terus sekarang bagaimana keadaan Kenza?"
Semoga orang sangat mengkhawatirkan keadaan Kenza. Bahkan Azra pun juga langsung pergi ke rumah sakit saat mendengar kabar jika Kenza masuk rumah sakit. Tidak lupa dia juga menelepon Alan dan Elena untuk memberikan kabar tentang Kenza.
Jika hari-hari biasa Elena memilih untuk menghindar dari Kenza, tetapi untuk tidak hari ini. Hari ini dia sengaja datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan sepupunya itu. Bahkan Elena berharap keadaan Kenza tidak baik-baik saja.
"Apakah aku harus merayakan kabar bahagia ini? Semoga saja nyawanya tidak tertolong lagi!" gumam Elena saat mengendarai mobilnya.
Elena adalah satu-satunya orang yang merasa sangat bahagia dengan kabar Kenza jatuh dari tangga. Karena jika Kenza tidak ada, maka tidak akan ada saingannya untuk mendapatkan cinta dari orang-orang terdekatnya, termasuk cintanya Kala.
Tidak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh Elena telah sampai di salah satu rumah sakit terbesar di kotanya. Matanya menatap gedung tinggi. Gedung yang sama saat 20 tahun yang lalu didatanginya. Bibirnya tersenyum lebar saat melangkah masuk kedalam. Namun, dari arah belakang tubuhnya disenggol oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja,"ujar seorang wanita yang menabrak Elena.
Elena pun langsung melepaskan kacamatanya. Dia tidak terima dengan wanita yang menabrak dirinya meskipun sudah meminta maaf.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, tidak sengaja?" Elena menaikkan pita suaranya.
Wanita yang tak lain adalah Greya benar-benar tidak sengaja menabrak Elena karena dia sedang terburu-buru.
"Aku tidak mau memaafkanmu," kata Elena dengan angkuh.
"Aduh ... aku memang tidak sengaja menabrakmu. Jika pun aku sengaja aku pasti akan menabrakmu dengan kuat. Sudahlah, dasar cewek arogan!" cibir Greya yang tidak ingin menanggapi Elena lebih lanjut.
Elena benar-benar tidak terima jika diajukan begitu saja. Dia pun langsung mengejar langkah Greya yang mulai menjauh darinya
"Hai .. tunggu kamu! Urusan kita belum selesai!" teriak Elena.
Greya yang menyadari jika saat ini sedang dikejar oleh wanita arogan, dia pun malah lari dengan kencang. "Astaga mengapa di dalam rumah sakit sebagus ini ada jenis hewan Belgian Malinois sih? gerutu Greya.
Sesampainya di depan lift, beruntung saja dia masih ditunggu oleh Kala sehingga bisa meminta perlindungan kepada atasannya itu.
"Kamu kenapa seperti sedang dikejar hantu seperti itu, Grey? Apakah kamu baru saja bertemu dengan hantu?" tanya Kala dengan heran.
Greya berusaha untuk menetralkan nafasnya yang terengah-engah. "Bukan hantu Kal, tapi ..." Belum sempat Greya memberikan penjelasannya suara teriakan membuat Kala langsung menautkan kedua alisnya. Dengan jeli dia melihat siapa yang sedang berlari mendekat ke arahnya.
"Haii... tunggu!" teriak Elena.
Namun, saat melihat wanita yang sedang dikejarnya berdiri di samping seseorang yang sangat dikenalinya, tiba-tiba Elena langsung memperlambat langkahnya.
"Itukan Kala," ucapnya dengan pelan.
Langkah Elena yang kian mendekat membuat Kala langsung melemparkan pertanyaan. "Kalian lagi main kejar-kejaran?"
Greya langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak! Jadi ceritanya tuh aku nggak sengaja kenapa dia, karena lagi buru-buru. Terus aku minta maaf. Dia malah nyolot gak terima. Katanya aku sengaja nabrak dia. Padahal kenal pun juga nggak. Kan aneh. Ya udah aku tinggal pergi aja. Gak taunya dia malah ngejar aku. Entah apa maunya." Greya mengadu kepada Kala.
"Benar itu, El?" Kini Kala bertanya kepada Elena yang sudah mendekat.
Greya merasa terkejut karena ternyata Kala mengenali wanita ganas yang baru saja mengajar dirinya.
__ADS_1
"Aku ... " Elena merasa gugup saat menjawab pertanyaan dari Kala. Namun matanya tetap fokus kepada wanita yang sedang berdiri di samping Kala.